Cerpen: Mantan Aktivis

Oleh Lina Nursanty

“KAU tahu? Di jalanan ini tujuh tahun lalu aku memimpin massa yang berasal dari kampung-kampung yang berada di belakang gedung dan toko-toko itu,” ujar Samuel penuh semangat. Jari telunjuk kanannya menunjuk gedung-gedung, toko, bengkel, sekolah yang berderet dan satu per satu berlarian dibalik jendela mikrolet yang sedang mereka tumpangi. Duduknya berpindah-pindah, dengan semangat dari bangku panjang di hadapan Desi, kemudian pindah lagi ke bangku pendek dan duduk di samping Desi dengan posisi yang tidak sempurna seperti seharusnya penumpang mikrolet. Begitu terus sambil tak henti-hentinya mulutnya berbicara.

Ada beberapa nama orang terkenal yang ia sebut, ada jurnalis, sastrawan, politisi, ada juga orang terkenal yang ditahan karena korupsi. Sesekali Samuel menggeleng-gelengkan kepala, disusul bunyi decakan bernada kagum atas diri sendiri. Helaan nafas tak ketinggalan menyusul pula setelah itu dan akhirnya tertegun karena Desi menanggapinya dengan hanya terdiam, menaikkan kening hingga kedua mata Desi terlihat belo, dan tentu saja diikuti helaan nafas pula.

Penumpang lain yang juga berada dalam mikrolet itu saling bergantian melihat mereka karena penasaran. Raut muka para penumpang itu penuh selidik, ada juga yang tersenyum sinis setelah berhasil melihat wajah Samuel dan Desi. Seolah mereka akan puas setelah itu, kemudian kembali dengan lamunan masing-masing.

Setelah sekian lama Desi membisu dengan roma wajah kesal, ia menjawab, “Sam, aku sudah tahu. Kamu sudah berkali-kali menceritakan hal ini kepadaku setiap kali kita melewati jalanan ini. Dan aku tetap tidak bangga apalagi terkesan. Coba sebut lagi beberapa nama kawan-kawanmu itu!, bukankah aku sering mendengar nama mereka disebut-sebut di surat kabar dan TV?. Bukankah mereka itu orang yang memiliki pekerjaan, memiliki anak yang sekolah, memiliki rumah, tabungan, dan lain sebagainya? Mereka itu berhasil, Sam,” jawab Desi atas semua kalimat yang disemburkan Samuel terhadapnya.

“Maksudmu, kamu mau bilang bahwa aku tidak berhasil? Berhasil macam apa maksudmu? Berhasil punya rumah, anak kita bisa sekolah, perhiasanmu lengkap, tidak utang sana-sini? Atau apa?, jawab!” Samuel menjawab kekesalan Desi dengan nada yang tinggi hingga memancing keingintahuan sopir mikrolet yang tampak dari kaca spion dalam mobil.

“Yaa, dari sekian orang yang memimpin massa itu, aku rasa hanya kamu yang berubah jadi pecundang seperti ini. Lihat, hingga saat ini tak jua kita punya rumah. Bayar sekolah anak selalu nunggak. Dan aku? Mana pernah kau belikan aku perhiasan? Sebenarnya aku sudah muak hidup dengan kamu. Aku bosan, aku ingin hidup…walau tak kaya, tapi tidak seperti ini. Kau mengerti?,” tanya Desi menahan teriakannya.
Kedua mata Desi berkaca-kaca, jika satu kata lagi saja Desi berbicara, maka berhamburanlah air dari kedua matanya itu. Namun ia tahan, dan membungkukkan punggungnya hingga wajah yang ia tutup dengan kedua belah tangannya mengenai kedua paha yang ia rapatkan.

“Sudahlah, Dik. Malu, dilihat orang. Baiklah, kita turun saja dari mobil ini. Kita bicarakan di luar saja, oke?” ujar Samuel mencoba membujuk Desi setelah didesak oleh tatapan para penumpang yang makin padat dalam mobil. Tatapan itu seolah memaksa Samuel untuk menghentikan drama dalam mikrolet itu.

“Bukan satu atau dua kali kita berbicara mengenai hal ini. Selama ini aku sabar, Bang. Tapi kali ini, aku tak tahan lagi menahan semua ini. Percuma kita turun dari mikrolet ini, karena kita hanya akan meneruskan pertengkaran, dan tiap kali itu terjadi tidak pula masalah kita hilang!” kalimat yang terurai dari mulut mungil Desi diiringi linangan air mata yang sedikit demi sedikit akhirnya leleh juga hingga membasahi kedua pipinya.

