Tak Masuk Fakultas Favorit, Sastra pun Jadi





Banyak calon mahasiswa baru lebih memilih fakultas lain daripada fakultas Sastra. Kebanyakan beralasan prospek masa depan lulusan FS tak jelas. Akibatnya nasib fakultas ini pun menjadi suram.

Penulis : Wiwik Hidayati
Reporter : Endah Kurniawati, Nila Diana W, Rose KN, Tari Aprilia.

FAKULTAS Sastra ramai meskipun mahasiswa yang tampak mondar-mandir hanya beberapa. Hari itu 6 dan 7 Juli 2005. Ruangan yang biasanya digunakan untuk kegiatan perkuliahan dialihfungsikan untuk ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).
Wajah-wajah asing memenuhi lokasi ini. Berbagai usia, laki-laki maupun perempuan, ada di sana. Ekspresi cemas tampak dari raut muka mereka. Mereka adalah peserta SPMB yang ujian hari itu. Selebihnya adalah anggota keluarga mereka.
Tak hanya di Fakultas Sastra, keramaian serupa juga terlihat di berbagai fakultas lain di Undip, baik di Pleburan maupun di Tembalang. Beragam jawaban yang mereka berikan ketika ditanya tentang Fakultas Sastra.
Muhammad Yusron, alumni Madratsah Aliyah (MA) Qudsiyyah Kudus, misalnya, lebih memilih Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Semarang (UNNES). Dalam pandangannya, ilmu yang didapat dari kuliah di Fakultas Sastra tak bisa mendidik murid. Masih absurd. Yusron tahu hal ini dari kakaknya.
Sedangkan Sari Anggun Wijayanti, memilih Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan (IESP) Undip dan Akuntansi Universitas Soedirman (Unsoed). Alasannya, “Peluang kerja dikit. Kalau Jurusan Ekonomi peluang kerja lumayan banyak.” Anggun adalah lulusan SMAN 4 Tegal.
Alif, Sandi, dan Hesti, yang juga tidak memilih FS, masing-masing beralasan, “Saya sebenarnya pengen banget ke Sastra Inggris, tapi orang tua saya nggak ngijinin,” Kata Alif, lulusan MAN 1 Kendal. Sedang Sandi dari Grobogan, Purwodadi, tak berminat karena tujuannya memang ke UNNES, terutama pada jurusan-jurusan Eksakta. Hesti, yang satu kota dengan Sandi, menganggap sastra itu sulit makanya ia tak pilih sastra.
Fakultas Sastra tak hanya sepi peminat dalam SPMB. Jalur alternatif masuk Sastra, Program Studi (Prodi) DIII mengalami nasib serupa. Setidaknya itulah simpulan yang bisa ditarik dari pemandangan yang tampak pada pendaftaran gelombang pertama Prodi DIII.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pendaftaran gelombang pertama Prodi DIII digelar di Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Joglo. PKM Joglo terletak di depan gerbang utama kampus Pleburan. Tepatnya, sebelah kanan Bank Indonesia. Di sana stan-stan program Diploma (DIII) seluruh fakultas di Undip dibuka. Tak terkecuali untuk DIII Fakultas Sastra yang meliputi DIII Inggris, Jepang, Kearsipan, dan Jurusan Perpustakaan dan Informasi (Perpin). Mereka tergabung dalam satu stan. Pendaftaran gelombang pertama dibuka tanggal 27 Juni dan ditutup tanggal 22 Juli 2005.
Salah seorang yang mampir di stand Prodi DIII Fakultas Sastra adalah Fitri. Ia mengambil leaflet untuk adiknya yang baru lulus dari SMA 6 Semarang tahun ini, Wulansari. Saat SPMB, Wulansari memilih Teknik Kelautan sebagai pilihan pertama dan ilmu komputer sebagai pilihan kedua. Alasan pilihan pertama Teknik Kelautan, kata Fitri, ”Kalau saya lihat, prospek bagus ke depan. Batas wilayah lagi in”.
Keduanya datang ke tempat itu untuk melakukan survei. Khawatir tak lulus SPMB, Wulansari mendaftar Prodi DIII. Untuk jaga-jaga. Meskipun mengambil leaflet Sastra, ia tetap kukuh mendaftar di Fakultas Teknik. Kenapa tak memilih Sastra, “nggak pengen aja,” kata Wulansari, gadis asal Gunungpati, Semarang.
