Jalan Berliku Menuju PTN

Kuliah di perguruan tinggi favorit menjadi impian para calon mahasiswa baru. Meski banyak rintangan menghadang, berbagai cara ditempuh untuk dapat menyandang predikat ‘mahasiswa’ di Perguruan Tinggi Negeri .

Penulis: Sumaryati
Reporter: Elisya Budiawati, Diantika Permatasari, M. Rofi’i, Primaera Restu Wingit Anjani

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Senin, 20 Juli 2005. Beberapa wajah asing hilir mudik. Seorang pria berkulit agak putih, berambut lurus dan berkacamata minus cukup tebal berada di halaman depan samping pintu masuk utama gedung FMIPA. Sesekali ia menengok ke belakang seraya menebar pandangan seperti sedang mencari sesuatu.

“Amar mana yah, kok belum kelihatan?,”bisiknya pelan. Ia menuju ke sebuah kursi panjang yang dikelilingi pepohonan rimbun. Ia duduk-duduk saja. Sesekali pandangannya terarah ke pintu masuk yang sudah mulai ramai. Kini ia terlihat gelisah, tangan kanannya meremas-remas ujung jari tangan kirinya sambil sesekali membetulkan kacamatanya saat mulai melorot.

Vinjay nama pria itu. Ia adalah calon mahasiswa baru dari jalur PSSB (Program Seleksi Siswa Berprestasi). Ternyata ia sedang menunggu seorang teman yang baru dikenalnya yang juga berasal dari Tegal. Pagi itu ia dan calon mahasiswa baru lainnya akan mengikuti proses matrikulasi yang sudah berlangsung sejak 15 Juli sampai 15 Agustus 2005.

PSSB memiliki 3 jalur masuk yaitu jalur Prestasi Akademik, jalur Prestasi Bakat Seni dan Olah raga, dan jalur Kerjasama. PSSB yang ditempuh Vinjay adalah jalur prestasi Akademik. Ia memilih menempuh jalur PSSB karena jumlah pesaingnya relatif sedikit dibanding jika dia mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). “Dengan jalur PSSB lebih dapat dipastikan tembus kalau nilai akademik kita baik. Berbeda dengan ujian SPMB, orang yang pintar, sedang, ataupun kurang pintar belum tentu tembus atau lolos seleksi,” ujarnya sunguh-sungguh.

Bagi alumni SMU 4 Tegal ini, proses untuk mengikuti jalur PSSB tidaklah terlalu rumit. Ia hanya menyerahkan syarat-syarat yang diminta kepada Guru BK/BP lalu tinggal menunggu pengumuman. Kendati demikian, kata Vinjay, ternyata jalur ini tak semudah yang dibayangkan. Peserta PSSB dihadapkan dengan persiapan-persiapan dan kegiatan yang harus diikuti, diantaranya adalah pre-test, test matrikulasi, matrikulasi dan pembinaan Rektor.

VINJAY adalah satu dari ribuan lulusan SMU yang ingin mengenyam pendidikan tinggi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Ia diterima melalui jalur PSSB. Masih banyak lulusan SMU yang tidak seberuntung Vinjay. Padahal, seperti yang dilansir oleh media cetak beberapa pekan lalu bahwa para siswa SMU sempat dibuat shock dengan pemberlakuan batas minimal nilai kelulusan Ujian Akhir Nasional (UAN) sampai dengan 4,26. Batas minimal nilai UAN tahun ini lebih tinggi bila dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya 4,01. Batas tersebut dirasa cukup memberatkan karena tidak semua siswa memiliki kemampuan yang baik.

“Patokannya jangan terlalu tinggi. Kasihan yang nggak mampu, mereka jadi nggak bisa kuliah…,” ujar Ramesti Wulandari, alumni dari SMU 1 Kendal dengan sungguh-sungguh. Banyak yang merasa kesulitan saat mengerjakan UAN dan harus berjuang untuk dapat memperoleh nilai di atas batas minimal nilai UAN.

