Menimbang Akreditasi Fakultas Sastra

Beberapa Jurusan menyandang peringkat akreditasi memuaskan. Namun kenyataannya kualitas pendidikan masih jauh dari harapan.

Penulis: Agung Hadiwijaya, Sundari Dewi Ningrum
Reporter: Mustaghfirin, Nitya Gema Trisna Yudha, Norma Atika Sari, Syahrul M Ansyari.

SUATU sore, ruang laboratorium komputer Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (FS Undip) terlihat ramai. Semua komputer menyala. Mahasiswa program Diploma III (DIII) Bahasa Inggris angkatan 2003 kelompok 5 tengah mengikuti praktikum komputer di sana.
Waktu menunjukan pukul 18.30 WIB. Sekitar lima belas orang mahasiswa tengah duduk di depan komputer masing-masing. Seorang dosen berdiri di depan kelas menjelaskan materi yang sedang diajarkan.
“Malam ini silakan untuk mempresentasikan Power Point yang sudah kalian buat, kalau ada yang belum selesai, pokoknya malam ini semua harus presentasi,“ ucapnya serius.
Emil, Mahasiswa DIII Bahasa Inggris 2003, dengan sedikit ragu mengangkat tangan. Seketika itu juga dosen pun mempersilakannya. Emil menuju ke depan kelas dan memulai presentasi. Tema yang dipilih tentang foto-foto FS Undip yang terdapat pada selebaran ternyata jauh dari kenyataan.
“Teman-teman, saya memilih tema ini karena menurut saya foto-foto yang ada pada selebaran-selebaran Fakultas Sastra ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya,“ ucap Emil.
Emil merasa kecewa karena pada kenyataannya kondisi fisik FS Undip tidak sesuai dengan yang ada pada selebaran. Sambil mengarahkan kursor komputer pada presentasinya, ia menjelaskan bahwa foto foto itu hanya sekedar pemanis agar terlihat menarik. Pada kenyataannya, banyak ruangan kelas yang hampir roboh. Pendingin ruangan juga sering mati. Belum lagi laboratorium bahasa yang tak didukung dengan peralatan yang memadai. Kalaupun ada, itu pun sudah tidak berfungsi lagi. Selain itu, masih banyak lagi kekurangan lainnya.
“Katanya Fakultas Sastra mendapat akreditasi A, tapi kenyataanya masih seperti ini. Kalau alasannya ingin dilestarikan gedungnya, kenapa nggak dibuat museum aja sekalian ..“Ungkapnya kecewa.
Kisah Emil barangkali hanyalah sekelumit dari kekecewaan mahasiswa FS Undip terhadap keadaan kampusnya. Yang menjadi keprihatinannya, mengapa gambar-gambar yang ditampilkan pada selebaran itu hanya yang baik. Padahal keadaan sebenarnya masih banyak kekurangan di sana-sini.

FS UNDIP memiliki tiga jurusan untuk program Strata 1 (S1) dan empat program studi untuk Diploma III. Tiga jurusan S1 yakni Sastra Inggris, Sastra Indonesia, dan Ilmu Sejarah. Sedang program studi untuk program D III meliputi Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Perpustakaan dan Informasi (Perpin), dan Kearsipan. Mulai tahun ajaran baru 2005/2006 ini, dibuka jurusan S1 Ilmu Perpustakaan.
Ada juga program ekstensi yakni Sastra Inggris dan Sastra Indonesia. Bila dulu ekstensi hanya menerima mahasiswa pindahan dari DIII, sekarang juga menerima lulusan SMU. Jumlahnya lebih banyak dari mahasiswa reguler. Sebut saja ekstensi Sastra Inggris. Penerimaan mahasiswa baru tiap tahunnya mengalami kenaikan. Sebagai perbandingan, pada tahun 2001 jumlah mahasiswa yang diterima sekitar 70-an mahasiswa. Satu tahun berikutnya sudah mencapai 150. Kondisi ini bisa dimaklumi, karena mulai tahun 2003 ekstensi telah memiliki gedung sendiri. Lokasinya terletak di pojok belakang kampus Pleburan FS Undip.
