Lebih Asik dengan Musik Jepang

Ketika musik J-Pop mendapatkan tempatnya di Indonesia, musik dalam negeri terabaikan.

Oleh Diantika Permatasari W
Reporter : Ahmad Khairudin

PEKIKAN suara Yoake Mae dengan Heart of Sword menghentak dari salah satu ruang Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Sastra Undip. Belakangan, suara itu ternyata berasal dari sekretariat BEM. Seorang laki-laki berponi tengah memainkan mouse sembari menirukan lirik salah satu sountrack anime (film animasi) Samurai X itu. Sekilas aransenmennya mengingatkan kita pada lagu “Idola Indonesia”, theme song Indonesia Idol.

Sesekali kaki dan kepala laki-laki itu digerak-gerakan mengikuti hentakan drum musisi asal Jepang tersebut. Ia tampak khusuk bersila di depan komputer. Dia adalah Arie Nugroho, mahasiswa Sastra Inggris 2003, dengan hikmat menikmati alunan musik dari negeri Sakura itu.

Musik-musik Jepang diakui Arie sebagai teman aktivitasnya. Ia lebih suka jenis musik yang m,enghentak. Tak heran bila ia lebih memilih J-rock ketimbang J-pop. “Lanang po rak,” bisik Arie meyakinkan dirinya.

Kegemarannya dengan musik Jepang berawal ketika ia mengikuti cerita anime Senseiya yang pernah ditayangkan di salah satu televisi swasta. Waktu itu Arie masih duduk di bangku sekolahj dasar. “Awalnya suka sama animenya lalu lama-lama juga suka sama sountracknya,” kata Arie bersemangat.

PADA DASARNYA Japanese Pop atau yang sering disingkat dengan J-pop merupakan istilah umum yang mencakup banyak genre musik Jepang. Seperti pop, rock, rap dan soul. Aliran ini mengacu pada musik populer di Jepang.

Sedangkan J-rock, Visual Kei (penampilan kostum band-band Jepang), J-rap, lagu anime, boysband, bubblegum pop, dan girl group merupakan istilah-istilah yang masih berkaitan dengan J-pop. Namun toko-toko musik di Jepang, umumnya membagi jenis musik dalam kategori J-pop, Enka, Klasik dan kategori Internasional.

Sebenarnya istilah J-pop diambil dari sebuah stasiun radio “J-WAVE”. Istilah ini digunakan untuk membedakan gaya musik modern dengan musik klasik Jepang yang disebut Enka atau bentuk ballad dari Jepang tradisional. Selain penyanyi J-pop, seiyuu (pengisi suara) anime biasanya juga ikut menyumbangkan vokalnya dalam anime tersebut.

Akar dari J-pop berawal dari musik Jazz yang menjadi populer pada awal era Showa, yakni era yang dimulai pada tahun 1926 oleh Kaisar Hirohito sampai dengan masa Perang Dunia II 1945.

Musik Jazz memperkenalkan berbagai jenis alat musik yang sebelumnya hanya dipergunakan untuk musik klasik dalam militer. Namun di masa Perang Dunia II, musik jazz sempat terhenti akibat tekanan dari tentara kerajaan Jepang.

Setelah masa perang berakhir, Tentara Amerika Serikat memperkenalkan kepada Jepang jenis musik khas Amerika seperti boogie-woogie, mambo, blues dan country. Tak heran bila musik-musik J-pop cenderung identik dengan beberapa musik Amerika. Hal ini dikarenakan gaya hidup orang Jepang pasca Perang Dunia II meniru gaya Amerika.

Namun, Jazz bukanlah jenis musik yang mudah dipelajari sehingga sebagian besar musisi amatir Jepang memilih untuk mempelajari musik country. Alasannya, karena musik country dianggap lebih mudah dipelajari.

Pada tahun 1956, barulah wabah Rock and Roll mulai melanda Jepang. Di sana banyak bermunculan grup-grup yang meniru Rock and Roll Amerika. Tapi puncak kejayaan aliran ini tidak bertahan lama. Turunnya pamor rock and roll di Amerika Serikat merembet ke Jepang.

