“Jangan Sampai Ada yang Bilang Semarang Kuburan Lagi”

Oleh: Destya Pusparani
Reporter : Hamam Anwaruddin, Nia Tanzil
Jumat (9/3/12) malam sekitar pukul 19.00 WIB, terlihat ada yang berbeda di kafe Ufoo yang terletak di jalan Lamongan Raya no. 6, Sampangan. Selain karena spanduk ungu besar bertuliskan Terminal Data (Mapping Project Petakota #2) yang tergantung di bagian luar, di dalam bangunan satu lantai bercat abu-abu itu ratusan pamflet tersebar menghiasi dinding ruangan kafe.

Apa itu Terminal Data? Terminal Data adalah acara pameran arsip, diskusi, dan musik, hasil kerjasama komunitas Hysteria dan Merdesa, mahasiswa Sasindo 2009 yang mengambil mata kuliah Manajemen Pertunjukkan Kesenian.

Bagian utama acara ini adalah pameran arsip dan kegiatan seni. Ratusan pamflet yang telah dikumpulkan oleh penyelenggara ditempel di dinding ruangan kafe. Pamflet-pamflet tersebut dikelompokkan menurut jenisnya; pamflet musik, pamflet film, pamflet teater, dan pamflet seni rupa. Terminal Data diadakan selama 3 hari berturut-turut pada sore dan malam hari. Selain itu, panitia menambahkan berbagai macam diskusi komunitas seni.

Acara dibuka oleh PD III, Mujid Farihul Amin. Sebelumnya, pria yang sehari-hari akrab disapa Pak Mujid itu menyampaikan kata sambutan dan pesan dari dekan FIB Undip untuk acara tersebut. “Pertama rencanakan dengan baik, jangan sampai waktunya jauh dari perencanaan semula. Kedua visibilitas ketika mengadakan kegiatan, mampu atau tidak melaksanakan kegiatan itu, jangan sampai kekurangan dana atau tidak sesuai waktu yang direncanakan. Yang ketiga kerjasama tim.”

Agenda hari pertama adalah pertunjukkan musik oleh band Goodmorning Everyone, The Lastree, Tanpanada, Retorika, Wisnu and the Gang, dan OK Karaoke. Saat itu sekitar pukul 20.00 WIB, kafe sudah ramai dengan pengunjung yang sebagian besar berdiri di depan panggung yang hanya sedikit lebih tinggi dari lantai kafe. Sebagian yang lain duduk di kursi-kursi kayu kafe dan kursi di bar, atau menjelajah ruangan-ruangan kafe untuk melihat pamflet-pamflet di beberapa ruangan.

Acara musik berlangsung terus sampai pukul 22.00 WIB. Penonton cukup puas dengan band-band yang tampil, misalnya Estu, mahasiswa Sasindo angkatan 2011.Aku mau tau, band Semarang itu apa aja, sama nggak sih dengan band dari tempat saya di Bekasi. Ternyata, beda. Di Semarang musiknya lebih hot lah.”

Namun, ada juga penonton yang merasa kurang nyaman. Asti, yang juga berasal dari Sasindo 2011, berujar, “Dari segi persiapan dan tempat kurang nyaman, karena tempatnya banyak asap rokok, tau sendiri kan perempuan sangat sensitif dengan asap rokok.”

Acara pertama di hari kedua adalah diskusi sastra yang dihadiri oleh komunitas-komunitas sastra di Semarang seperti Lacikata, Kias, dan Lembah Kelelawar. Acara dimulai pukul 16.41 WIB oleh direktur komunitas Hysteria, Adin di ruangan belakang bar kafe. Peserta diskusi duduk lesehan di atas tikar.

Diskusi membahas tentang kurangnya konsolidasi forum-forum sastra Semarang, pengarsipan dan pengumpulan data, serta menyoroti salah satu surat kabar di Semarang yang kurang memuat karya-karya penulis muda.