Kendati program ekstensi telah memiliki gedung sendiri, namun mahasiswa masih masuk kuliah pada sore hari. Alasannya, karena beberapa dosen juga mengajar mahasiswa reguler di pagi hari. Kecuali ekstensi Sastra Indonesia. Karena minimnya mahasiswa yang berminat, mahasiswa program esktensi Sastra Indonesia digabungkan dengan kelas reguler.
Selain itu, FS Undip juga telah membuka program magister. Ada dua program, yakni S2 Ilmu Susastra dan Ilmu Linguistik. Karena belum memiliki gedung sendiri, mahasiswa S2 kuliah menempati ruang sidang. Kuliah dilangsungkan pada sore hari.
Tahun ini, FS Undip mengukir prestasi yang menggembirakan. Ketiga jurusan untuk program Strata 1 (S1), yakni Sastra Inggris, Sastra Indonesia dan Ilmu Sejarah memperoleh peringkat akreditasi A. Padahal pada tahun 2002/2003 hanya Jurusan Sastra Inggris saja yang mendapat peringkat akreditasi memuaskan tersebut. Sementara untuk program studi DIII dan ekstensi belum mendapat status akreditasi.
Pihak yang berhak memberikan penilaian akreditasi adalah Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Lembaga ini independen. Keterangan tersebut seperti yang diperoleh dari penjelasan Prof. Dr. Sri Rahayu Prihatmi, MA., dekan FS Undip.
BAN-PT merupakan organisasi nir-struktural di lingkungan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Dibentuk untuk membantu pemerintah melakukan tugas dan kewajiban melaksanaan pengawasan dan efisiensi mutu pendidikan tinggi.
Selain itu, BAN-PT juga bertugas melakukan penilaian terhadap perguruan tinggi secara berkala. Meliputi kurikulum, mutu dan jumlah tenaga pendidik, keadaan mahasiswa, pelaksanaan pendidikan, sarana dan prasarana, tatalaksana administrasi akademik, kepegawaian , keuangan dan kerumahtanggaan.
BAN-PT dibentuk berdasarkan keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0326/u/1994 tanggal 15 Desember 1994. Selanjutnya diubah dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0224/U/1995. Keanggotaanya terdiri dari ketua, sekretaris dan anggota yang meliputi unsur pemerintah, perguruan tinggi, badan usaha swasta dan lembaga pemerintah non-departemen (NGO).
Di FS Undip sendiri, seperti diakui oleh Rahayu Prihatmi, akreditasi terakhir kalinya diberikan pada tahun 2002. Waktu itu hanya jurusan Sastra Inggris yang memperoleh peringkat akreditasi A. Jurusan Sastra Indonesia dan Ilmu Sejarah mendapat peringkat akreditasi B.
Belakangan diketahui akreditasi diperbaharui setiap empat tahun sekali. Artinya, setiap empat tahun sekali akreditasi tersebut didaftarkan kembali ke BAN-PT. Lebih lanjut seperti yang dituturkan oleh Agus Subiyanto, Ketua Jurusan Sastra Inggris “katakanlah akreditasi itu empat tahun harus didaftarkan kembali ke Badan Akreditasi Nasional. Untuk menilai apakah tepat mendapatkan A atau turun ke B, atau ke C. Setiap empat tahun sekali kalau A, kalau C mungkin dua tahun, kalau B tiga tahun. Sepertinya seperti itu.”
Informasi terakhir, sesuai dengan yang tertera dalam buku pedoman Undip edisi 2005-2006, jurusan Sastra Inggris, Sastra Indonesia dan Ilmu Sejarah telah memperoleh akreditasi A. Sedangkan untuk program studi DIII dan ekstensi, baru akan diurus. “Universitaslah yang mengkoordinir fakultas-fakultas untuk mengajukan proposal akreditasi, “ imbuh Rahayu Prihatmi.
Apa pentingnya status akreditasi bagi perguruan tinggi, khususnya FS Undip?