Bagi yang lulus UAN, ternyata perjuangan belum berakhir. Kini mereka harus berjuang lagi untuk memasuki perguruan tinggi bagi yang ingin melanjutkan pendidikannya. Undip sendiri membuka penerimaan mahasiswa baru melalui PSSB, SPMB, dan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) khusus untuk Program Diploma dan Ekstensi. Sehingga lulusan SMU memiliki banyak pilihan jalur yang akan ditempuh untuk dapat diterima di PTN.

Berbagai motivasi mendorong mereka mengikuti SPMB. Dari yang cuma iseng hingga yang memang benar-benar ingin kuliah. Bahkan ada yang dilarang kuliah oleh keluarganya seperti yang dialami Prasinta Desi Nursihan. Ia mengaku sempat dilarang oleh keluarganya. Orang tuanya menyuruhnya bekerja. Ia terilhami oleh kejadian yang dialami temannya yang mencoba bunuh diri hanya karena dilarang kuliah orang tuanya.
“Dari hal itu, saya merasa bahwa pendidikan itu sangat penting dan saya pengen buktikan ke keluarga kalau saya bisa,” ujar alumni SMU 1 Pringsewu ini serius. Untunglah akhirnya orang tuanya mendukung dirinya kuliah. Apalagi ia kini diterima di Undip.

Ironisnya, cukup banyak calon mahasiswa yang tidak mengikuti SPMB dengan alasan ketinggalan informasi ataupun telat mendaftar. Akhirnya, mereka menempuh jalur lain untuk tetap mewujudkan keinginannya kuliah di PTN. Tias alumni dari SMU Masehi 1 Semarang, adalah salah satunya. Ia mengaku ketinggalan informasi SPMB hingga dua kali periode. Tias lantas mendaftar melalui program diploma agar tetap bisa kuliah di PTN. Bukan hanya Tias yang ketinggalan Informasi tentang SPMB. Yusuf Prasetyo, alumni SMU Muntilan 1 Magelang juga mengalami nasib serupa.

Kini mereka harus melakukan persiapan-persiapan dan strategi untuk bisa diterima di perguruan tinggi. Apalagi bila yang mereka incar adalah PTN favorit. Jauh-jauh hari sudah ada yang mengikuti les-les atau bimbingan belajar agar dapat diterima di PTN yang diinginkan.

Aning, misalnya, telah belajar semaksimal mungkin untuk dapat diterima di Undip. “Usahanya sih banyak. Kegiatannya macam-macam. Di antaranya belajar dan ikut bimbingan belajar di luar dan di sekolah,” ujar alumni SMU Jatirogo Tuban ini. Mereka berusaha sebisa mungkin mengerjakan soal-soal SPMB meski terkadang mengalami kesulitan.

“Wah sulit banget,” ungkap Pedin Setiawan, alumni SMU Sultan Agung, Semarang. Ia mengaku cukup kesulitan meski telah mengikuti les-les di luar sekolahnya.
Meski demikian, ada saja peserta yang iseng mengikuti SPMB sehingga sewaktu mengerjakan soal ujian terkesan asal-asalan. “Ngerjainnya dibikin gampang aja. Pokoknya ngawur lah…,” tutur Angga Bagus Andrianto, alumni SMU 1 Krajen.

Berbeda dengan Angga, Aning malah berusaha sekuat tenaga untuk diterima di PTN dengan pertimbangan biaya. Hingga saat ini, Aning masih percaya bahwa biaya kuliah di PTN lebih murah ketimbang di PTS (Perguruan Tinggi Swasta).

Anggapan Aning bukan tanpa dasar. PTN sampai saat ini masih banyak diincar oleh mahasiswa baru karena dianggap sebagai tempat yang ideal untuk kuliah. Bagi mereka, PTN yang ideal adalah PTN yang memiliki fasilitas lengkap, mutunya baik dan yang jelas biayanya terjangkau. “Ya paling nggak mutunya yang baguslah tapi harganya juga harus yang murah. Soalnya sekarang di mana-mana udah mahal…” ujar Angga.