Setelah itu, sebagian besar musisi Jepang mulai memadukan musik pop tradisional Jepang dengan rock and roll. Sedangkan musisi lain memilih untuk menciptakan musik yang baru,. yakni dengan mengambil lagu populer di Amerika lalu menerjemahkan liriknya ke dalam bahasa Jepang hingga muncul istilah “Cover Pop”.

Pada tahun 1970-an hingga pertengahan 1980-an, para musisi Jepang mulai menerapkan aransemen lagu yang lebih kompleks. Di era ini muncul beberapa artis seperti Takura Yoshida dan Yusui Inoue. Tema cinta, kesan pribadi dan minim dengan pesan sosial mejadi tema mayoritas. Musik jenis ini kemudian disebut New Music.

Pada tahun 1980-an, muncul istilah City Pop, yaitu musik-musik yang bertemakan kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo. Karena istilah city pop kurang begitu dikenal, banyak orang sulit membedakan antara city pop dan new music. Begitu istilah tersebut menjadi populer, Wasei Pop menjadi istilah untuk mendeskripsikan baik City Pop atau pun New Music.

Barulah pada tahun 1990, J-pop menjadi sebutan umum untuk sebagian besar musik-musik populer di Jepang. Salah satu kunci kesuksesan J-pop adalah menyesuaikan perkembangan gaya musik. Seperti Namie Amuro yang berawal dari Techno lalu berubah ke pop dan akhirnya hip-hop. Karenanya Amuro sampai sekarang masih merupakan artis populer.

Tingginya laju pertumbuan J-pop hingga mencatat perubahan sountrack dalam acara anime atau acara televisi sampai empat kali setiap musim dalam setahun. Bahkan sebuah anime bisa memiliki lebih dari 56 lagu dan sedikitnya satu lagu dirilis sebagai single. Tak hanya anime saja yang menggunakan sountrack J-pop. Dewasa ini acara televisi, acara radio, film, iklan, video game, bahkan acara berita di televisi pun menyuguhkan lagu-lagu J-pop sebagai penutup acaranya.

Salah satu keunikan dari band-band Jepang adalah keunikannya dalam berkostum di atas panggung. Mereka memiliki gaya dan cara yang bervariasi. Banyak pula yang menggabungkan musik maupun kostum mereka dengan budaya tradisionalnya atau style abad pertengahan.

Style atau gaya penggung mereka biasanya dipengaruhi oleh 4 genre musik, yaitu Gothic, metal, rock, dan industrial. Style-style itulah yang biasa disebut key visual atau visual kei.

Beberapa contoh style dalam visual kei yang sering dipakai oleh band-band J-rock dan sering ditiru para cosplayers (pemakai kostum) antara lain, Gothic, Lolita, Oriental, Groom Boom, Glam, Angelic, Fetish, Fairy Tale, Mediteranean, Punk, Cyber dan Free Style.

Dari sekian banyak style itu, sebagian orang kurang memahami penerapannya. Seperti Gothic yang dikenal dengan pakaiannya yang serba hitam. Tapi sebenarnya style ini tidak selalu menggunakan pakaian seba hitam. Bisa saja warna hitam digabungkan dengan warna-warna lain. Contoh band yang selalu mengusung style ini adalah Malice Mizer dan Moi Dixmois.

ARIE mengaku menyukai visual kei yang dikenakan musisi-musisi J-rock. Baginya hal itu merupakan salah satu kelebihan dari band-band Jepang.

Pendapat senada juga disampaikan Dani, mahasiswa D3 Inggris 2003 Undip dan Fajar, mahasiswa S1 Jepang Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) angkatan 2003. Waktu itu keduanya tengah berada di stand Orenji dalam acara Pentas Seni (Pensi) SMAN 3 Semarang (23/09/06) Jl. Pemuda.