“Dik, kau ‘kan paham aku ini di-DO dari kampus ketika berjuang dulu. Sedangkan mereka tidak. Ketika situasi aman, mereka lebih mampu untuk survive. Tidak seperti aku. Meneruskan lagi kuliah biayanya mahal, dan dengan ijazah SMA saja, jadi apa aku kalau melamar kerja? Saingannya begitu banyak dan lebih fresh-fresh. Usiaku sudah hampir menginjak tiga puluh, tidak pula punya pengalaman kerja. Sudah untung aku diterima jadi pembantu di toko Om Eng, meski hanya bantu-bantu bikin pigura ‘kan lumayan. Buktinya, kita belum mati kelaparan. Yaa… meski aku kadang bosan dengan pekerjaan itu, membuat otakku tidak terlatih. Jarang sekali aku bersentuhan dengan buku-buku, tak ada waktu untuk membaca. Hidupku teralienasi jika begini terus. Kerja dari jam tujuh pagi sampai jam sembilan malam. Upah hanya lima belas ribu saja sehari. Tak masuk kerja, tak dapat upah,” jelas Samuel.

Tangisan Desi semakin mereda. Jalanan makin macet. Jam pulang sekolah, jalanan dipenuhi oleh ABG-ABG berpakaian putih abu-abu. Samuel duduk semakin merapat karena beberapa ABG itu naik ke dalam mikrolet dan walhasil makin sesak. Sesaat setelah itu, mikrolet kembali meluncur setelah diteriaki Pak Ogah yang sibuk mengatur lalu lintas. Setelah suasana dirasa enak, Samuel melanjutkan pembicaraannya. Desi masih tercenung, kedua matanya memerah, begitu pula hidungnya.

“Huh, lucu!. Lucu sekali. Dahulu aku sering berdiskusi teori keterasingan atau tentang alienasi itu, bersama kawan-kawan. Sembunyi-sembunyi, dik. Malam-malam sepulang buruh-buruh pabrik itu bekerja. Kami menyebutnya sekolah malam. Pesertanya ada juga mahasiswa, hmm…kau tahu si Eko yang kini jadi anggota DPR itu? Dulu dia itu salah satu mahasiswa S2 yang ikut sekolah malam yang kami adakan. Terus ada juga si Marmi, Terong, Kaca…ahh, pokoknya banyak.”, Beberapa orang terkenal disebut-sebut lagi oleh Samuel.

“Kiri, Bang!.”, seorang Bapak yang tambun tubuhnya setengah berteriak kepada sopir agar menghentikan mikrolet, rupanya ia sudah tiba di tempat tujuan. Setelah membayar ongkosnya, Bapak tersebut ngeloyor, begitu pula mikrolet yang mereka tumpangi kembali melanjutkan perjalanannya. Samuel agak terhenti bercerita karena kejadian itu, tetapi kemudian ia lanjutkan.

“Oya, Dik. Kau tahu? Tidak sampai lima tahun kami melakukan hal itu, penguasa negeri ini tumbang! Luar biasa, bukan? Kami sendiri sempat bingung, begitu cepat hal itu terjadi dan begitu besar rakyat yang bergabung dengan kami di jalanan. Setelah itu Demokrasi mulai menemui titik terangnya di negeri ini. Bernafas kembali setelah sekian lama tak dikehendaki.”. Entah menyadarinya atau tidak, Samuel nampaknya tidak memperhatikan atau tidak mau memperhatikan Desi.

Ketat, Desi menggigit bibirnya sendiri. Sorot matanya tak tentu arah. Pelan suaranya hampir tak terdengar. “Bang, kita telah sampai. Aku tak butuh demokrasi, aku butuh uang untuk makan, bayar kontrakan dan bayar ongkos rumah sakit.” Samuel baru tersadar bahwa mikrolet yang mereka tumpangi telah tiba di depan Rumah Sakit dimana buah hati mereka tengah terbaring di salah satu ruangannya karena diserang nyamuk demam berdarah.

Mereka berdua turun dari mikrolet menyisakan tanda tanya besar bagi para penumpang dalam mikrolet yang telah setia menyimak drama satu babak dalam mikrolet yang lumayan membuat penasaran apa yang akan terjadi setelah Samuel dan Desi turun dari mikrolet.

———-
* catatan dari penulis: Cerpen itu aku tulis kira-kira awal tahun 2004. Terinsipirasi oleh laki-laki yang “dekat” denganku waktu itu.
* kunjungi blog penulis di http://linanursanty.blogspot.com
* caption foto: aktivis mahasiswa 1998 dari kompasiana.kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top