Tak Lekang oleh Waktu, Tak Lapuk oleh Usia





Meski telah dibangun lebih dari 150 tahun silam, Dibya Puri masih berdiri megah. Dengan bangunan yang eksotis dan keramahan karyawan, hotel ini berbeda dari yang lainya.



Oleh Siti Andriyani

Tabloid Hawe Pos, Edisi 14/Mei/2006
Rubrik Wisata Budaya


PAGI beranjak siang. Terik matahari pagi mulai memancarkan sinar ultra violetnya. Sebuah mobil Daihatsu berwarna orange berhenti tepat di depan sebuah bangunan yang terletak di sekitar penghujung jalan Pemuda. Tepatnya di jalan Pemuda nomor 11. Bangunan itu berdiri membentuk sudut 25 derajat menghadap ke arah pasar Johar, sebuah pasar tua yang terletak di sekitar kompleks Kota Lama Semarang.

Bangunan tua tersebut tak lain adalah hotel Dibya Puri, hotel tertua di Semarang setelah mendiang hotel Jansen. Memasuki pintu utama hotel, sentuhan arsitektur bangunan khas zaman pendudukan Belanda begitu terasa. Desain interiornya sebagian besar masih mempertahankan bangunan asal. Dindingnya masih terlihat kokoh dengan cat warna krem yang redup. Beberapa bagian dinding dan langit-langit tampak mengelupas. Tebal dinding itu lebih dari tiga puluh sentimeter. Pilar-pilar besar dan tinggi menyangga bangunan ini. Masing-masing dilapisi kayu berwarna coklat gelap. Di ruang lobby ini beberapa meja tertata rapi lengkap dengan kursi-kursi yang melingkarinya.

Seorang laki-laki paruh baya mengantar saya menuju tangga dan mengajak naik ke lantai dua. Anak tangga itu berlantai marmer. Warnanya putih dengan motif garis-garis warna hitam, sama seperti lantai di ruang lobby. Ubin marmer itu cukup besar, sekitar 60 centimeter persegi. Dinding tangga terbuat dari kayu dilapisi kuningan yang dihiasi ukir-ukiran. Warnanya yang pudar membuat ukiran itu tampak tidak jelas. Di bagian atasnya, sebuah besi berwarna kuning pudar membujur menyusuri bagian atas dinding tangga. Bentuknya mirip pipa. Lampu bulat menancap menghias di ujung dinding tangga.

Saya tiba di lantai dua. “Silakan lihat-lihat sendiri. Kalau butuh informasi silakan hubungi front office”, ucapnya. Keriput wajahnya seketika tersembunyi oleh senyum ramahnya. Tak lama kemudian ia pamitan. “Benar-benar bangunan tua”, gumamku ketika melihat salah satu kamar yang ditunjukkan. Kamar itu berukuran sekitar 4×4 meter. Di dalamnya terdapat tiga dipan kayu lengkap dengan kasur dan sprei warna putih. Di atasnya menggantung sebuah kipas angin. Sebuah lemari kayu berada di sudut kamar, kemudian TV 21 Inch berada di sebelahnya melengkapi fasilitas kamar ini. Sayang kamar mandi berada di luar.

Di halaman depan hotel dihiasi taman dan pepohonan. Tampak tiga buah meja berpayung dengan cat berwarna merah yang sudah mulai luntur. Tulisan ‘Sosro’ berwarna putih masih terlihat samar-samar. Beberapa kursi lipat dari besi melingkarinya. Di samping kanan terdapat taman kecil dengan dasar rumput yang halus. Di tengahnya tampak bekas kolam air muncrat yang sudah tidak berfungsi lagi.

Suasana di jalan raya depan hotel sangat ramai. Maklum disini pusat kegiatan ekonomi berlangsung. Beberapa orang tampak lalu lalang menyeberangi jembatan layang yang berada di depan hotel ini. Keberadaan jembatan layang itu mengganggu pandangan ke bangunan hotel dari seberang jalan. Selain pasar Johar, beberapa kompleks pertokoan berjejer di sepanjang jalan Pemuda. Di belakang kompleks pertokoan tersebut, terlihat atap sebuah masjid Agung Kauman. Warga Semarang biasa menyapanya dengan masjid Yaik Johar.

Pandangan saya kemudian beralih pada seberang timur jalan raya. Sebuah bangunan berdiri megah. Hotel Metro. Hotel berbintang tiga dengan desain bangunan modern. Amat kontras bila dibandingkan hotel Dibya puri yang masih bertahan dengan bangunan warisan kompeni yang telah berumur lebih dari 150 tahun.

