Tetapkan Pilihan dalam Pemira

Oleh: Yuli Tri Hastuti dan Riska Ayu
Reporter:
Mitra Sari, Kusdiati
Kamis, (13/12/12) suasana Fakultas
Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) terlihat tak biasa,
terutama di lobi lantai satu dekat tangga. Ada beberapa meja dengan
tumpukan kertas di atasnya beserta dua kotak alumunium besar dan
bilik suara yang dijaga oleh sejumlah mahasiswa beralmamater. Melihat
hal tersebut, Tim
Hayamwuruk
mencoba menanyakan perihal kegiatan yang sedang terjadi kepada salah
satu mahasiswa yang ada di sana. Setelah dikonfirmasi, rupanya
kegiatan tersebut merupakan kegiatan Pemilihan Raya (Pemira) tingkat
universitas.

Pemira merupakan suatu kegiatan
pemilihan calon presiden dan wakil presiden Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) serta senator. Pemira pada dasarnya terdiri dari dua tingkat;
tingkat universitas dan fakultas. Pemira tingkat universitas
bertujuan untuk memilih presiden dan wakil presiden BEM KM (Keluarga
Mahasiswa) juga senator KM yang terdiri dari beberapa partai.

Untuk Pemira tingkat universitas pada tahun 2012 ini diikuti
oleh tiga pasangan capres-cawapres dan sebelas partai.

Astnahati Isfaroh selaku panitia KPR
(Komite
Pemilihan Raya) mengungkapkan bahwa di FIB terdapat dua lokasi
pemilihan. Lokasi pertama berada di lantai satu Gedung A, sedangakan
lokasi kedua berada di Gedung Sejarah. “Jadi Pemira di FIB kita
tekankan pada dua titik yaitu di kampus di Gedung A sama Gedung
Sejarah di mana letaknya itu di lobi lantai satu di mana di situ
banyak anak yang berlalu lalang sehingga mudah untuk dimobilitasi
untuk memilih di tataran universitas,” ungkap Astna. 



Menurut Astna
alasan diadakannya dua lokasi pemilihan dikarenakan di FIB terdapat
dua gedung. Adapun tempat pemilihan di Gedung Sejarah difokuskan
untuk mahasiswa jurusan S1 Sejarah dan D3 Kearsipan agar proses
pemilihan dapat dilakukan secara merata. Astna juga menambahkan bahwa
Pemira memiliki peran penting terhadap mahasiswa sebagai wujud
pelatihan menjadi warga yang baik di lingkungan kampus serta
menunjukkan sejauh mana mahasiswa bisa memilih atau menilai calon
pemimpin dalam periode kepemimpinan selama satu tahun di BEM KM dan
Senator KM. 



Astna menuturkan bahwa selama ini mahasiswa FIB dikenal
sebagai mahasiswa apatis. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk
mencoba menghilangkan stigma tersebut dengan ikut berpartisipasi
dalam Pemira. “Mahasiswa FIB mahasiswa yang berbudaya, mahasiswa
yang berkarya yang berkontribusi untuk perbaikan kedepannya.
Kalo
kita bisa memilih presiden atau pemimpin yang baik paling
nggak
itu adalah usaha minimal kita kayak
gitu.
Ketika kita tidak berkontribusi kita mewakilkan pada orang yang yang
lebih mampu.” Ujar Astna.

Mahasiswa yang akan berpartisipasi
dalam Pemira harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh
KPR. Sebelum memilih, mahasiswa diharuskan menandatangani DPT (Daftar
Pemilih Tetap) untuk memastikan bahwa namanya telah tercantum.
Setelah menandatangani DPT, mahasiswa akan menerima dua surat suara
untuk selanjutnya melakukan pemilihan. Sistem pemilihannya bukan
dengan cara mencontreng tetapi dengan melakukan pencoblosan pada
surat suara. Kertas suara yang telah dicoblos kemudian dimasukkan ke
dalam kotak yang berbeda. Kotak pertama untuk surat suara calon
presiden dan wakil presiden BEM, kemudian kotak yang kedua untuk
senator.

Ketika proses pemilihan masih
berlangsung, tim
Hayamwuruk
mencoba mewawancarai beberapa mahasiswa yang tidak ikut
berpartisipasi dalam Pemira. Salah satunya adalah Nuni Aulia
Soebardi, mahasiswa jurusan S1 Sastra Indonesia angkatan 2011.
Perempuan yang biasa disapa Aulia ini menuturkan bahwa ia tidak ikut
serta dalam pemilihan dikarenakan tidak kenal dengan calon-calon
terpilih dalam Pemira. Namun, ia mengatakan bahwa Pemira cukup
memiliki peranan penting untuk mahasiswa. “Ya,
kalo
dibilang penting sih ya lumayan penting,” ujar Aulia. Ia juga
menambahkan bahwa ia akan ikut berpartisipasi untuk melakukan
pemilihan pada Pemira tingkat fakultas yang akan dilaksanakan pada
tanggal 19 Desember 2012.