Rahayu Prihatmi mengatakan akreditasi ini mempunyai arti penting. Selain untuk mengetahui perolehan status yang diakui secara nasional, ternyata juga bisa dijadikan syarat untuk mengikuti hibah kompetisi yang mengharuskan adanya status akreditasi. Dengan adanya akreditasi A, jurusan-jurusan bisa mengikuti kompetisi-kompetisi tersebut yang bertujuan memperoleh dana. Dana ini nantinya dapat digunakan untuk pengembangan sarana dan prasarana masing-masing jurusan.
Hal yang sama juga diungkapkan Agus Subianto. Menurutnya ada beberapa kompetisi yang mensyaratkan akreditasi A untuk bisa mengikutinya. “Dengan akreditasi A, kita bisa mengikuti beberapa program hibah kompetisi yang mensyaratkan akreditasi A. Seperti program B ataupun A3. Program itu harus memiliki akreditasi A. ada yang 800 juta pertahun“.
Akan tetapi tidak semua program studi atau jurusan bisa memenangkan hibah bersaing tresebut. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Untuk mengikuti program itu, syarat utamanya harus memiliki akreditasi A.
Secara umum tolok ukur yang digunakan dalam penilaian peringkat akreditasi ini adalah Tri Dharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Agus menyebutkan ada beberapa indikator yang berkaitan dengan output. Misalnya, indeks prestasi lulusan, indeks prestasi dosen, berapa lama kelulusan mahasiswa, lama bimbingan skripsi, ada tidaknya angka DO, dan lain sebagainya. Kemudian, yang tak kalah penting, adalah sumber daya yang dimiliki oleh perguruan tinggi dan fasilitas atau sarana dan prasarana, juga menjadi poin penting dalam penilaian akreditasi.
Berapapun peringkat akreditasi sebenarnya tidak terlalu mendesak bagi perguruan tinggi yang sudah memiliki nama, khususnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Minat mahasiswa di PTN tidak banyak terpengaruh oleh akreditasi. Toh tidak mendapat akreditasi pun tak jadi masalah. Tapi persoalan akan lain bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Akreditasi digunakan untuk menjaring minat mahasiswa.
Pandangan senada juga dikemukakan oleh Agus Subiyanto. Ia punya cerita dari pengalaman teman-temannya di Universitas Indonesia (UI). “Mereka tidak perlu gembar-gembor akreditasi, toh mahasiswa yang daftar ke sana tetap banyak. Karena dia sudah punya nama, sehingga akreditasi tidak diperlukan untuk mendapatkan mahasiswa. Itu juga saya kira terjadi di perguruan-perguruan tinggi negeri. Saya kira akreditasi A, B atau C, mahasiswa juga akan berbondong-bondong untuk memilih negeri,“ tuturnya bersemangat.
Bagi Agus, akreditasi lebih sebagai evaluasi daripada untuk tujuan promosi. Beberapa pertanyaan yang ia ajukan seperti, apakah proses penyelenggaraaan belajar-mengajar di jurusan sudah sesuai dengan kualitas, baku mutunya istilahnya. Apakah itu sudah sesuai sebagai salah satu tolok ukur akreditasi? Jadi tujuan dari akreditasi untuk mengevaluasi apakah selama ini proses belajar mengajar sudah sesuai dengan kualitas yang diharapkan.

AKREDITASI yang diperoleh FS Undip bukan merupakan hadiah, tapi melalui pengujian. Untuk dapat menyandang akreditasi A, fakultas harus memenuhi beberapa kriteria. Di antaranya, seperti sistem pengajaran; SDM yang dimiliki, baik dosen maupun mahasiswa; maupun sarana prasarana merupakan poin penting dalam perolehan akreditasi A tersebut.
Ada beberapa tahapan untuk mendapatkan akreditasi. Pertama-tama, fakultas mengajukan ke universitas, kemudian ditindak lanjuti ke BAN-PT. Sebelum diajukan ke tingkat nasional, universitas melakukan penilaian terlebih dulu pada fakultas yang bersangkutan.
