Orang-orang Tak Punya Waktu untuk Mati

Dengan tidur, ancaman tak jua selesai/Mimpi mengganas, menggamangkan tikaman-tikaman /pada jiwa yang terbuka, tertutup berganti-ganti/

Hawe Pos Edisi 15/V/Juni 2006
Rubrik Refleksi

Penggalan sajak di atas dicuplik dari puisi yang berjudul “Tidur Makin Jadi Neraka” karya Mustofa W Hasyim. Meski ditulis tahun 1990, namun tepat sekali melukiskan keadaan Yogyakarta saat ini.

Gempa yang melanda Yogyakarta dan sebagian wilayah di Jawa Tengah akhir bulan Mei lalu diluar dugaan kebanyakan orang. Disaat perhatian masyarakat tertuju pada Gunung Merapi, gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala richter mengejutkan warga yang sebagian masih berada di atas tempat tidur. Dalam sekejap, Bantul dan Klaten yang merupakan lokasi gempa terparah, nyaris rata dengan tanah. Dari informasi humas Pemprov DIY (22 /6), sebanyak 5761 orang meninggal dunia dan 37339 lainnya luka-luka.

Sejak hari itu, warga yang selamat dari maut selalu terjaga dari tidurnya. Masih antara mimpi dan sadar menyaksikan bumi tempat mereka berpijak telah hancur. Tiba-tiba saja batinnya berguncang. Lebih hebat dari guncangan gempa yang sebenarnya. Tak kuat menahan tekanan batin, sebagian warga menjadi gila. Bahkan ada yang nekat mengakhiri hidupnya.


Dengan tidur, ancaman tak jua selesai/Mimpi mengganas, menggamangkan tikaman-tikaman /pada jiwa yang terbuka, tertutup berganti-ganti/

Oleh Endah Kurniawati

Hawe Pos Edisi 15/V/Juni 2006
Rubrik Refleksi

Penggalan sajak di atas dicuplik dari puisi yang berjudul “Tidur Makin Jadi Neraka” karya Mustofa W Hasyim. Meski ditulis tahun 1990, namun tepat sekali melukiskan keadaan Yogyakarta saat ini.

Gempa yang melanda Yogyakarta dan sebagian wilayah di Jawa Tengah akhir bulan Mei lalu diluar dugaan kebanyakan orang. Disaat perhatian masyarakat tertuju pada Gunung Merapi, gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala richter mengejutkan warga yang sebagian masih berada di atas tempat tidur. Dalam sekejap, Bantul dan Klaten yang merupakan lokasi gempa terparah, nyaris rata dengan tanah. Dari informasi humas Pemprov DIY (22 /6), sebanyak 5761 orang meninggal dunia dan 37339 lainnya luka-luka.

Sejak hari itu, warga yang selamat dari maut selalu terjaga dari tidurnya. Masih antara mimpi dan sadar menyaksikan bumi tempat mereka berpijak telah hancur.

Tiba-tiba saja batinnya berguncang. Lebih hebat dari guncangan gempa yang sebenarnya. Tak kuat menahan tekanan batin, sebagian warga menjadi gila. Bahkan ada yang nekat mengakhiri hidupnya.

Benar, warga yang selamat tidak berarti lepas dari masalah. Mereka menanggung beban yang teramat berat karena harus menjalani hidup yang tak mereka duga sebelumnya. Perjalanan panjang itu seolah-olah kini harus dimulai kembali dari awal, tanpa teman dan bahkan tanpa bekal yang telah mereka persiapkan.

****
Benarkah semua yang kita hadapi dalam kehidupan ini adalah serba kebetulan?
Jauh hari sebelum gempa Yogya dan Jateng, bencana tsunami di penghujung tahun 2005 telah menelan korban hingga ratusan ribu warga Nanggroe Acheh Darussalam (NAD) dan sekitarnya. Setelah peristiwa itu, bencana susul-menyusul melanda beberapa wilayah di nusantara ini. Longsor di Banjanegara, banjir di Jember, dan beberapa kali gempa terjadi di luar pulau Jawa. Hingga pasacagempa Yogya dan Jateng, bencana masih terus berlanjut hingga sekarang.

Seandainya peristiwa demi peristiwa itu bukan sebuah kebetulan, bencana tsunami di NAD dan gempa tektonik di DIY menyiratkan sebuah peristiwa besar. Kehancuran dua daerah itu mewakili kehancuran nusantara ini. Mengapa bisa demikian?

Secara historis, Tanah Rencong merupakan kerajaan besar di masa lampau. Wilayah ini menjadi pintu masuk penyebaran agama islam di Indonesia. Maka tak aneh jika tampat ini dinamakan Serambi Mekah. Secara simbolik, Acheh mewakili kekuatan spiritual bangsa ini.

Sementara Yogyakarta, sampai sekarang daerah ini masih dipimpin oleh keturunan kerajaan yang sekaligus menjabat sebagai gubernur DIY. Bila Acheh mewakili simbol spiritual, maka Yogya adalah simbol kekuasaan.

Nusantara ini sejak dulu telah dibesarkan dalam dunia kerajaan. Keberadaan kerajaan di Yogyakarta bisa menjadi simbol kekuasaan di Tanah Jawa. Sedang Jakarta sebnarnya hanya merupakan simbol kekuasaan formal. Buktinya ketika gempa melanda Yogya, presiden SBY pindah kantor ke sana. Ada apa gerangan, apakah itu dilakukan karena mendesak, atau sekedar mencari simpati untuk merebut pengaruh kekuasaan di Yogyakarta?

Selama Orde Baru hingga reformasi, situasi di Acheh terus bergejolak. Hal ini dipicu oleh kecemburuan masyarakat lokal atas ketimpangan pembangunan di wilayahnya jika dibanding dengan daerah lain. Mereka iri dengan Jakarta dan Jawa yang tanahnya tak sesubur tanah miliknya namun kemajuan lebih pesat.

Jawa bagi sebagian penduduk Acheh tak ubahnya kompeni, yang patut diperangi, karena telah menghisap dan menindas. Dari sini mucul pertentangan antara kekuatan spiritual dan kekuasaan. Endingnya sangat menyedihkan, ribuan mayat bergelimpangan karena harus lebih dulu berperang melawan kekuasaan alam.

*****
Jika hidup ini adalah sebuah rangkaian peristiwa yang serba kebetulan, orang-orang punya alasan untuk tak siap mengahadapi sesuatu yang menimpa dirinya. Maka, ketika sesuatu terjadi, orang akan mengalami keterkejutan yang sangat hebat. Dan hasilnya adalah pembalikan dari keadaan yang sebenarnya. Mereka memilih menutup buku kehidupan yang dirasa tidak menguntungkan lagi.

Peristiwa demi peristiwa telah disajikan di depan mata. Manusia memiliki waktu 24 jam dalam sehari untuk sejenak menengoknya kembali sebelum kematian itu menjemput. Adakah yang salah dengan buku kehidupan yang telah kita gorekan selama ini?

Orang-orang beli puisi di warung kopi
Orang-orang tak punya waktu untuk mati
…………( Joko Pinurbo: “Yogyakarta Linus”)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top