Berbeda dengan Aulia yang belum
berpartisipasi dalam Pemira universitas tahun 2012, Maya Riski
Analia, mahasiswa jurusan S1 Sejarah angkatan 2009 terlihat memiliki
semangat yang tinggi untuk menyuarakan pilihannya. Baginya, Pemira
ini sangat penting untuk memilih presiden dan wakil presiden BEM KM
yang ia inginkan. Maya menuturkan bahwa meskipun sosialisasi mengenai
Pemira di FIB masih kurang, ia tetap tidak ketinggalan informasi
karena mencari informasi di fakultas lain. ”Kalau di FIB kurang
gencar, tetapi saya melihat ke luar fakultas. Maksudnya
update
karena mahasiswa kan memang harus
update.
Kalau
nggak
kayak
gitu,
gimana tau
berita.” Terangnya. Maya kemudian menambahkan bahwa ia juga akan
tetap ikut berpartisipasi dalam Pemira fakultas. “Oh, saya
berpartisipasi. Saya anti golput”. Menurut Maya, tidak ikut
berpartisipasi dalam Pemira merupakan suatu hal yang negatif.

Selain
Pemira universitas, di FIB juga akan diadakan Pemira tingkat fakultas
pada 19 Desember 2012 nanti. Mengenai Pemira
fakultas, hingga tanggal 15 Desember 2012 KPR mencatat
ada dua
pasang
calon Presiden dan Wakil Presiden
BEM FIB yang telah mendaftar dan lolos verifikasi. Pasangan pertama
adalah Fauziah Faizzati (S1
Ilmu perpustakaan)
dan Ade Imani Arsyad
(S1 Ilmu Sejarah), sedangkan
pasangan
kedua Wulung Aji Putra (S1
Ilmu Perpustakaan)
dan Mirza Ghulam
Syarifuddin
(S1 Sastra Indonesia).

Dinar selaku ketua KPR menjelaskan
bahwa mahasiswa yang sudah mendaftar sebagai calon presiden dan wakil
presiden BEM maupun senator fakultas sudah bisa memulai kampanye pada
tanggal 17 Desember 2012. Ia berharap bahwa mahasiswa FIB bisa ikut
dalam
Pemira fakultas nanti,
karena menurutnya mahasiswa
harus
mengetahui perkembangan politik kampus. “
Mahasiswa
mampu turut berpartisipasi dalam kepolitikan di kampus tercinta
Diponegoro. Melatih agar rasa apatis, cuek dan egois dari mahasiswa
hilang sehingga mahasiswa mampu berpartisipasi
.
Jelas Dinar.

Pemira
Bermasalah

Dalam waktu persiapan yang relatif
singkat
yaitu tiga hari, tim KPR FIB dapat dikatakan telah
berhasil mengadakan Pemira tingkat universitas jika dibandingkan
dengan fakultas lainnya di Undip. Salah satu
contohnya adalah FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik) yang tidak
bisa membuka TPS
untuk Pemira universitas
dengan alasan kurangnya surat suara yang diberikan oleh KPR
universitas. Selain itu,
ijin peminjaman tempat juga baru diajukan pada hari
pelaksanaan
Pemira.

Selain FISIP, Pemira bermasalah pun dialami oleh FEB
(Fakultas Ekonomika dan Bisnis). Kamis malam (13/12) sekumpulan
mahasiswa FEB membakar sejumlah surat suara
Pemira Undip fakultasnya di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM).
Hal ini disebabkan oleh kekecewaan mereka terhadap Komisi Pemilu Raya
(KPR) mengenai proses Pemira universitas yang dilakukan di kampus
FEB.



Berkaca pada kedua kasus tersebut, dapat dikatakan
bahwa proses demokrasi di Undip masih belum dijalankan dengan
maksimal. Untuk menuju masyarakat yang demokratis, perlu dilakukan
kerja sama yang baik dari berbagai pihak. Dalam hal Pemira, sudah
sepatutnya seluruh pihak turut berpartisipasi agar sikap demoratis
dalam lingkungan kampus dapat ditegakkan. Untuk Pemira FIB yang
sebentar lagi akan digelar, diharapkan agar seluruh mahasiswa dapat
turut menyuarakan pilihannya dan tidak memelihara sikap apatis,
sehingga tidak ada lagi permasalahan yang muncul mengenai
perpolitikan kampus di FIB.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top