Selanjutnya, pihak universitas memberi perintah pada fakultas untuk mengajukan akreditasi. Setelah itu, fakultas menyusun proposal yang ditujukan pada BAN-PT dengan terlebih dulu diperiksa pihak universitas. Setelah fakultas melengkapi syarat-syarat pengajuan dan mengisi borang (semacam blangko isian) dan direview oleh universitas, proposal itu didaftarkan ke BAN-PT. Kemudian BAN-PT akan melakukan visitisasi atau peninjauan ke fakultas yang bersangkutan.
Visitisasi ini dilakukan oleh accessor atau tim penilai yang ditunjuk oleh BAN-PT. Tujuannya untuk mencocokkan data-data yang ada pada proposal dengan keadaan di lapangan. Tim penilai biasanya terdiri dari dua orang yang berasal dari universitas lain.
“Kebetulan saya juga pernah menjadi accessor di Universitas Sumatra Utara (USU),“ kenang Rahayu Prihatmi.
Setelah semua tahapan selesai, fakultas akan memperoleh peringkat akreditasi. Peringkat ini biasanya ditunjukan dengan huruf yaitu A,B C atau NA.
Sudah layakkah predikat akredatasi yang disandang oleh FS Undip?
Agus mengaku jurusan Sastra Inggris masih kurang dalam bidang penelitian. Tidak banyak dosen yang terlibat dalam penelitian. Sehingga hal tersebut bisa mengurangi dalam penilaian. Tapi, kekurangan itu bisa ditutupi dengan indikator lain.
“Menurut saya, kaualifikasi dosen sebagian besar sudah master ke atas. Itu kan suatu poin tersendiri dalam akreditasi. Kita sudah punya doktor, juga kualifikasi tersendiri. Hal tersebut merupakan salah satu yang memberikan nilai tambah dalam akreditasi. Persentase dosen yang memiliki gelar master ke atas apalagi doktor itu sangat berpengaruh,“ paparnya.
Benarkah seperti yang dikatakan oleh Agus bahwa kekurangan yang ada dapat ditutupi dengan kelebihan seperti yang disampaikan. Apakah mahasiswa sudah cukup puas dengan kondisi ini?
Ternyata mahasiswa FS Undip punya pendapat beragam. Diantaranya menganggap akreditasi A ini tidak pantas diberikan. Aris, mahasiswa D III Bahasa Inggris 2002, menganggap akreditasi A tidak layak disandang oleh FS Undip. “A haruslah seimbang dengan kualitasnya,“ ujarnya.
Aris mengatakan secara pribadi tidak merasakan dampak dari akreditasi A tersebut. Selebihnya dia berharap akan adanya perbaikan dalam berbagai hal. Perbaikan gedung, sistem pengajaran, birokrasi kampus, serta pelayanan yang diberikan pada mahasiswa.
Hal senada juga disampaikan Rasep Agung, mahasiswa Sastra Inggris 2004. Menurutnya kualitas mahasiswa FS Undip masih kalah jauh dengan mahasiswa FS Unnes (Universitas Negeri Semarang). Selain itu menurut Agung, fasilitas kampus juga masih belum memadai.
”Yah, kalau masalah fasilitas itu jangan ditanyakan, menyedihkan. Gimana ya, memuakkan! Kampusnya aja udah juelek, gimana mau ningkatin SDMnya?,“ tambahnya sambil tersenyum.
Berbeda dengan Agung, Ari Prabowo, mahasiswa Sastra Inggris 2003, merasa tidak risih dengan minimnya fasilitas di kampusnya. Hanya saja masih perlu perbaikan SDM. Ia menyoroti tak adanya waktu yang cukup bagi mahasiswa untuk konsultasi dengan dosen. Menurutnya, hal ini karena setiap dosen mengampu banyak mata kuliah. Pagi hari mereka mengajar kelas reguler atau DIII, sore harinya masih harus mengajar kelas ekstensi. Belum lagi yang nyambi di swasta.