Acara kemudian dilanjutkan dengan gathering street art yang diisi oleh ISAD (Indonesian Street Art Database), cukup banyak pengunjung yang datang. Di awal diskusi, beberapa video street art diputar. Pada salah satu video, terlihat seseorang menempelkan kertas-kertas bergambar di tembok dan membuatnya lengket dengan menggunakan campuran tepung terigu, seni jalanan itu disebut wheatpaste. Pertama-tama kertas berbentuk celana dalam, kaus dalam, kaus lengan panjang, dan bra ditempel di tembok lengkap dengan gambar penjepit. Setelah itu, ia menuliskan huruf-huruf di atas baju-baju tersebut, hingga akhirnya “jemuran” tersebut membentuk kalimat “BERBEDA + MERDEKA 100%”. Setelah pemutaran video, ISAD yang diwakili Isrol Triono menjelaskan tentang cara kerja pengarsipan yang telah digelutinya.

ISAD adalah sebuah lembaga nirlaba yang bekerja untuk mendorong kemajuan street art di Indonesia. Komunitas ini melakukan pengarsipan dan pendokumentasian karya maupun aktivitas street art, mengkaji dan mewacanakan street art melalui riset, penulisan, diskusi, seminar dan festival. Kegiatan lain adalah perluasan jaringan street art baik di Indonesia maupun luar negeri. Juga penciptaan karya street art yang berbasis riset.

Diskusi cukup ramai, diikuti oleh para pelaku street art maupun yang bukan pelaku. Para peserta antara lain mengemukakan tentang perlunya forum yang mempertemukan pelaku-pelaku street art untuk mengatasi gap antar kelompok seni jalanan. Rangkaian hari kedua diakhiri dengan pembahasan musik.

Hari terakhir, minggu (11/3/12) Terminal Data mengadakan diskusi teater dan pertunjukan musik yang dihadiri beberapa komunitas teater, seperti Teater Dipo, Emka, dan Teater Lingkar. Salah satu pernyataan yang muncul dalam diskusi adalah banyaknya pengalaman di teater yang tidak bisa ditemui di luar teater.

“Baik dan kreatif, maksudnya kan belum ada, pemerintah pun belum melakukan, lembaga formal maupun yang lainnya mencoba mendata kegiatan kesenian selama 1 tahun ini.” Demikian komentar Pak Mujid, ketika ditemui Hayamwuruk di kantor PD III FIB Undip (14/3/12). Namun, ia menilai bahwa tempat dan publikasi acara ini masih kurang baik.

“Kalau acara itu diselenggarakan di ruang publik kan bisa diakses banyak orang, atau sekali waktu ditampilkan di mal, kan banyak orang datang ke pusat perbelanjaan, apalagi sabtu dan minggu, kan menarik juga, jadi audiennya lebih luas. Atau di lembaga pendidikan, kalau di kafe kan orang yang mau datang kan juga pikir-pikir dulu. Sebenarnya kalau kesenian itu seharusnya lebih mendekat ke masyarakat, unsur publishnya kan jadi lebih luas, diadakan di atrium, plaza simpang lima, Java mall, kan gaungnya lebih luas. Unsur publikasi juga kurang, seharusnya diliput di surat kabar, sehingga masyarakat juga tahu. Kalau tidak, mana bisa tahu, kan kemarin tidak ada publikasi di suara merdeka kan? Jadi tahun depan kalau mau diadakan lagi masalah publikasi dan tempatnya diperhatikan,” tambahnya.

Menurut Prabowo Novanto alias Openk, ketua panitia dari pihak Hysteria, penyelenggara telah berhasil mengumpulkan sekitar dua ratus pamflet kegiatan di tahun 2011. “Berarti dalam kurun waktu setahun itu ada dua ratus kegiatan di Semarang.” jelasnya. Dan seperti dikatakan oleh Adin, “Jangan sampai ada yang bilang Semarang kuburan lagi.” Ucapan itu mengacu pada minimnya kegiatan berkesenian di Semarang jika dibandingkan dengan kota-kota lain, terutama Yogyakarta.***
*Penulis dan reporter merupakan peserta Magang LPM Hayamwuruk 2011. Reportase ini sebelumnya diterbitkan di Hawe Buletin4/Maret/2012 Edisi Magang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top