Di SMA 6, tempat Wulansari menuntut ilmu, dibuka Jurusan Bahasa. Tapi peminatnya sangat sedikit. Menurutnya, Sastra hanya mempelajari bahasa sehari-hari mengenai pergaulan. Sedangkan sepengetahuan Fitri Sastra itu mempelajari literatur bahasa dan tata bahasa.
Lain halnya dengan Atrin, lulusan SMA Masehi Semarang tahun 2004. Alasannya lebih memilih DIII Pertanahan Fakultas Ilmu Politik dan Pemerintahan (FISIP), “Kuliah di FISIP lebih dipandang orang”. Pilihannya ini atas inisiatif sendiri. Setelah lulus DIII, ia ingin melanjutkan ke Strata 1.

GAMBLANG sudah bahwa banyak alasan yang mendasari calon mahasiswa baru tak memilih Fakultas Sastra. Mulai soal prospek kerja sampai soal prestis. Wajar jika jurusan yang dilirik adalah jurusan yang punya “masa depan jelas” dan karenanya harus bersifat praktis.
Fakultas Sastra jelas tak termasuk jurusan dengan kategori ini. Tak bisa dipungkiri bahwa jurusan-jurusan yang ditawarkan Fakultas Sastra, jurusan Sastra Indonesia misalnya, berorientasi pada keilmuan. Tak pelak, lapangan kerja lulusan jurusan Sastra Indonesia tak bakal jauh dari sektor yang berbau keilmuan.
Hal ini dikukuhkan Drs. Muzakka, M. Hum, selaku dosen Sastra Indonesia, juga Sekretaris Jurusan Sastra Indonesia. “Sebagai ilmuwan. Bisa sebagai peneliti, bisa sebagai dosen. Nah yen toh (jika, Red) dia tidak dapat menjadi dosen dan peneliti, yang kerja di…katakanlah pusat pembinaan bahasa, kerja di LIPI maupun di universitas negeri maupun swasta, kita menyediakan kompetensi pendukung.”
Kompetensi pendukung yang dimaksud Muzakka semacam bentuk kompromi kemampuan keilmuan mahasiswa dengan kebutuhan pasar. Untuk mewujudkannya, jurusan Sastra Indonesia mengadakan beberapa mata kuliah baru sebagai penunjang.
Salah satu mata kuliah yang ditawarkan adalah Jurnalistik dan Broadcasting. Untuk mendukung kelangsungan mata kuliah ini, jurusan Sastra Indonesia telah menjalin kerjasama dengan beberapa media massa lokal Semarang. Untuk media elektronik, kerjasama dijalin dengan TVKU dan Pro TV. Salah seorang produser Pro TV, Drs. Adi Pamungkas, mengampu mata kuliah ini. Sedangkan untuk media cetak, jurusan Sastra Indonesia bekerjasama dengan Suara Merdeka, Wawasan, dan lain-lain.
“Nah kalau kepepet sekali, ada juga sampai jadi MC (Master of Ceremony) lho. Kita menawarkannya karena ada mata kuliah yang berkaitan dengan itu,” imbuhnya. Mata kuliah yang dimaksud adalah Manajemen Seni Pertunjukan. Dalam pertunjukan seni, masih menurut Muzakka, MC atau pembawa acara adalah bagian penting acara.
Selain Jurnalistik dan Broadcasting, masih ada beberapa mata kuliah seperti Copy Writing (menulis naskah iklan), Kehumasan, Retorika, dan lain-lain. Pengadaan mata kuliah baru yang berarti juga pergeseran orientasi dari keilmuan menjadi sedikit mempertimbangkan kebutuhan praktis ini dirasa perlu oleh pihak jurusan Sastra Indonesia. Pasalnya, dari tahun ke tahun peminat jurusan Sastra Indonesia hampir tak pernah beranjak naik dari kisaran angka 200 hingga 300 orang –satu rating lebih tinggi dari peminat jurusan Sejarah (lihat tabel).
