Ada Tomboi di Fakultas Sastra

Tomboi adalah pilihan hidup. Bahkan sebagian perempuan menjadikannya sebagai ideologi. Namun demikian tomboi pada dasarnya memilki sifat naluriah sama seperti umunya wanita.

Oleh Tari Apriliya dan Rima Mayasari
Tabloid Hawe Pos, Edisi 14/Mei/2006
Rubrik Gaya Hidup Mahasiswa
FENOMENA ketidaksesuaian prilaku dengan jenis kelamin seseorang bukan hal aneh sekarang. Lelaki yang menyerupai perempuan atau perempuan yang menyerupai laki-laki telah mendapat pengakuan di masyarakat meski tidak secara langsung.
Buktinya bisa dilihat dari adanya pemilihan Miss Waria beberapa saat lalu. Film yang menampilkan sosok tomboi pun tak sedikit. Contohnya Anjeli dalam film Kuch-Kuch Hotahai, Sasya dalam Me Vs High Hells, Karmen dalam Ada Apa dengan Cinta.
Perubahan seorang tomboi memang tak se-ekstrim Waria; dandanan menor bak putri cantik yang turun dari taksi. Alasannya bisa karena dandanan ala laki-laki telah menjadi wajar bagi perempuan. Celana, kaos maupun kemeja yang dulu identik dengan laki-laki sekarang umum dipakai perempuan.
Tak menampik bila ada banyak model yang disesuaikan dengan tubuh perempuan. Mengenai potongan rambut, model pendek pun kini telah wajar bagi kaum Hawa. Meski demikian, ada beberapa hal yang menyebabkan orang mengecap tomboi terhadap seseorang.
SUATU siang, beberapa mahasiswa Sejarah angkatan 2002 duduk di tangga kampus Sejarah dan Kearsipan, Tembalang. Tiba-tiba, ada yang berseloroh tentang temannya yang menurut mereka tomboi. Namanya Oliana, mahasiswa Sejarah angkatan 2002. Beberapa alasan dikemukakan. Diantaranya karena penampilan Oliana yang maskulin, sporty, dan cuek.
Mungkin mereka benar. Siang itu, Oliana memakai kemeja kotak-kotak, sepatu kets, dan tas punggung. Ditambah potongan rambut pendek ala laki-laki seperti membenarkan komentar teman-temannya. Tapi, cap tomboi yang ditujukan padanya tak membuat dirinya minder. Sebaliknya, ada rasa bangga pada dirinya. “Ya, lebih gampang masuk ke link-link anak-anak cowok lah,” katanya beralasan.
Oli, sapaan Oliana, mengaku sifat tomboinya dipengaruhi lingkungan. Ini disebabkan karena tuntutan hobbinya yang gemar basket sehingga berpengaruh pada gayanya berpenampilan. “Mau nggak mau aku lebih nyari gaya yang simple dan nyaman buat aku. Tapi ada juga sih anak basket yang feminin” katanya.
Oli sendiri tak menilai dirinya tomboi. “Menurutku, penampilanku ini cenderung ke arah casual. Cari simpel-nya aja. Ya, orang-orang liat kan lebih kayak cowok. Bahkan aku sering dikira cowok,” ujarnya sambil tersenyum. “Tapi bagi orang yang mengenalku lebih dekat, dia pasti bilang kalau aku nggak tomboi” tambahnya, sambil melirik teman-temannya. Sementara teman-temannya hanya tersenyum melihatnya.
Tidak hanya Oliana. Ari, mahasiswa DIII Inggris FS Undip juga dikenal tomboi. Celana, kemeja, rambut pendek, dan rokok telah menjadi bagian dari hidupnya. Tomboi baginya adalah rambut cepak, tidak dandan, cara berjalan dan bersikap beda dari yang lain. Selain itu, mereka juga biasanya gaul, banyak teman, dan tahu cara bersosialisasi. Apakah menurutnya ia tomboi? Dengan mantap, semangat, dan cepat, “Ya” jawabnya.
Ada cerita menarik dari Ari. Tak jarang, katanya, banyak tatapan mata yang memelototinya dengan aneh. Jika seperti ini, ia biasanya balik menatapnya. “Kalau lagi mood, aku senyum ma orang itu.” Ia sering dikira laki-laki. Perlakuan dari teman-temannya juga kadang beda. Ia dianggap punya kekuatan seperti laki-laki.
Awal perubahan pada dirinya, ia rasakan sejak ia masih di SMA. Pergaulan di sana berbeda dengan SMP. Dulu waktu SMP begitu mudah berteman, sedang di SMA ternyata susah. Ia berpikir bagaimana cara agar mendapatkan teman banyak. Akhirnya ia memutuskan untuk merubah penampilan. Dari yang feminin menjadi maskulin. Dan beginilah ia sekarang. Kata orang, tomboi. Penampilannya yang baru, ternyata tak ditentang keluarga. Ia juga merasa lebih nyaman. Apalagi ketika berpenampilan seperti itu membuat lingkungan lebih terbuka terhadapnya.
