Inaugurasi, Sudah Efektifkah?

BEM Fakultas Sastra bekerjasama dengan lembaga kemahasiswaan lainnya mengadakan inaugurasi. Kegiatan yang bertujuan untuk mengakrabkan mahasiswa ini dalam prakteknya kurang direspon oleh mahasiswa.

Oleh A Khairudin
Reporter: Yuanita, Ake Andari Hesti, Acep Andi S, Nor Ismawati, Neli Restinia M

Beberapa mahasiswa sibuk menata stan. Ada yang memasang meja, kursi, dan perlengkapan lainnya. Sementara sebagian mahasiswa lain hanya mengamati dari teras kampus. Terlihat hanya beberapa mahasiswa yang mengelingi sebuah stan yang sudah lebih dulu berdiri.
Hari itu (16/11/06), BEM bekerjasama dengan lembaga kemahasiswaan di FS Undip menggelar UKM/HMJ Ekspo. Kegiatan ini merupakan rangkian dari inaugurasi yang diselenggarakan dari tanggal 16-18 November 2006 lalu.
Selain dari BEM sendiri, beberapa UKM dan HMJ juga berpartisipasi. LPM Hayamwuruk misalnya, memajang etalase yang menampilkan dokumentasi seputar perkembangan UKM tersebut dari tahun 80-an hingga sekarang dan memberi kesempatan bagi pengunjung untuk menanyakan hal-hal seputar jurnalisme, tulis-menulis dan pers mahasiswa.
Acara yang dilaksanakan dalam masa kepemimpinan BEM Sabiq Wafiyudin ini menampilkan berbagai macam kegiatan. Berbeda dengan inaugurasi tahun sebelumnya, inaugurasi kali ini juga menampilkan pagelaran seni dan budaya. Seperti yang tampak dalam puncak malam inaugurasi itu, tampil kelompok Kuda Lumping, para korban peristiwa 65, dan penampilan kreativitas dari UKM dan HMJ/HMPSD FS Undip
Acara yang bertajuk `Sastra Titik Dua` ini menurut Norma, ketua panitia, hendak menampilkan keanekaragaman yang ada di Fakultas Sastra ini. “Ini lho Fakultas Sastra yang mahasiswanya mempunyai pola pikir yang berbeda,” ujarnya.
Sukses tidaknya kegiatan ini tentu saja tidak luput dari kerja keras panitia. Panitia tidak hanya terdiri dari fungsionaris BEM, namun juga hasil “open recruitment” dengan cara mengirimkan surat undangan kesediaan berpartisipasi ke tiap UKM dan HMJ dan juga mahasiswa umum.
Selain keanekaragaman, kegiatan ini sedianya juga menjadi ajang untuk aktualisasi diri, khususnya mahasiswa sastra di samping upaya untuk mensosialisasikan jurusannya pada khalayak luar. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan Sabiq. “Tujuan internal untuk memperkenalkan sastra kepada mahasiswa, sebenarnya di dalam sastra itu ada apa saja. Dan tujuan eksternalnya untuk memperkenalkan sastra kepada masyarakat.”
Melihat seluruh konsep yang hendak diusung oleh pihak panitia, kemudian timbul pertanyaan, sudah tercapaikah tujuan mereka? Apakah kegiatan yang mereka lakukan telah merepresentasikan Sastra sebagai kampus budaya? Padahal, bukankah animo mahasiswa terlihat minim?
Menurut PD III, Drs Mulyono Mhum, kekurangmeriahan ini disebabkan kontrol internal lembaga kemahasiswaan yang lemah. Buktinya, pada saat kegiatan berlangsung pihak jurusan maupun pejabat yang terkait tidak mendapatkan undangan dari BEM. Satu hal itulah yang disesalkan Mulyono.
Hal serupa juga disampaikan oleh Mulyo HP. Mas Mus, panggilan dosen yang tampak kerab nongkrong dengan mahasiswa ini, melihat kurangnya publikasi kegiatan dari panitia. Publikasi yang diklaim pihak panitia telah menyebar luas ini ternyata tidak begitu diketahuinya. Menurutnya panitia tampak tergesa-gesa mengadakan kegiatan ini sehingga kegiatan yang diadakan terkesan seadanya.
“Ya, kemasannya begitu mana bisa ramai? Kalau kemasannya hanya sekedar begitu mungkin yang datang…” ia tak melanjutkan lagi.
Mengenai kemasan, pendapat Mulyo HP juga dikuatkan dari beberapa komentar pengunjung. Mereka berharap mungkin perlu mendatangkan artis ibu kota serta publikasi yang gencar dari pihak panitia.
Meskipun animo mahasiswa kurang, acara yang persiapannya telah dimulai sejak bulan Agustus dan tertunda hingga November ini dinilai panitia sukses. Karena berdasar pengamatan Sabiq, inagurasi tahun 2004 ada sedikit kericuhan dan di masa kepengurusannyalah ia berhasil menyelenggarakan inagurasi di Sastra. Tentu lebih sulit menjaring sponsorship karena tidak ada ticketing, berbeda misalnya dengan acara yang diadakan di auditorium Undip yang kebanyakan memakai tiket.
Meskipun ada standar keberhasilan yang berbeda antara panitia dengan pengunjung, namun terselenggaranya acara ini mungkin bisa menjadi api pemantik untuk menggairahkan kembali kegiatan mahasiswa di fakultas ini.
“Bagaimanapun juga kegiatan semacam ini sudah sepatutnyalah didukung. Tidak hanya bantuan doa tetapi juga dana. Namun lebih penting lagi semisal tidak dikasih dana ya..minimal jangan dipersulit birokrasinya,” ujar Sabiq.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top