Andai Parkir Sastra seperti Parkir di Mal Ciputra

Lahan parkir di halaman Fakultas Sastra sudah tak mampu lagi menampung kendaraan mahasiswa yang tiap tahun kian bertambah. Bagaimana jika dibuat bertingkat seperti parkir yang ada di mall?

Oleh: Rose KR dan Norma Atikasari
Reporter: Lailatul Fitri, Eka Harisma

“Parkir Dialihkan ke SEU”, bunyi tulisan di selembar kertas folio warna putih yang tertempel di pintu masuk Fakultas Sastra Undip. Sejumlah dosen, karyawan, dan mahasiswa yang hendak masuk ke area kampus Sastra pagi itu terkejut. “Busyet, ada apa nih,” celetuk salah seorang diantaranya.

Beberapa orang segera saja membelokkan kendaraannya menuju SEU, namun sebagian sempat bersitegang dengan petugas yang berjaga di depan pintu gerbang. Masalah segara bisa diatasi. Namun masalah lain muncul. Halaman SEU kini penuh dengan parkir mobil dan kendaraan mahasiswa.

Tak lama kemudian, pihak SEU mendatangi petugas di pos kemanan depan kampus Sastra, meminta mobil dan kendaraan milik mahasiswa dan dosen Sastra dialihkan. Alasannya, SEU merasa tak menerima pemberitahuan jika akan dijadikan parkir sementara.

Tak urung, sejumlah panitia inaugurasi yang kebagian tugas mengurusi parkir mendapatkan “semprotan” dari petugas keamanan. “Wah panitia ki jan payah tenan. Ngeyel parkir ke SEU, padahal rak ono ijine,” ungkap Yanto, petugas keamanan, kesal. Yanto mengaku sempat mendapatkan teguran dari pihak SEU.

Setelah melalui perundingan alot, parkir akhirnya dialihkan ke MKU. Kendaraan mahasiswa yang baru datang di atas jam 9 diarahkan ke sana. Namun mobil dosen diperbolehkan masuk kampus. “Lha gimana, nggak enak juga. Daripada ribut sama dosen, yo wis, dosen boleh masuk, lagian jumlahnya juga nggak seberapa,” ungkap Ari Nugroho, koordinator lapangan.

Di atas adalah sekelumit cerita dari pelaksanaan inaugurasi yang diadakan oleh BEM bekerjasama dengan lembaga kemahasiswaan FS Undip pada 16-18 November 2006. Karena halaman parkir di depan kampus digunakan untuk kegiatan UKM/HMJ ekspo, parkir dialihkan ke SEU. Rupanya terjadi kesalahpahaman antara panitia dan pihak SEU. Panitia merasa sudah mendapatkan ijin, sementara pihak SEU mengaku sama sekali tidak menerima pemberitahuan.

“Nggak usah ada kegiatan, hari-hari biasa pun parkir sudah repot, “ keluh Yanto.
Memang benar apa yang disampaikan Yanto. Halaman parkir kampus FS Undip tampak tak mampu lagi menampung banyaknya kendaraan milik sivitas akademika. Akibatnya, halaman yang ada di depan jurusan juga dijadikan parkir.

“Mahasiswa kadang parkir sak enake dhewe. Parkir yang sudah penuh, jadi tambah semrawut,” tambah Yanto.

ENTAH apakah kita harus bangga atau prihatin ketika mengetahui bahwa ke 668 mahasiswa baru angkatan 2006 yang masuk ke Fakultas Sastra hampir seluruhnya mengendarai sepeda motor. Memang belum ada pendataan secara matematis, namun kejadian ini cukup kasat mata.

Kenyataan ini juga diperkuat dengan pernyataan Wiryanto, kepala Bagian Peralatan dan Perlengkapan. “Kalau pendataan belum, tapi kami ada rencana ke sana. Seperti yang saya katakan bahwa mahasiswa baru berjumlah 688 dan rata-rata itu bawa motor semua.”

Jika sepeda motor masih digolongkan sebagai barang mewah, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagian besar mahasiswa baru angkatan 2006 berstrata ekonomi menengah ke atas. Penggunaan sepeda motor yang membengkak jumlahnya ini ternyata mendatangkan efek yang merugikan.

Tengok saja halaman kampus Sastra yang kini penuh sesak oleh sepeda motor dan mobil yang berjejal di dalamnya. Parkir motor kini juga sudah merambah ke dapan ruang jurusan, yang sebenarnya bukan untuk area parkir. Kondisi ini jelas tak sedap dipandang mata.

Ketika perihal ini dikonfirmasikan kepada pihak Keamanan Kampus (Satpam), TU Bagian UPPER dan Pembantu Dekan II, ketiganya memberikan jawaban senada.

Sepeda motor mahasiswa diparkir pada areal parkir sebelah barat hingga portal sebelum batas garis pintu gerbang. Mobil dosen di parkir di areal parkir sebelah timur sedangkan motor karyawan lain di parkir di depan Perpustakaan atau di depan Ruang Jurusan Magister.

Namun peraturan ini tak sepenuhnya berjalan karena jumlah lahan tak mencukupi untuk menampung banyaknya jumlah kendaraan motor yang parkir. Para mahaiswa pengendara sepeda motor pun akhirnya memarkir kendaran bermotornya sampai memangkas habis Panggung Barat yang sebenarnya merupakan salah satu tempat kegiatan mahasiswa diluar ruangan selain Panggung Timur. Parkir juga melompati portal pembatas di teras barat R103 sampai ke depan Ruang Jurusan Sastra Inggris. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang memarkir kendaraan di tempat parkir karyawan dan dosen.

Bagi pengendara sepeda motor, keadaan ini cukup mengesalkan. Misalnya mereka merasa kesusahan saat hendak parkir atau keluar dari areal fakultas Sastra karena motornya “terjepit”.

Seperti yang dikeluhkan oleh Berlia Septiana, mahasiswi D III Inggris angkatan 2004. “Susah juga kalau mau ngeluarin motor. Dan biasanya kalau saya datang pagi terus mau markir motor di depan RE103 pasti dimarahi Bapaknya (satpam-red). Tujuan saya kan biar gampang ngeluarin motornya. Padahal kalau siang di situ juga dijadikan tempat parkir,” ucapnya.

Sebuah usulan pun dilontarkan oleh Arie Nugroho. “Gimana kalo parkirnya dibuat kayak di Mall Ciputra itu. Dibikin berlantai empat sekalian,” ucapnya.

“Eits, tapi entar kampusnya nggak keliatan dong,” sahut salah seorang teman Ari.
“Ah biar saja, yang penting parkirnya kan mewah,” timpalnya.

Usulan Arie itu memang cuma guyonan. Tapi masalah membludaknya parkir di Fakultas Sastra tentu saja bukan gojekan lagi. Sebelum seluruh halaman kampus Sastra dipenuhi parkir kendaraan motor dan mobil milik mahasiswa dan dosen sampai tak ada lagi jalan untuk sekadar lewat, sudah seharusnya fakultas mencarikan solusi atas persoalan ini. Bukan cuma menambah jatah kursi untuk mahasiswa baru tiap tahunnya, tapi tak diimbangi dengan pembenahan lahan parkir dan perangkat lainnya. Ini benar-benar sudah gawat, bung!

One thought on “Andai Parkir Sastra seperti Parkir di Mal Ciputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top