Sayangnya, kurikulum terbaru ini, kurikulum 2002, belum banyak diketahui masyarakat. Meskipun tak banyak yang tahu, sampai saat ini Fakultas Sastra masih cukup percaya diri. Semacam ada kepercayaan bahwa tanpa sosialisasi, akan tetap ada calon mahasiswa baru yang berminat –berapapun jumlahnya.
“Tapi harusnya untuk yang akan datang, kalau kita ingin meraih gengsi yang lebih bagus, kita harus ke sana (SMA-SMA, Red). Supaya tidak menjadi pilihan yang kedua atau ketiga, tapi menjadi pilihan pertama. Gitu kan?” Ungkap Muzakka, dosen asal Kendal ini.
Sebab itulah Jurusan Sastra Indonesia memulai langkah awal sosialisasinya, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), melalui dunia maya dengan website yang masih bergabung dengan fakultas. “Jadi, website kita sudah di-up grade ini. Untuk tahun ini akan kita sebarkan ke seluruh dunia”.
Langkah selanjutnya, masuk ke SMA-SMA dan kantor-kantor Depdikbud. Program ini masih belum jelas kapan akan dilaksanakan. Persisnya, peogram ini masih dalam tahap rencana. “Tapi temen-temen sudah ingin bersosialisasi karena ingin mendapatkan gengsi yang lebih bagus.”
Meskipun sosialisasi baru akan dilakukan, peminat Sastra Indonesia jalur PSSB selalu naik. Tahun ini, peminat jurusan Sastra Indonesia mencapai 20 orang. Setelah melalui proses seleksi, hanya ada 15 orang yang diterima. Sayang, hanya 10 orang yang mendaftar ulang. Angka ini lebih baik ketimbang tahun kemarin. Tahun lalu, lewat jalur ini, jurusan Sastra Indonesia hanya berhasil menjaring tiga atau empat orang.
Angka PSSB terbaru Sastra Indonesia berjumlah 15 dari 20 pendaftar. Tetapi hanya ada sekitar 8 sampai 10 orang yang melakukan daftar ulang. Jumlah ini, menurut Muzakka masih tergolong tinggi. “Sastra Indonesia menurut saya ya, kalau dibandingkan dengan sesama jurusan Sastra Indonesia di seluruh Indonesia tergolong tinggi. Misal, dibanding UNNES (Universitas Negeri Semarang, Red) atau UNS (Universitas Negeri Surakarta, Red). Masih tinggi Fakultas Sastra UNDIP. Apalagi kalau dibandingkan dengan luar Jawa.”
Jumlah peminat selalu berkisar di atas 250. Dari jumlah itu, jurusan Sastra Indonesia hanya menerima 40 orang yang lolos seleksi. “Daya tampung Sastra Indonesia 50 mahasiswa. Sebenarnya daya tampungnya 40 Mbak. Ini untuk mengantisipasi mahasiswa yang diterima tapi tak melakukan daftar ulang.”
Mahasiswa yang diterima tak melakukan daftar ulang, ini sebenarnya bukan hal baru di jurusan Sastra Indonesia. Hal ini terjadi ketika jurusan Sastra Indonesia hanya menjadi pilihan kedua atau bahkan ketiga. Terlebih jika mahasiswa yang bersangkutan juga diterima di jurusan lain yang lebih sesuai dengan minatnya. “Padahal kan merugikan yang lain. Kalau dia mundur harusnya kan yang lain bisa mengisi.” Kata Muzakka.
Dulu, Fakultas Sastra punya beberapa mahasiswa asing. Mereka berasal dari Australia, Turki, Jepang. Sekarang sudah tak ada lagi. Menurut perkiraan Muzakka, ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi. Di antaranya, pelayanan yang diberikan pihak Fakultas Sastra kurang berkenan bagi mereka, dan pihak fakultas sendiri merasa kesulitan untuk mengurus hal-hal yang berkaitan dengan keimigrasian.
Minimnya prestasi yang pernah diraih jurusan Sastra Indonesia membuat jurusan ini makin terpuruk. Kalaupun ada, paling hanya satu dua. Filologi, salah satu seksi yang ada di jurusan Indonesia mempunyai kelompok studi bernama Simposiun Internasional. Penyelenggaranya adalah masyarakat Sastra Nusantara. Beberapa dosen jurusan Sastra Indonesia kadang kala diundang dalam pertemuan yang diselenggarakan forum itu di berbagai kota di Indonesia.