Senada dengan Angga, Tias bertutur, “Pokoknya fasilitasnya yang OK, nggak kayak tadi. AC (Air Conditioner, Red) kok kayak pemanas ruangan.” Tias mengikuti ujian masuk Program Studi (Prodi) DIII Bahasa Inggris di RB 1 Fakultas Sastra.
Meyta Rosdiana melontarkan komentar yang tak jauh berbeda dari Aning. Ia mengikuti SPMB karena merasa kuliah di PTN lebih murah. “Kan kalau masuk negeri (PTN, Red) lebih bagus daripada swasta (PTS, Red) biayanya mahal,” tutur alumni SMU YSKAI Semarang ini sungguh-sungguh.

Rupa-rupanya, saat ini citra PTN sebagai institusi pendidikan yang bermutu dan murah masih berlaku. Terbukti, meski kuota jumlah mahasiswa baru telah ditetapkan, pendaftar masih saja membludak. Padahal, biaya beberapa PTN akhir-akhir ini hampir tak ada bedanya dengan swasta.

Peluang ini tak disia-siakan oleh PTN. Beberapa PTN kemudian berlomba-lomba melakukan ekspansi dengan membuka berbagai program. Program yang dibuka tentunya yang banyak memberikan masukan seperti program ekstensi dan program diploma.

Kondisi ini bisa dimaklumi karena bagaimanapun juga PTN butuh tambahan dana seiring dengan pemberlakuan otonomi kampus menyusul penetapan beberapa PTN menjadi BHMN (UI, ITB, IPB, dan UGM). Dalam hal ini PTN berwenang mengelola keuangannya masing-masing.
Dengan kondisi sekarang, PTS memang harus tanggap akan situasi yang menjepit mereka.

Kini saingan mereka bukan hanya PTS lain tetapi juga PTN. Bagaimanapun juga kecenderungan masyarakat memilih PTN ketimbang PTS masihlah tinggi. Sederhana saja, mereka menyoal biaya. Akibatnya, calon mahasiswa baru banyak yang mendaftar di jalur ekstensi ataupun diploma di PTN. Karenanya, PTS harus lihai dalam menjaring calon mahasiswa jika tidak ingin kekurangan mahasiswa dan tetap eksis di dunia pendidikan.

SABTU, 6 Agustus 2005 adalah hari pengumuman hasil SPMB. Jarum jam menunjukkan pukul 05.00 dini hari. Suasana gelap. Perlahan para peserta SPMB berdatangan dengan raut muka penasaran. Apakah mereka diterima di PTN yang diinginkan? Barangkali itu pertanyaan yang membayang dalam satu bulan penantian dengan penuh kecemasan.

Langkah antisipasi mungkin saja sudah disiapkan andaikata tidak lolos SPMB. Ada beberapa alternatif. Misalnya mendaftar ke program ekstensi, diploma atau malah ke PTS. Kendati demikian, masih ada sedikit yang hanya menggantungkan harapan pada lolos tidaknya SPMB: tak lolos SPMB berarti tak kuliah.

Prasinta, misalnya, mengaku andaikata ia tak diterima di PTN, terpaksa tidak akan kuliah. “Ya terpaksa saya nggak kuliah. Soalnya kalau di PTS kayaknya nggak mungkin banget. Biayanya dari mana? Kemungkinan besar kerja kali ya…”. Untungnya, ia diterima di Teknik Kimia Undip.

PTN akhir-akhir ini memang tak jauh beda dengan PTS. Undip sendiri untuk tahun ajaran 2005 menetapkan biaya SPP (Sumbangan Pembinaan Pendidikan) sebesar 700 ribu dan SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi) sebesar 2 juta per mahasiswa selama masa kuliah. Hal ini dirasa memberatkan bagi mahasiswa baru, khususnya bagi mereka yang berasal dari keluarga dengan tingkat ekonomi pas-pasan.

Namun demikian, mahasiswa baru mau tidak mau harus membayar jumlah yang telah ditetapkan jika tetap ingin kuliah di Undip. Jumlah ini mungkin tak memberatkan bagi mahasiswa baru dari kalangan berada. Namun tidak demikian halnya dengan mahasiswa seperti Heri Santiko, mahasiswa baru jurusan Teknik Mesin Undip. Ia sebenarnya tidak setuju dengan jumlah yang harus dibayarkan. Ia merasa keberatan.