“Gimana ya, dosen kan juga manusia, hahaha….“
Ari mulanya terpengaruh oleh akreditasi yang diperoleh pada jurusan Sastra Inggris, studi yang ia tekuni sekarang. Ia mendapat informasi sewaktu mengikuti Bimbingan Belajar (Bimbel) untuk persiapan mengikuti SPMB. Ia adalah alumni SMU 3 Semarang. Sebelum kuliah, ia sudah sempat melihat kampus FS Undip. “Dengan kampus seperti itu kok bisa dapat akreditasi A, pasti orang-orangnya hebat. Tapi ternyata, sama saja,“ kenangnya, kecewa.
Dia melihat banyak mahasiswa yang salah tempat. Misalnya sebenarnya mereka ingin masuk di fakultas tertentu. Fakultas Sastra hanya menjadi pilihan yang kesekian kalinya. Karena tidak diterima di pilihan yang pertama, belajarnya pun setengah-setengah.
Dia juga tidak sepakat dengan komentar Agung yang mengatakan bahwa Fakultas Sastra Unnes lebih baik dari FS Undip. Menurut pengamatannya, kondisi keduanya sebenarnya tak jauh berbeda. Kualitas dosen di sini lebih baik. Hanya saja kegiatan kemahasiswan di sana lebih aktif. Hal ini yang kemudian membuat kesan di luar seakan-akan Unnes lebih baik.
Sejak tahun 2004, Ari telibat di EDSA, organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris. Ia menjabat sebagai staf pengurus DEC (Diponegoro English Club), badan semi otonom di bawah EDSA. Ia menyayangkan respon mahasiswa yang masih sangat kurang. Ia mengusulkan agar DEC menjadi kelas suplemen Speaking bagi mahasiswa Sastra Inggris. ”Masak mahasiswa Sastra Inggris kok malu-malu ngomong Bahasa Inggris,“ ujarnya sambil nyengir.
Selain itu, ia juga mengusulkan agar beberapa matakuliah yang tidak relevan dihilangkan. Atau kalau perlu diganti dengan matakuliah yang berkaitan dengan jurusan. Ia mengambil contoh matakuliah pendidikan Pancasila dan Pendidikan Agama.
”Saya bukannya orang yang atheis, tapi kalau matakuliah pendidikan agama masih diberikan, kok kayaknya nggak perlu,“ ujarnya tersenyum.
Menanggapi komentar para mahasiswa tersebut, Rahayu Prihatmi menilai bahwa FS Undip sudah selayaknya mendapat akreditsi A. Alasannya, karena memang jurusan-jurusan tersebut bagus. “Jurusan Sastra Inggris memang bagus dan sudah selayaknya menyandang akreditasi A.. Jurusan Sastra Indonesia juga bagus karena banyak guru besarnya di bidang linguistik.. Sejarah SDMnya sangat tangguh, mereka banyak yang sudah S3 dan sering menerima proyek hibah bersaing.”

MEMANG ada banyak kriteria yang digunakan untuk penilaian akreditasi. Mahasiswa menganggap masih banyak hal yang harus diperbaiki. Diantaranya seperti kualitas SDM, fasilitas, dan birokrasi kampus. Karel Juniardi, presiden BEM FS Undip, mengatakan bahwa sistem pengajaran selama ini masih buruk. Padahal prestasi mahasiswa juga ditentukan oleh kualitas dosen dalam mengajar.
”Seorang pengajar yang baik pasti akan menghasilkan mahasiswa yang baik. Ya kalau mahasiswanya masih begitu, pengajarnya perlu dipertanyakan. Capable nggak?.” katanya.
Karel menilai pengajaran di FS Undip terlalu santai. Dosen kurang memberikan pelatihan-pelatihan ataupun penugasan. Akibatnya, mahasiswa banyak menganggur. ”Coba kalau dosen sering memberi pelatihan ataupun penugasan, pasti mahasiswa akan lebih aktif, jadi tidak nganggur, ” tambahnya.