Menurut mereka, penampilan visual kei merupakan hal yang terpenting bagi pemain band Jepang. Setelah itu baru kualitas musiknya. Karenanya, cosplay membuat keduanya lebih percaya diri. Terlebih bagi Fajar yang juga desainer cosplay di toko Orenji. Orenji merupakan toko penyedia pernak-pernik Jepang yang didirikan oleh sebagian dari anak-anak Zekkyo, Komunitas Jepang di dunia Cyber

Bayu Dwi S, mahasiswa D3 Inggris 2004 juga mengungkapkan hal yang sama. “Pakai cosplay kalau manggung it’s okay, tapi kalau keseharian budaya kita belum menerima”, komentar drumer Rindu Order yang beraliran brit-pop ini.

Yuu, mahasiswa D3 Jepang FS Undip, yang juga gitaris band Sansuro tidak sepakat jika kostum Jepang itu dalam keseharian, seperti seragam di Kampus. “Mending orang ga pake pakaian Jepang, tapi dia ngerti. Diajak ngomong nyambung. Orang Jepangnya aja kadang ga karuan. Pake sendal jepit, masa kita sendiri aneh” jelasnya.

Pendapat berbeda disampaikan Arip Pake P, bassis Fourth Avenue Café. Baginya kualitas musik merupakan hal yang terpenting dalam sebuah kelompok musik. Meski band yang dirintisnya juga beraliran J-pop, tetapi dia tidak pernah mengenakan visual kei tertentu. “Mending kita main yang bagus dulu lah,” tutur Arip.

Betotan bass dalam musik-musik J-rock biasanya lebih bervariasi, bahkan bisa melebihi petikan gitar. “Hal tersebut merupakan salah satu keunikan dari musik Jepang,” imbuh bassis yang nama bandnya sama dengan salah satu Caffe tempat berkumpulnya Komunitas Jepang di Surabaya, Ko-J-Tsu.

Lain lagi Reza, mahasiswa D3 Inggris 2005. Ia mengaku tidak suka memakai cosplay meski juga pecinta J-rock. Alasannya singkat, takut dibilang banci. Padahal sebenarnya tidak semua kei visual berpenampilan seperti cewek.

Desi, mahasiswa Ekonomi Udinus 2005 saat ditemui di akhir acara Pensi SMAN 3 Semarang, mengenakan kostum Jepang. Tapi ia mengaku tidak menyukai musik, budaya bahkan style Jepang. “Lha nggak sengaja. Cuma kebetulan aja lagi tren dan kebetulan aku juga punya,” ungkapnya, polos.

Meski rata-rata penggemar musik J-pop berawal dari anime, Dani mengaku jarang sekali mengikuti anime. Alasannya karena tidak ada waktu. Begitu juga dengan Reza, yang ingin konsentrasi dengan kuliahnya, mengaku juga tidak ada waktu untuk bergabung dengan komunitas.

Begitu dasyatnya virus J-pop membuat para penggemar musik jepang itu makin menggilainya. Contohnya Fajar. Ia mengaku tidak tahan jika sehari saja tidak mendengarkan musik Jepang. Saking gilanya dengan musik Jepang, Fajar tidak mengikuti perkembangan lagu-lagu baru dari barat, bahkan lagu-lagu dalam negeri sendiri.

“Ada sesuatu yang hilang bila tidak dengar musik Jepang meski satu hari saja”, ungkap Fajar.

Lalu, apa yang membuat mereka menyukai musik Jepang?

Alif Resy Martin, mahasiswa Fakultas Hukum 2002, yang juga anggota aktif Genki J1, mengatakan, beberapa grup musik Jepang memadukan nada-nada tradisional dengan modern. Bahkan ada yang memakai pakaian tradisional jepang setiap kali bermain musik.

“Karena itu ada Jpop, Jrock. Je-je-an. Bisa keliatan individualis tapi menarik, kreatif. Nyaris ga da yang bosenin” jelas Alif menutup pembicaraan.****

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top