Prestasi lain jurusan Sastra Indonesia, menurut Muzakka, adalah adanya beberapa dosen jurusan Sastra Indonesia yang menulis baik di media cetak maupun menerbitkan sebuah buku. Sebagai contoh, Yudiono KS. Disamping menerbitkan banyak buku, ia juga kerap nulis di harian sore Wawasan. Selain itu, ada sederet nama lain yang juga menggeluti aktivitas serupa: Prof. Sudjarwo, Prof. Th. Sri Rahayu Prihatmi, Drs. Suyanto, Drs. Redyanto Noor dkk, Drs. Mujahirin Thohir, M.A, Drs. Surono dkk, Drs. Anhari dkk. Sekarang, Jurusan Sastra Indonesia sendiri mempunyai penerbitan dengan nama FASINDO. Penerbitan itu diresmikan tahun 2004.
Prestasi mahasiswa jurusan Sastra Indonesia lebih menyedihkan. Kalaupun ada, prestasi mereka berkutat pada prestasi akademis. Sejak Muzakka menjabat Sekretaris Jurusan dua tahun lalu, hanya satu mahasiswa yang berhasil lulus dengan IPK cum loude.

PUN demikian, cerita sedih tak melulu terjadi ketika menyoal peminat Fakultas Sastra. Peminat jurusan Sastra Inggris misalnya, sebanding dengan peminat jurusan maupun prodi yang ditawarkan Fakultas Ekonomi. Setiap tahunnya, setidaknya ada lebih dari 1000 calon mahasiswa baru yang memperebutkan kuota sejumlah 75 kursi yang disediakan jurusan Sastra Inggris.
Cerita serupa juga datang dari Prodi DIII Bahasa Inggris. Prodi DIII Bahasa Inggris termasuk prodi favorit selain Prodi DIII Bahasa Jepang. Dra. Deli Nirmala, Dip. Appl. Ling., M.Hum, ketua Prodi DIII Bahasa Inggris, tak menampik kalau peminat di DIII Inggris memang banyak meski dari tahun ke tahun jumlah peminat terus mengalami penurunan.
Menurut Deli, tak ada strategi khusus untuk menarik minat calon mahasiswa baru. “Saya kira untuk strateginya itu dimiliki oleh semua program. Hanya, mungkin asumsi kami itu, apa yang kami tawarkan itu adalah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Ya, Bahasa Inggris itu mau tidak mau, siapa pun orangnya mengakui bahwa sangat dibutuhkan masyarakat. Apalagi di era globalisasi ini”.
Prodi DIII Bahasa Inggris sendiri menawarkan empat peminatan yaitu Perkantoran (Office Management), Kehumasan (Public Relations), Periklanan (Advertising) dan Pariwisata (Tourism). Keempat peminatan itu adalah sektor-sektor yang, selain terkait erat dengan bahasa Inggris, juga dibutuhkan oleh masyarakat. “Sehingga masyarakat juga sangat tertarik,” imbuhnya.
Sejauh ini, untuk mengefektifkan jalannya perkuliahan, satu angkatan mahasiswa prodi DIII Bahasa Inggris dibagi dalam lima kelas. Tahun lalu, misalnya, prodi DIII Bahasa Inggris menerima 200 mahasiswa. Itupun, masih menurut Deli, belum memenuhi target.
“Kami menerima lima kelas sesuai dengan kapasitas kita. Ya ini nanti tergantung bagaimana. Artinya, kalau jumlah mahasiswa memang menurun ya jumlah kelas akan kami turunkan? Yang jelas kami menerima sesuai dengan yang masuk kan?”
Laiknya kebayakan prodi yang memang berorientasi pada kebutuhan praktis, lapangan lulusan Prodi DIII Bahasa Inggris relatif jelas dan spesifik. Mereka bisa menekuni bidang Public Relation (PR), sekretaris, atau pegawai negeri. Biasanya, banyak dari mereka yang mendapat tawaran kerja dari tempat-tempat PKL-nya.