Selain itu, sangat perlu diadakan peningkatan kualitas pengajar. Salah satunya dengan mendatangkan dosen tamu dari luar negeri. Dia mengusulkan agar jurusan Sejarah yang ada bahasa Belanda selama empat semester bisa mendatangkan dosen dari Belanda langsung.
Selama ini fasilitas di FS Undip juga sering dikeluhkan. Mulai dari kamar kecil yang kotor, perpustakaan yang tidak lengkap, hearphone laboratorium yang tidak berfungsi, pelayanan administrasi yang kurang ramah dan masih banyak lagi yang lainnya.
Drs.Catur Kepirianto, dosen Sastra Inggris juga mengakui bahwa masalah fasilitas kampus ini memang memprihatinkan.”Ya, memang kita harus sangat prihatin. Sangat prihatin sekali. Karena, seperti lab dan fasilitas yang lain digunakan untuk bisa belajar dan mengajar secara maksimal, tetapi mungkin masalah dana yang minim, keinginanan untuk memperbaiki itu menjadi tersendat, “ ungkapnya prihatin.
Bakhtiar Aulawi, mahasiswa Sastra Inggris 2000, tidak sepakat bila kondisi fasilitas kampus yang memprihatinkan ini karena alasan minimnya dana. Menurutnya, fakultas memang tidak memprioritaskan perbaikan fasilitas tersebut. “Coba berapa kali tuntutan untuk perbaikan WC itu dilontarkan oleh mahasiswa. Berkali-kali kritikan itu disampaikan lewat Surat Pembaca Hayamwuruk, tapi baru-baru ini fakultas menanggapinya, “ungkapnya kesal.
Kemudian Bakhtiar membandingkan dengan pembangunan gedung di samping pos satpam yang pada tahun ajaran baru ini dibuka untuk layanan foto kopi dan wartel. “Itu entah usul dari mana. Yang jelas bukan dari mahasiswa. Tapi kok bisa dengan cepat terselesaikan ya, tidak kayak WC yang perbaikannya harus menunggu sekian tahun. Keberadaannya juga perlu dipertanyakan, “ungkapnya tambah kesal.
Di sisi lain, Rahayu Prihatmi juga mengaku prihatin. Walaupun mendapat akreditasi A, jurusan Sastra Inggris belum mempunyai dosen yang gelar doktornya murni sastra. “Itu merupakan keprihatinan saya. Kita dapat A tetapi dosen-dosen inggris yang murni sastra gelar doktornya hampir tidak ada. Kosong lho jurusan inggris ini. O ya, hanya pak Heru dan bu Hendrati saja. Lainnya S2. Yang murni Sastra Linguistics hanya dua itu tadi, ” sesalnya.
Dia juga merasa jengkel. Dosen-dosen Sastra Inggris hanya mau studi di dalam negeri saja. Padahal beasiswa ke luar negeri itu banyak. Tapi tidak sepenuhnya dimanfaatkan.
Karel menilai bahwa selama ini fakultas juga kurang memberi perhatian pada mahasiswa. Khusunya dalam keikutsertaan lomba-lomba, seperti karya ilmiah, debat kontes, dan sebagainya. Hal ini membuat kegiatan mahasiswa terkesan seenaknya.
Selama ini penelitian-penelitian yang dilakukan baik oleh dosen maupun mahasiswa masih sangat kurang. Sebenarnya dosen harus bisa membagi waktu untuk megajar dan penelitian.“Kan ada Tri Dharma yah, pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Nah ketiga-tiganya harus seimbang. Saya melihat penelitiannya justru masih sangat kurang, “tambahnya.
Sementara itu, jurusan Sastra Inggris punya tips sehingga akreditasi A bisa diraih. Agus Subianto mengakui jurusan Satra Inggris masih kurang aktif dalam penelitian. Namun kekurangan itu bisa ditutupi dengan kelebihan lainnya, seperti kualitas dosen, IPK mahasiswa, lamanya masa studi dan lainnya sehingga akreditasi A bisa Kita Peroleh.