Yan, mahasiswa Sejarah 2004, membenarkan para cewek tomboi itu tidak manja. “Enak diajak hang out bareng, ngapain aja bisa,” tambah teman-teman yang sepakat dengan pendapat Yan.
Widhi, mahasiswa Sejarah angkatan 2004 berpendapat sama dengan Yan. Ia juga mengaku enjoy berteman dengan gadis tomboi tapi tidak untuk dijadikan pacar. “Setomboi apa pun perempuan, dia pasti punya sisi sensitif dan kedewasaan yang sewaktu-waktu bisa muncul,” ungkapnya.
MASIH banyak lagi persepsi orang tentang tomboi. Casual itu sendiri juga dianggap bagian dari gaya hidup tomboi. Oleh karena itu, ada yang berpendapat bahwa tomboi sekadar style seperti yang dikatakan Oliana. Tapi bagi Ary dan Eka, tomboi adalah ideologi. Tomboi tidak hanya mencerminkan penampilan tapi juga prilaku yang mirip laki-laki. Tomboi adalah sebuah pilihan hidup.
Risdha, mahasiswa Sejarah 2002 berpendapat bahwa tomboi itu perempuan yang berambut pendek cepak, berpakaian ala laki-laki serta gaya yang anti-feminin.
Toufan, mahasiswa jurusan Psikologi angkatan 2002, berpendapat senada. Ia menambahkan bahwa kriteria tomboi bisa dilihat dari cara berjalan dan bicaranya yang cuek. Mereka biasanya gemar atas pernak-pernik. Dan menurutnya, tomboi bukan sekadar style tapi cenderung pada masalah ideologi. “Karena seseorang menjalani itu tidak ikut-ikutan. Tapi dari keinginannya sendiri yang merasa lebih nyaman dengan penampilan seperti itu,” ujarnya.
Sementara Menurut Dra Hasta, Dosen Psikologi Undip, tomboi adalah perempuan yang mempunyai sifat, tingkah laku, cara berpakaian dan pola pikir seperti laki-laki. Walau begitu, tomboi tetaplah perempuan yang punya dasar, perasaan, dan naluri seorang perempuan. Sifat keperempuanan seorang tomboi akan muncul ketika ia jatuh cinta. Dan ketika memiliki anak. Di hadapan sang pacar, biasanya perempuan yang bersifat tomboi akan berlaku sangat manja.
Karena itu, tomboi bisa kembali lagi menjadi perempuan feminin. Nonik, mahasiswa Indonesia 2004, bisa dijadikan rujukan. Semenjak mempunyai pacar, ia kembali menjadi perempuan pada umumnya yang feminin meski kadang sifat tomboi-nya masih terlihat. Sedang Oli, meski punya pacar, tetap tak merasa terpengaruh. Tambatan hatinya dapat menerima apa adanya.
Bagi Ari sendiri, ia pun ingin berubah menjadi feminin. “Suatu saat aku ada keinginan untuk jadi berubah feminin, tapi nggak sekarang,” katanya. Usia 25 tahun, ia punya target menikah. Pada saat itulah, ia harus kembali menjadi perempuan semestinya.
Menanggapi tentang kemungkinan perubahan itu, Oly hanya mengatakan akan berubah ketika telah menemukan laki-laki yang bisa memenuhi semua keinginannya. “Tapi nggak sekarang,” ujarnya sambil tertawa.
Kadar tamboy perempuan cenderung variatif. Tak ada patokan pasti untuk menyebut seseorang itu tomboi. Namun dari ciri-ciri kebanyakan, dapat diambil kesimpulan, seseorang dianggap tomboi bila masyarakat awam mengatakannya tomboi.
Sedangkan tomboi, menurut Hasta, biasanya disebabkan salah asuhan, ingin bergaya, bawaan lahir. Mereka yang tomboi kadang berpenampilan aneh-aneh. Semakin mengejutkan semakin baik bagi mereka. Cara seperti ini biasanya digunakan untuk menunjukkan pada orang tua bahwa anak-anak mereka sekarang mempunyai pikiran sendiri. Secara perlahan-lahan remaja mulai mencampurkan banyak nilai-nilai yang berbeda dari segala macam sumber ke dalam nilai mereka yang telah ada.
Selain itu, remaja seringkali memandang dirinya sendiri melalui mata teman-teman sebaya. Tiap penyimpangan penampilan, berpakaian atau perilaku dapat menyebabkan penurunan harga diri atau sebaliknya menjadi kebanggaan.
Terlepas dari asumsi orang-orang tentang tomboi, mereka tetaplah wanita yang berperasaan halus. Tomboi merupakan pilihan hidup yang sengaja atau tidak telah menjadi bagian dari hidup mereka. Rasa nyaman dan enjoy menjadi salah satu alasan kenapa mereka berperilaku demikian. Hanya satu yang mereka harapkan, seperti yang dituturkan Oliana. “Selama aku nggak gangguin orang, aku harap keadilan juga terjadi padaku. Dan mereka bisa menghargai pilihanku”. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top