Puas melihat-lihat ruangan di Dibya Puri, saya kembali ke bawah. Sejenak mengamati kembali ruangan ini. Sungguh eksotik. Bangunan yang telah berdiri selama ratusan tahun itu kini masih berdiri kokoh. Di ujung dinding ruang lobby terpampang lima foto hotel Dibya Puri dan sebuah nukilan sejarah bangunan hotel itu di masa lalu.

TAHUN I847. Sebuah villa bergaya Eropa didirikan di daerah Bojong. Sebelumnya, hotel Jansen telah berdiri di Heeren Sraat, sekarang disebut jalan Let. Jen Suprapto. Saat itu hotel Jansen merupakan hotel satu-satunya di Semarang. Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh pemilik villa untuk menyewakan villanya sebagai losmen. Seperti bangunan-bangunan Belanda pada umumnya, villa berlantai dua ini dibuat dengan sentuhan klasik khas Eropa. Pilar-pilar besar menjadi ciri khas bangunannya. Pada bagian atap bangunan berbentuk pelana.

Seiring perjalanan waktu, tahun 1883 villa yang diberi nama Du Pavillon ini mengalami penambahan pada sayap bagian kanan dan kiri. Bangunan utama masih tetap, tidak mengalami perubahan. Pada tahun 1892 dibuat kesepakatan pembagian saham untuk menunjang pembangunan hotel. Surat tersebut tercatat pada tanggal 4 Maret 1892. Peranannya semakin berarti ketika stasiun Tawang diselesaikan pada tahun 1913. Saat itu terjadi ketergantungan antara Du Pavillon dan stasiun Tawang. Di depan hotel yang dulunya bernama jalan Bojong terdapat perlintasan kereta api. Namun dalam perkembangannya, kereta api tidak lagi beroperasi di jalan Bojong. Jalan Bojong sekarang menjadi Jalan Pemuda.

Hotel ini telah mengalami renovasi besar-besaran pada tahun 1914 menjelang digelarnya pekan raya Semarang. Sayap pada bangunan utama masih utuh. Namun kedua ujungnya ditambah menara beratap piramida. Pilar-pilar besar dari bata diganti dengan kolom langsing dari besi. Selanjutnya status losmen berganti menjadi hotel.

Du pavillon juga menjadi saksi sejarah perjuangan pemuda Semarang. Tahun 1945 terjadi pertempuran sengit antara pemuda Semarang dengan penjajah Jepang. Peristiwa itu dikenal sebagai pertempuran lima hari di Semarang. Warga Semarang memperingatinya setiap tiba tanggal 14 Oktober. Hotel ini digunakan oleh pemuda Semarang sebagai markas pertahanan. Akibatnya hotel mengalami kerusakan pada dinding dan tembok. Pertempuran itu berakhir dengan perundingan untuk menghentikan gencatan senjata. Lobby hotel menjadi tempat perundingan tersebut.

N. V Semandy, pemilik Du Pavillon, menyerahkan hotel ini kepada pemerintah Indonesia bertepatan tanggal 9 Desember 1957. Manajemen hotel dipegang oleh perusahaan perkebunan negara dibawah Departemen Pertanian. Nama hotel pun diganti dengan “Dibya Puri” yang berarti bangunan yang kokoh. Tanggal 28 Desember 1960 manajemen hotel dilimpahkan kepada Departemen Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan Pariwisata. Beberapa hotel tua milik Belanda berjumlah 18 buah tersebar di beberapa kota di Indonesia. Jumlah ini sudah termasuk hotel Dibya Puri. Selanjutnya, hotel-hotel itu dikelola oleh PT Natour (National Hotel and Tourism Corporation ltd). PT Natour adalah Perseroan Terbatas milik pemerintah.

Tahun 1964 diadakan renovasi kembali yang mengubah façade bangunan inti. Busur-busur pada bagian tersebut dihilangkan dan serambi depan dimanfaatkan untuk perluasan ruang. Pada saat yang bersamaan, sebagian area yang berbatasan dengan Jalan Imam Bonjol dijual.

Status hukum dari PT. Natour diubah menjadi perseroan negara, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bersamaan dengan dikeluarkannya akte menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi, dan Pariwiasata tanggal 14 Februari 1976 No 26.

