Bedah Iklan: Rumahku Indonesiaku

Jum`at pagi (16/3), ruang E103 Fakultas Sastra Undip dipadati pengunjung. Hari itu sedang berlangsung acara yang bertajuk `Rumahku Indonesiaku` keliling kampus. Acara yang dipersembahkan oleh PT. Gudang Garam Tbk. ini menghadirkan pembicara Hakim Lubis, Jay Subiyakto, Jimmy serta Yan Gunawan dan dimoderatori oleh Mulyo Hadi Purnomo.

Melalui acara tersebut dapat diketahui bahwa untuk membuat suatu iklan tidaklah semudah yang kita bayangkan. Hal ini terlihat jelas pada saat pemutaran behind the scene iklan corporate `Rumahku Indonesiaku`. Keindahan alam Indonesia diabadikan dalam gambar yang bergerak. Diiringi musik dan lagu-lagu yang khas ala Indonesia.

Beberapa pasang mata terpana dengan hasil karya sang kreator yang menakjubkan. Suatu maha karya agung tentang keindahan budaya Indonesia.

Menurut Jay Subiyakto, konsep tentang budaya Indonesia itu lahir karena keprihatinan. Keprihatinan atas hilangnya batas-batas teritorial negeri ini.Tampaknya lepasnya Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan masih belum hilang dari benak kita. Bahkan, sebagian orang beranggapan bahwa Indonesia adalah `negeri bencana`. Di sinilah tantangan bagi para kreator untuk menciptakan suatu karya berbeda yang mampu mengembalikan identitas bangsa ini.

Indonesia sebenarnya kaya akan budaya-budaya lokal yang mengagumkan. Lewat iklan tersebut pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa kita harus tetap optimis untuk menyambut masa depan bangsa yang lebih baik. Dengan adanya iklan ini kita sebagai anak Indonesia bisa berbangga. Tinggal di negeri yang mempunyai adat istiadat dan suku bangsa yang berbeda.
Budaya diartikan sebagai akal budi yang kita miliki dan harus dilestarikan.

Mengapa dalam iklan wanita lebih banyak ditonjolkan? Masih menurut Jay –panggilan akrab–, karena nasib negara berada di tangan wanita. Apalagi kita sering menamai tanah tumpah darah kita ini sebagai ibu pertiwi. Selain itu, wanita adalah sosok terindah yang dianugrahkan oleh Tuhan.

Untuk menjadi seorang kreator yang handal tidaklah gampang. Memerlukan sebuah proses yang berkesinambungan dan up to date. Kita terkadang tidak menyadari kerja keras mereka untuk menghasilkan karya yang bermutu. Kita hanya bisa mengkritik dan mengkritik. Tanpa argumen yang jelas.

Dalam dunia periklanan para kreator dituntut untuk menghasilkan karya orisinal dan bermutu. Mereka harus bisa mengolah `sesuatu` yang dianggap biasa, menjadi sesuatu yang mampu menarik minat publik. Meski begitu, kreator juga mempunyai ruang tersendiri untuk menuangkan ide-idenya.

Menurut para kreator yang hadir, setelah iklan selesai digarap, masih ada kendala yang harus dihadapi dalam penayangannya. Salah satu bocorannya, di Indonesia biaya penayangan iklan jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan pembuatannya. Misalnya untuk tampil 30 second dalam acara “Empat

Saat salah satu peserta menyinggung bagaimana alur iklan tersebut, Jay dengan kalem menjawab bahwa tidak semua hasil karya seni bisa dijelaskan. Biarkan penikmatnya menginterpretasikan sesuai dengan imajinasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top