MINAT dan tidak minat pada bidang tertentu adalah hal biasa. Begitupun mengenai Fakultas Sastra. Meskipun sebenarnya tak minat, Aji Eko Bagus Samanta, mahasiswa jurusan Sejarah 2004, menganggap bahwa sebenarnya Fakultas Sastra bagus. Pun demikian, minatnya terhadap Fakultas Sastra tak kunjung tumbuh setelah menjalani perkuliahan hingga satu tahun. Ia berniat mundur dari Fakultas Sastra dengan alasan masa depan suram.
Tahun 2004, Aji lulus SMA. Ia memutuskan jurusan Sejarah Undip sebagai pilihan pertama dan Ilmu Komunikasi Unair sebagai pilihan kedua. Alasan Aji, pertama, biaya kuliah di Undip relatif murah; kedua, dia memilih jurusan dengan peluang diterima yang cukup besar. Meskipun sang ayah menginginkannya masuk Fakultas Ekonomi, ia tak mau spekulasi. Ia tahu akan kemampuannya.
Setelah tahu Aji masuk Jurusan Sejarah, ayahnya tak bisa terima. “Masalah ekonomi. Mereka takut di Sastra aku nggak punya masa depan,” katanya menirukan alasan ayahnya. Sebab itulah Aji ikut SPMB lagi tahun ini. Pilihannya jatuh pada jurusan Administrasi Niaga, Ilmu Komunikasi Unibraw serta Psikologi UNNES.
Meskipun demikian, Aji tetap berpendapat bahwa jurusan Sejarah Undip sebenarnya berkualitas. Tapi, “Kuliah di sini mau jadi apa? Kerja di museum memang ada. Tapi peluangnya sedikit banget. Padahal aku kuliah itu agar bisa diterapkan di kerja,” kata Aji.
Pilihan Aji untuk ikut SPMB lagi, bukannya tanpa resiko. Jika Aji gagal, orang tuanya menyuruhnya ikut SPMB lagi tahun depan. Jika gagal lagi, Aji terpaksa harus menekuni bidang ini. “Saya ini orangnya nggak isoan (serba tidak bisa, Red). Nurut ma orang tua, benar-benar nggak ingin mengecewakan.”
Seandainya tetap di Sejarah?
“Gimana ya, kepaksa aja. Selama ini, aku cuma sepenuh hati menjalani dua semester di Sejarah. Setelah di sini dan mencoba memahami, kayakya nggak bisa juga. Malah semakin tidak senang pada setiap mata kuliah. Rasanya bosen banget. Sejarah melulu”.
Aji boleh bernafas lega sekarang. Dia diterima di Akuntansi Universitas Negeri Malang.
Hanum, di sebalik Aji, justru memburu masuk Fakultas Sastra. Hanum adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris Ekstensi 2004. Ia melanjutkan studinya di Undip setelah menempuh Prodi DIII Bahasa Inggris di Unair (Universitas Airlangga), Surabaya. Gadis berjilbab ini rela menghentikan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Unair agar bisa melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Undip.
Cerita berawal ketika Hanum lulus SMA dan diterima di Fakultas Kedokteran UGM melalui jalur PSSB. Namun Hanum tak melakukan daftar ulang karena besarnya biaya yang dikenakan padanya. Jumlah 11 juta rupiah bukan nominal yang cukup memberatkan orang tua Hanum mengingat mereka berasal dari kalangan berada. Tapi Hanum tak rela membayar karena menurutnya, dengan otaknya yang cemerlang dia tak harus membayar mahal sekadar untuk kuliah.
Pada tahun yang sama, Hanum ikut SPMB. Hanum diterima di jurusan Akuntansi Unair yang waktu itu jadi pilihan ketiganya. Lagi-lagi Hanum tak memasukinya lantaran tak begitu minat. Terancam tak kuliah kah Hanum?
Tidak. Diam-diam, pada tahun yang sama, bibinya mendaftarkan Hanum di Prodi DIII Bahasa Inggris Unair. Lantaran segala urusan administrasi sudah beres, mau tak mau, ia terpaksa masuk. Akhirnya, ia menjalani satu tahun pertama kuliah di DIII Unair.
