Welcome Party dan Maba Yang Merasa Terpaksa



Oleh: Rizka Novita Rini
Peliput: Diaz Marandi, Syaiful Romadhon, Qur’anul Hidayat

Cuaca panas tak mampu membuat mahasiswa baru yang lebih dikenal dengan sebutan maba FIB malas untuk berkumpul di parkiran kampus FIB. Pukul 16.00 WIB mereka menunggu anak-anak BEM FIB untuk segera memulai salah satu rangkaian acara Welcome Party FIB 2011. Acara yang mendatangkan band Seventeen ini tidak hanya membuat maba FIB saja yang menunggu, namun termasuk juga mahasiswa angkatan lama, mahasiswa dari fakultas lain, serta masyarakat Semarang sekitarnya juga ikut menantikan acara pada malam puncak yang selain menghadirkan Seventeen juga bakal menampilkan Gecko, Nas4, Jelly Fish, dan Ipresionistik. BEM FIB boleh berbangga hati dan puas atas kerja kerasnya dalam acara ini karena telah berhasil menarik minat tidak hanya maba tapi juga mahasiswa dan masyarakat umum.

Terdapat fakta menarik yang berhasil reporter kami rangkum. Pertama menyoal BEM FIB yang bertindak sebagai panitia di acara besar ini. Banyak tujuan yang diceritakan oleh Dipta ditengah suara musik yang mengalun dengan kerasnya. Ia yang menjabat sebagai Wakil Presiden BEM menuturkan bahwa acara tersebut menjadi salah satu kontribusi FIB kepada warga Tembalang dan para mahasiswa yang sudah tinggal di Undip atas terdahulu. “FIB pindah dari Pleburan ke Tembalang hampir satu tahun. Seenggaknya kami (FIB) memberikan kontribusi. Selain itu, untuk membuktikan bahwa FIB itu mampu membuat acara sebesar ini. Supaya FIB tidak dipandang sebelah mata. FIB banggalah!” tutur Dipta dengan semangatnya yang tinggi.

Dia juga menambahkan bahwa acara ini juga sebagai hiburan buat anak BEM FIB. “Acara ini untuk memberikan apresiasi terhadap anak BEM FIB. Ada kalanya anak BEM juga merasa jenuh, jadi acara ini menjadi sebuah hiburan juga bagi anak BEM.” Acara ini dapat diibaratkan sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui. Bukan hanya senang yang didapat tapi juga sebagai bukti bahwa FIB mampu membuat acara besar yang dapat dinikmati civitas akademika dan masyarakat umum.

Tapi diatas keberhasilan tersebut ada selentingan-selentingan kecewa yang diutarakan oleh beberapa maba FIB, terutama berkisar soal pewajiban acara ini kepada semua maba FIB. Hal ini membuat beberapa maba FIB merasa datang ke acara tersebut secara terpaksa. Namun, banyak juga yang merasa senang dapat datang ke acara ini. “Sebenarnya acara seperti ini sangat asyik, hanya saja ada briefing yang mengharuskan maba datang lebih awal. Sudah gitu molor lagi.” ujar Ela, maba sastra Jepang. “Apalagi yang rumahnya jauh. Bingung kesininya mau pake apa. Mana acara ini wajib lagi. Kasihan banget!” Riecho, yang sejurusan dengan Ela ikut menambahkan pendapatnya.

Selain molornya briefing, tempat berkumpulnya maba FIB untuk pemeriksaan name tag satu persatu juga tidak jelas. “Katanya dilapangan parkiran Sejarah.” ujar Ela. Ketidakjelasan tempat berkumpul maba membuat maba sempat kebingungan karena ada juga yang menginformasikan langsung ke tempat acara di Widya Puraya. Akhirnya maba pun dikumpulkan pada pukul 16.30 WIB, terlambat setengah jam dari yang diberitahukan.

Molornya waktu memang sudah menjadi penyakit yang sangat sulit disembuhkan. Namun, pihak BEM punya alasan lain, ternyata acara tersebut memang sengaja diagendakan mulai pukul 18.30 WIB, terlambat 30 menit dari yang tertulis diposter. “Tujuannya agar adik-adik FIB bisa mendapat posisi depan, karena tujuan utama dari acara ini untuk apresiasi maba.” papar Dipta.

Wajib dan molor, dua kata yang tidak bisa lepas dari acara ini. Kata wajib telah membuat banyak maba merasa terpaksa untuk hadir ke acara, dan molor yang telah menurunkan antusiasme mereka. “Kalau mau mewajibkan tolong agak dipikirin lagi dengan kata wajib dan hukuman, karena yang kena kami, para maba.” Tutup Riecho.***

One thought on “Welcome Party dan Maba Yang Merasa Terpaksa

  1. Ketika hidup di Indonesia dengan tatanan pembangunan fondasi membangun sebuah negara berkembang dengan budaya orang indonesia di sini.Menjadi sebuah hal yang diterapkan ketika hidup di indonesia " Dipaksa, Terpaksa dan Terbiasa".Menjadi hal yang wajar ketika mengkoordinasikan seluruh maba yang datang dengan komplain yang beraneka ragam.Tapi inilah negara demokrasi negara yang berbudaya dan inilah budaya indonesia dengan keanekaragamaan etnisnya begitu pula dalam sebuah kampus. Terima kasih atas masukannnya menjadi sebuah bahan acuan evaluasi ke depan…Marilah buka mata ketika fib dipandang sebelah mata di Undip kita juga bisa berkarya tidak hanya diam dan stagnan…..Marilah memberbaiki,maju bersama dan saling mengingatkan satu sama lain sebagai kewajiban umat manusia…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top