“Tadi saya habis Rp 3.900.000,00. Ya, sebenarnya saya nggak setuju sih. Soalnya untuk buat bayar registrasi ini saya sampai jual sepeda motor. Kesel juga sih. Tapi ya nggak apa-apa…”

Bukan hanya biaya kuliah bagi S1 reguler yang dikeluhkan tetapi juga program lain seperti program diploma. “Tapi mbok ya dikurangi atau disamakan SPI-nya DIII sama reguler. Wong sama-sama universitasnya, sama-sama kampusnya juga. Masak SPI 3 juta. Belum lagi SPP-nya…,” ujar Bu Nur, tante Ayu. Tahun lalu keponakannya, Ayu, telah kuliah di UNNES di jurusan Sejarah. Selain Heri dan tantenya Ayu, masih banyak calon mahasiswa lain yang mengeluhkan tentang biaya kuliah di PTN.

Untuk mengantisipasi hal ini, telah dibuka posko Advokasi Mahasiswa Baru. Advokasi ini digawangi oleh gabungan BEM dan SENAT tingkat universitas dan fakultas. Bertujuan membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam biaya kuliah. Posko inilah yang akan mempertemukan antara mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan dengan birokrasi bagian keuangan rektorat.

Bantuan yang ditawarkan tim advokasi ini bukan berupa keringanan biaya kuliah melainkan pengangsuran pembayaran uang registrasi. Jadi mahasiswa yang kurang mampu tidak mendapat potongan biaya registrasi tetapi hanya mendapat kemudahan dengan cara diperbolehkan untuk mengangsur. Winprakoso, wakil presiden BEM Undip, mengungkapkan bahwa pihak rektorat menyatakan bahwa sebenarnya mahasiswa baru bisa mendapat potongan tetapi untuk kasus-kasus tertentu. “Tetapi hingga saat ini (8 Agustus 2005, Red) saya belum melihat ada yang mendapat potongan bea kuliah,” ujar Win serius.

Memang kebijakan ini akan sangat membantu calon mahasiswa baru. Tetapi masih banyak yang merasa bingung dengan prosedurnya. Semuanya dirasa serba sulit. Mereka harus melengkapi persyaratan-persyaratan untuk mengajukan keringanan. Seperti fotokopi KTP, fotokopi Kartu Keluarga, Surat Keterangan Tidak Mampu dan surat-surat lain yang membuktikan bahwa mahasiswa yang bersangkutan betul-betul berada dalam kesulitan keuangan.

Sulitnya prosedur pengajuan keringanan membayar ini diakui oleh Arif Nugroho, alumni SMU 11 Semarang. Ia merasa bingung dengan proses dan persyaratan yang diminta. Lagipula ia harus menunggu untuk mendapat kepastian apakah ia akan mendapat keringanan atau tidak. ”Lagipula nunggu dipanggilnya lama banget kan. Kasihan sama orang tua-orang tua yang nganter anaknya. Waktunya kebuang-buang. Mungkin mereka masih ada kerjaan lain yang lebih penting untuk dikerjakan. Mending semuanya jelas bakalan diberikan keringanan. Kalau nggak, buang-buang waktu aja,” tuturnya berapi-api.

Melihat kenyataan tersebut, pendidikan di negara yang konon sudah 60 tahun merdeka sampai saat ini masih menjadi barang mahal. Katanya pendidikan adalah hak semua warga negara. Tapi buktinya, kuliah di PTN saja kok masih dipersulit.****

2 thoughts on “Jalan Berliku Menuju PTN

  1. best regards, nice info Second mortgage refinancing sacramento livermore california Goedkope lcd monitor Tennis court 15th century nexium online pharmacy Hp f2105 21lcd flat panel monitor Storage facilities san jose ca Polaroid lcd tv imac flat screen http://www.t-shirt-4.info/donna-karan-sweaters.html 42 flat lcd panel anti bextra inflammatory dyson dc08 hepa filter review in Car cheapest insurance online qu

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top