Dari awal berdirinya hingga kini, hotel Dibya Puri telah mengalami beberapa kali renovasi. Bentuk bangunan yang sekarang adalah perkembangan dari bangunan asli. Bangunan utama yang terletak didepan masih dengan dua menara pada kedua ujungnya. Tipe menara ini bisa dilihat juga pada villa Italia akhir abad 19.

Bangunan utama juga mengalami penambahan. Sebuah bangunan yang berbentuk persegi panjang dan bersekat ditengahnya diletakkan didepan bangunan utama. Bangunan ini dibuat hingga melebihi bangunan utama. Tulisan Hotel Dibya Puri terpampang di tengah bangunan tambahan tadi. Di atasnya terdapat spanduk yang bertuliskan “Mie jowo, Bir jowo, Nasi goreng jowo”. Makanan dan minuman khas hotel Dibya Puri ini bisa ditemukan pada saat menjelang malam. Gerobag mie jowo diletakkan di depan hotel. Tambahan bangunan pada bagian bawah berbentuk seperti koridor dengan atap zig-zag.

Sayap bangunan pada bagian timur masih ada. Tapi sayap bangunan pada bagian barat sudah tidak tampak lagi. Bangunan itu dijual pada tahun 1987 dan dibongkar pada tahun 2002. Terusan dari sayap barat masih menjadi milik Dibya Puri. Bangunan itu menempati areal belakang hotel dan juga berlantai dua seperti bangunan Dibya Puri yang lain.
Atap bangunan hotel masih berbentuk pelana dengan konstruksi kuda-kuda. Pintu dan jendela terbuat dari kayu, sebagian berpanel kaca dan sebagian berkrepyak. AC yang dipajang disetiap kamar sudah tidak difungsikan lagi. Sebagai gantinya dipasang kipas angin.

Banyak ruangan dan kamar yang sudah tidak dipakai. Misalnya pada bagian atas Puri Agung, yang sekarang menjadi restoran. Sebidang ruangan berisi lima kamar saling berhadapan. Kamar-kamar itu tampak kotor dan tidak terurus. Diantara kamar-kamar itu di ditutupi papan triplek yang penuh debu. Bila penutup itu di buka, pada zaman dulu penghuni kamar bisa melihat pemandangan kerumunan orang yang sedang berdansa di lantai satu yang sekarang dijadikan restoran.

Di depan ruang yang tidak dipakai itu, tiga ruangan masih terlihat apik. Puri Sari dan Puri Asri biasa digunakan untuk ruang seminar berskala 60-an orang. Di sebelahnya, berhadapan dengan bangunan yang tidak terpakai tadi, berdiri Puri Megah. Ruang ini biasa dipakai untuk seminar berskala lebih besar. Semuanya masih digunakan. Sebidang lahan terbuka berbentuk persegi berukuran sekitar 10 x 6 meter berada di antara Puri Sari dan Puri Megah dan bangunan yang tidak terurus itu. Sekelilingnya dipagari kayu setinggi rata-rata dada orang dewasa. Dari sini tamu akan bisa melihat pemandangan ruang lobby yang berada di lantai satu.

Dibya Puri mempunyai 49 kamar yang masih terpakai. Dua kamar family, 6 puri suite, 17 kamar moderate, 9 kamar standard, 5 kamar economy AC, 10 kamar economy non AC. Sedangkan kamar yang tidak terpakai karena sudah rusak ada lima berada di atas restoran. Selain itu ada ruang-ruang yang tidak terpakai di sebelah kamar-kamar yang disewakan.
DI RUANGAN yang tidak begitu luas, seorang laki-laki paroh baya bangkit dari kursi kerjanya. Dia mengenakan seragam batik Coklat. Dengan ramah ia mempersilakan saya duduk. Beberapa menit berlalu dan kami terlibat pembicaraan. Didik Sudarsono, General Manager Hotel Dibya Puri dengan ramah menjawab setiap pertanyaan saya.
Memegang jabatan tertinggi di hotel ini bukan sesuatu yang mudah baginya. Perlu Persiapan yang matang untuk memegang jabatan ini. Tidak mudah mengelola hotel yang telah lama merugi. Berbagai upaya dia lakukan untuk tetap eksis di hotel ini.