Tahun berikutnya, Hanum mencoba ikut SPMB lagi. Hanum diterima di jurusan Kedokteran Unair. Saat itulah, ia menjalani dua kehidupan kampus secara bersamaan selama setahun. Hanum memutuskan untuk mengambil cuti pada semester III di jurusan Kedokteran untuk mengerjakan Tugas Akhir kuliahnya di Prodi DIII Bahasa Inggris.
“Saat semester 5, Bahasa Inggris itu dikira udah TA. Dan waktu itu aku kira TA seperti itu, seperti skripsi. Jadi, aku ngambil cuti di FK sampai satu tahun. Habis cuti ayah nggak setuju aku di FK dikarenakan aku cewek, kapan nikahnya.”
Lulus Prodi DIII Bahasa Inggris, Hanum memutuskan melanjutkan ke jurusan Sastra Inggris (ekstensi) Undip. Meskipun jurusan ini tak pernah masuk dalam daftar jurusan pilihannya, Hanum tetap menjalani semuanya.
Lain Hanum, lain Kotim. Khotim Sulistya Koidatun Nisa bukan sekadar terdampar di Fakultas Sastra. Dia bersengaja memilih fakultas ini lewat jalur PSSB. Jurusan yang dipilihnya adalah Sastra Indonesia. Memang, awalnya orang tua Kotim, biasa ia disapa, tak mendukung. Alasannya klise. Lapangan pekerjaan Sastra Indonesia tak jelas. Sedikit. Tapi toh akhirnya, restu itu digenggamnya.
Kotim adalah alumni SMU Islam Sudirman Ambarawa. Gadis berjilbab yang hobi baca ini tak minder masuk Sastra. Dulu, di SMU-nya, Jurusan Bahasa yang ia masuki, adalah jurusan favorit kedua setelah IPA. Di samping itu, ia memang suka pelajaran Sastra Indonesia. “Sastra pelajarannya logika. Mikir nggak harus pasti. Nggak harus pikiran.”
Selain Kotim, mahasiswa jurusan Sastra Indonesia yang juga lolos PSSB adalah Dodi Sustiadi. Postur tubuhnya jangkung, rambut model jabrik. Ia asli Pontianak, Kalimantan Barat. Berkebalikan dengan Kotim, Dodi, mendapat dukungan penuh dari keluarganya. Jurusan Sastra Indonesia justru merupakan pilihan orang tuanya. Meskipun Dodi sebenarnya tidak setuju, ia tetap menjalaninya. Dulu, ia suka ikut lomba pidato. Menurutnya, pidato adalah bagian dari Sastra Indonesia. Maka dari itu, ketertarikan pada sastra mulai muncul.
Dodi adalah alumni SMA 1 Melawi. Jurusan Bahasa belum dibuka di SMU-nya. Di jurusannya semasa SMA, IPS, penyampaian pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia cukup menarik. Selain teori, juga ada praktek. Biasanya pementasan drama dan puisi. Sebab itulah, baginya sastra identik dengan dunia drama.
Pengaruh orang tuanya terhadap pilihan Jurusan Sastra Indonesia memang besar. Kengototan orang tuanya beralasan. Orang tuanya lulusan Fakultas Sastra. Tapi untuk cita-cita, ia tetap pada keinginan sendiri. “Ingin jadi penyiar berita di TV,” tuturnya.
Kisah M. Mujibur Rohman yang juga diterima di jurusan Sejarah lewat PSSB berkebalikan dari kisah Dodi. Tak ada yang berpengaruh dalam putusan itu. Rohman jebolan SMA 1 Bae. Ia sangat tertarik dengan Sejarah. Menurutnya, Sejarah itu menceritakan suatu kejadian dan tidak untuk melupakan masa lalu. “…bagi saya, itu penting,” ungkapnya.
Lulus dari jurusan Sejarah, Rohman ingin mengambil akta 4. Cita-citanya menjadi seorang guru. Ia memang sengaja tak langsung mengambil jurusan pendidikan. “Karena bagi saya, lebih baik mempelajari ilmu dulu. Setelah itu, baru metode. Kalau sudah menguasai ilmu akan lebih mudah,” ujarnya beralasan.