Peran mahasiswa dalam keikutsertaan lomba juga berpengaruh dalam penilaian. Contohnya karya ilmiah. “Kemarin karya ilmiah juga sempat dihasilkan mahasiswa. Kita tahu ternyata HMJ Inggris membuat majalah Miracle, itu kan juga poin tersendiri,” ungkap Agus bangga.
Muzzaka Musaif, Sekretaris Jurusan Sastra Indonesia, mengatakan bahwa saat ini jurusan Sastra Indonesia tengah berbenah. Salah satunya dengan memperbaiki database jurusan yang selama ini masih kacau. Selain itu, perpustakaan jurusan juga sudah dikatalogisasi. “Kita sudah mengupayakan perlengkapan hal-hal yang berkaitan dengan database jurusan. Karena waktu itu kita mendapat kritik bahwa data-data tentang kemahasiswaan itu tidak lengkap, ”ungkapnya.
Kriteria penilaian juga termasuk pada jumlah IPK yang diperoleh mahasiswa, lamanya waktu studi, jumlah SKS yang telah ditempuh. Di Jurusan Sastra Indonesia sendiri, menurut Muzakka, rata-rata lamanya studi adalah 5 tahun. Bahkan ada yang 3 tahun 9 bulan. Indeks Prestasi rata rata mahasiswa Sastra indonsia adalah 2,75, bahkan pernah rata-ratanya hampir 3,00.
Jurusan Sastra Indonesia juga pernah memenangkan hibah kompetisi. Namanya SP4.”Kita baru saja dapat SP4, kemarin kita dapat tiga ratus sekian juta. Sedangkan yang kedua ini katanya gagal, kita harus merevisi lagi untuk diikutkan tahun depan, ”tambahnya.
Manfaat akreditasi yang dirasakan jurusan Sastra Indonesia adalah tambahan jumlah kursi dari Dikti. Sastra Indonesia saat ini bisa menerima 60 mahasiswa. Tahun lalu hanya dijatah 40 kursi saja. Termasuk juga Jalur PSSB, Sastra Indonesia sekarang menerima 15 kursi, walaupun yang mendaftar ulang hanya sekitar 8 orang.
Keterbatasan dana juga diakui oleh Rahayu Prihatmi. Selama ini, fakultas memang tidak bisa mendanai untuk masalah fasilitas. Menurutnya dana pengembangan fakultas ini urusan pemerintah.” Fakultas kemampuannya apa? Harusnya yang memikirkan negara, ”ujarnya.
Selanjutnya, seperti diungkapkan oleh Rahayu Prihatmi dalam sambutannya pada malam resepsi peringatan lustrum VIII FS Undip, nama FS Undip akan diubah menjadi fakultas Ilmu Budaya. Usulan ini baru diajukan ke Dirjen Dikti. Alasannya, nama fakultas Sastra terlalu sempit, tidak bisa menampung lagi jurusan maupun program studi yang ada. “kita kan tidak hanya mempelajari ilmu sastra, tapi juga ilmu humaniora yang lain, “paparnya.
Apakah kabar adanya rencana perubahan nama FS Undip tersebut merupakan kabar gembira atau justru meresahkan para mahasiswa?
“Kampus ini sudah semakin sempit, tapi anehnya penerimaan mahasiswa terus ditambah. Program-program studi juga dibuka. Padahal yang sudah ada saja belum terurus dengan baik, “ungkap Bakhtiar kecewa.
Rupanya ada perbedaan pendapat antara mahasiswa dengan pihak birokrat kampus. Di satu pihak menganggap akreditasi ini memang layak disandang, namun di sisi lain pihak masih ada ketidakpuasan.****

One thought on “Menimbang Akreditasi Fakultas Sastra

  1. Best regards from NY! Nexium 40mg lowest price getting off depakote wall phone answering machines Cell phone walkie-talkie software Vicodin chemistry Pain vicodin symptom Counter ice machine top Convertible+sofa+bed+with+storage Guide to klonopin High performance notebook batteries

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top