“Sebenarnya kita masih mencoba bisa melakukan suatu pengoptimalan agar tetap eksis tapi dengan perkembangan-perkembangan yang ada, hotel lain tumbuh sehingga berpengaruh juga pada kondisi kita. Terus terang saja dari produk kita jauh tertinggal dengan mereka. Mau tidak mau secara umum, secara logika orang akan memilih produknya yang lebih convenience. Nah inilah salah satu bagian kita berupaya eksis tapi disisi lain kita, produk kita tidak mendukung dengan beberapa hal lainnya yang memang menjadi penyebab yang mempengaruhi upaya bisa majunya hotel,” ucapnya.

Didik membuktikan bahwa dia bisa melakukan perubahan. Pada saat kepengelolaannya, hotel tidak lagi meminta dropping pada perusahaan pusat. Di mana sebelumnya untuk keperluan belanja, gaji, telfon, listrik, dan biaya operasional lainnya selalu minta dropping. Prestasi lain adalah meningkatnya servis karyawan. Sebelum Didik masuk, servis karyawan rata-rata Rp 40-50 ribu. Pada saat dia masuk servis meningkat menjadi Rp 100, 120, 130, 150 ribu hingga pada bulan Oktober 2004 mencapai hampir Rp 410 ribu diluar gaji.
Pihaknya juga berusaha merawat fisik hotel yang mulai lapuk. Upaya yang dia lakukan antara lain dengan perbaikan pada beberapa bagian termasuk pengecatan ulang Tentu saja perawatan itu dilakukan agar nuansa bangunan tua tetap terjaga. Misalnya, lantai hotel yang terbuat dari marmer tetap dijaga keasliannya. Dalam perawatan memang jarang dilakukan. Begitu juga dalam pemfungsian ruangan. Banyak ruangan dan kamar yang tidak terpakai dan tidak segera diperbaiki. Didik mengaku karena keterbatasan dana dalam kepegawaian. Dia mempekerjakan karyawan tetap dan karyawan kontrak. Saat ini ada sekitar 50 orang karyawan. 90% dari karyawan tersebut adalah karyawan tetap. Mereka kebanyakan sudah berusia baya. Lama mereka mengabdi antara 15-25 tahun. Sedangkan karyawan kontrak masa kontraknya tak sama. Satu bulan, dua bulan, sampai satu tahun, tergantung kebutuhan. Biasanya karyawan kontrak direkrut ketika ada karyawan tetap yang sudah pensiun. Untuk gaji, Didik enggan mengatakan jumlahnya. “Sesuai UMR lah”, jawabnya singkat.
Penghargaan juga diberikan kepada karyawan yang telah lama mengabdi. Mereka yang telah mengabdi selama 25 tahun diberikan penghargaan berupa piagam dengan pin emas atau dalam bentuk uang. Ada juga kategori untuk mereka yang mengabdi selama 15-20. Pada tanggal 14 Februari 2005, saat Dibya Puri berulang tahun yang ke 29, perusahaan memberikan penghargaan yang sama.

Dalam memasarkan hotel itu, pihaknya juga berusaha memadukan antara ketuaan bangunan dengan pelayanan. Keramahan para karyawan inilah yang menjadi daya tarik hotel ini selain bangunannya.

MENJELANG senja. Seorang laki-laki paroh baya duduk di depan pos satpam, di depan hotel. Ia mengenakan seragam batik orange. Rupanya dia sedang asyik ngobrol dengan temannya. Saya menghampiri pos satpam dan terjadi percakapan sejenak dengan Sudarsono, nama lelaki itu. Dia seorang bell boy di hotel Dibya Puri. Sore itu dia duduk-duduk di depan karena sedang istirahat sebentar.

“Mumpung belum ada tamu yang datang lagi”, tuturnya. Hotel itu memang tidak biasa ramai dikunjungi tamu. Dari penuturannya, rata-rata tamu yang datang tiap hari sekitar 5-7 orang. Hotel ini biasa digunakan untuk acara-acara seminar, kegiatan-kegiatan semacam workshop. Instansi pemerintahan yang paling sering meramaikan hotel ini.

Pagi hingga malam karyawan dan karyawati Hotel Dibya Puri bekerja sesuai dengan tugasnya. Dengan gaji sekitar Rp. 600 ribu, mereka tetap bertahan. Suasana kekeluargaan yang mereka dapatkan memang sulit ditemukan di hotel lain. Keramahan mereka dalam melayani tamu juga menjadi ciri khas pelayanan di hotel berbintang dua ini. Bahkan pelayanannya tidak kalah dengan hotel berbintang empat.****

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top