Refera Putri dan Wati Nurhayati juga diterima di Fakultas Sastra, tepatnya jurusan Sastra Inggris, melalui jalur PSSB. Mereka merasa nilai rapor mereka menunjang. Keduanya juga berasal dari jurusan yang sama, IPS, meskipun ada Jurusan Bahasa.
Fera, panggilan akrab untuk Rafera Putri, sangat didukung orang tuanya. Gadis mungil berkaca mata ini, datang jauh dari Solok, Sumatra Barat. Ia memilih Sastra Inggris karena unik dan menarik. “Saya seneng sesuatu yang berbau Sastra.” Lanjutnya, sastra itu identik dengan puisi. Selain itu, Bahasa Inggris akan menunjang usahanya mengetahui kebudayaan asing yang unik. Dengan kemantapan pada pilihan ini, ia mengaku belum tahu rencana ke depan setelah lulus dari Sastra. Fera ingin menikmati semuanya dulu.
Wati Nurhayati, memilih jurusan Sastra Inggris atas motivasi kakaknya. “Dia (kakaknya, Red) dulu gagal masuk Sastra karena dilarang orang tua. Dia sekarang di Fakultas Ekonomi. Karena itulah saya diharapkan menjadi penerus cita-citanya,” akunya sembari tersenyum.
Selain itu, rasa penasaran akan kemajuan Amerika membawanya masuk pada Jurusan Sastra Inggris. Ia ingin mempelajari budaya Amerika. Jurusan Sastra Inggris memang menawarkan satu seksi yang berhubungan dengan budaya Amerika, yaitu American Studies. Karena itu pula, cita-citanya pun tak jauh beda dari pekerjaan di departemen asing. Disamping itu, ia juga bercita-cita jadi guru.
Begitulah Fakultas Sastra. Tak semuanya merasa minder ketika sudah berada di dalamnya. Meskipun masih menjadi pilihan yang tak bergengsi, usaha untuk menjadikan FS jadi fakultas favorit tak pernah surut. Buktinya, ada penambahan beberapa mata kuliah yang disesuaikan dengan selera pasar. Semoga saja tidak keblinger dengan menjadikan FS sebagai fakultas komersil.

JUMLAH PENDAFTAR PADA TIAP PROGRAM STUDI
TAHUN 2001/2002 s.d 2003/2004
NO FAKULTAS PROGRAM STUDI 2001/2002 2002/2003 2003/2004
SPMB PSSB SPMB PSSB SPMB PSSB
1 HUKUM ILMU HUKUM 2870 358 2617 291 12454 218
2 EKONOMI MANAJEMEN 3584 445 2828 365 3026 326
EKONOMI & STUDI PEMBANGUNAN 1266 149 1238 142 910 117
AKUNTANSI 2962 438 2821 402 2714 322
3 SASTRA SASTRA INDONESIA 352 21 280 15 267 8
SASTRA INGGRIS 1845 112 1751 126 1346 111
SEJARAH 293 10 237 9 164 10
4 ISIP ADMINISTRASI NEGARA 2229 186 703 186 1558 120
PEMERINTAHAN 596 161 1532 134 490 94
ADMINISTRASI NIAGA 1412 148 1105 130 762 95
KOMUNIKASI 2435 301 2368 304 2176 249

4 thoughts on “Tak Masuk Fakultas Favorit, Sastra pun Jadi

  1. Cool blog, interesting information… Keep it UP golf course management magazines Payday loans with bankruptcy Mr wiggles water toy baby asprin with clomid http://www.stationery-gifts.info/Businesscards1.html mega millions for may 27 05 Lamictal theinsiders insiders insider antidepressant elavil Weight training exercises for golf A video sample of pamela anderson sex tape Wyeth generic diazepam broadband availability uk build a table tennis business card reader Russian roulette hot water music Teacher sex with student video clips free gay first time anal stories Propecia lungo termine

  2. Saya alumni FS Indonesia angkatan 91. Alhamdulillah perjalanan waktu mengantarkan saya menjadi seorang guru di sebuah SMP.Dua ponakan saya, alumnus D3 Kearsipan, saat ini bekerja di instansi Kabupaten. Jadi, siapa bilang FS bermasa depan suram. Jalani dan nikmati prosesnya, rizki sudah ada yang mengatur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top