DUA SISI TRANSISI KURIKULUM DI FIB


Oleh : Umi Ibroh
Reporter : Ayu Mumpuni, Mitra Sari,
M. Habib
Semarang, Maret 2014, dalam keramaian siang di kampus FIB, tim Hayamwuruk
mencoba membaur dengan keramaian mahasiswa. Silih berganti sebagian ada yang
berjalan keluar, dan sebagian lagi berganti kela
s, sedang sebagian lainnya mempeributkan Kartu Rencana Studi (KRS) mereka yang bermasalah. Pengisian KRS yang sedikit bermasalah ini adalah
salah satu dampak dari pergantian kurikulum pendidikan yang saat ini tengah
dipakai oleh FIB sebagai satuan aktifitas perkuliahan di FIB.

Seperti
yang telah diketahui bahwa saat ini FIB mempergunakan dua kurikulum secara
paralel yaitu kurikulum 2007 dan kurikulum 2012. Seperti yang dijelaskan oleh
Dewi
Yuliati selaku P
embantu Dekan I FIB kepada tim Hayamwuruk. “Kurikulum 2012 itu
berlaku bagi mahasiswa angkatan 2012, sedangkan kurikulum yang lama itu masih
ditawarkan bagi mahasiswa 2010, 2011 jadi (keduanya-red) berjalan paralel.”

Dewi menambahkan bahwa memang ada beberapa perbedaan dalam
kurikulum yang baru ini. Kurikulum 2012, menurutnya adalah kurikulum yanng
berbasis kompetensi jadi, mahasiswa nantinya akan mendapatkan bekal yang dapat
menunjang kompetensi mereka. Lebih lanjut Wanita yang juga dosen Ilmu Sejarah
ini  menjelaskan bahwa ada empat
kompetensi utama yang dipersiapkan untuk membekali mahasiswa agar mendapatkan
gambaran kemanakah mereka akan melangkah setelah lulus. Empat kompetensi itu
adalah peneliti, jurnalis, pendidik dan enterprenuer.

Dalam
perjalannya pemberlakuan dua kurikulum yang bersamaan dalam satu tahun ajar
yang sama memunculkan banyak dampak negatif. Di

antaranya kerancuan dalam pengisian KRS mahasiswa.
Seperti yang dialami Andre
, ia merasa kecewa sebab dirinya tidak dapat mengambil mata kuliah semester atas.
Padahal mahasiswa D3 Kearsipan
ini
 memiliki kelebihan
Satuan
Kredit Semester (
SKS) tiap semesternya. Ia mengira pengisian KRS tiap
semesternya selalu dipaketkan, sehingga ia tidak mengambil mata kuliah lain
untuk mengisi kelebihan SKS dalam KRS-nya tersebut. Belakangan
ia
mengetahui
 bahwa ternyata KRS paketan hanya
diberikan saat s
emester satu saja, sisanya boleh mengambil mata
kuliah semester atas. Namun sayangnya ia terlambat mengetahui hal
itu, dan tidak bisa mengambil ma
ta kuliah semester atas karena semester depan ia sudah harus menghadapi magang dan Tugas
Akhir (
TA).

“Sekarang
nggak boleh lagi
(mengambil mata
kuliah semester atas-red)  karena semester emam kan, udah
magang sama TA jadi kan gak mungkin.
Sedangkan syaratnya magang sama TA
itu harus menyelesainya semua studi.  Semester
genap ke genap
, kan
mata kuliah
(semester-red)  genap itu kan magang sama TA, jadi gak
bisa lagi ngejar  tapi kalo
di kelas bisa.
,
t
uturnya.

Selain
itu, ada beberapa mata kuliah yang bertabrakan jadwal dengan angkatan 2011 dan
juga terdapat perbedaan mata kuliah antara kurikulum 2007 dan kurikulum 2012
yang membuatnya agak sedikit bingung. “K
alau di 2012 ada mata kuliah pemprograman,
kal
au
di 2007 itu Pengantar Komputer
.  Jadi, Pengantar Komputer
itu dirangkum dalam Kuruikulum 2012 menjadi Pemprograman
. Terus yang bahasa Belanda itu kan
dulunya di 2007 ada empat SKS sekarang dibagi-bagi menjadi Belanda pertama dan Belanda
kedua gitu.
,
t
utur Andre.

Lain
lagi dengan Wahyu, mahasiswa Sastra Inggris yang menggunakan kurikulum 2007 itu
mengaku biasa saja menanggapi masalah perbedaan kurikulum yang ada di FIB ini. Ia
berkata berdasarkan pengalaman tema
nnya yang tiba-tiba kehilangan mata
kuliah saat
pengisian KRS padahal temannya itu belum mengambil matakuliah yang hilang
tersebut.
“Kalo pengalaman
kemaren itu ada Semester Pendek Khusus (SPK), jadi beberapa orang yang belum
ngambil mata kuliah itu ya mengulang lagi, kayak SP Cuma khusus buat yang belum
ngambil mata kuliah itu.”, terangnya.
Adanya
kesalahpahaman mahasiswa dalam memahami perubahan kurikulum ini menunjukan
kurangnya sosialisi dari pihak kampus kepada mahasiswa. Hal ini lantas
menggelitik tim
Hayamwuruk untuk bertanya lebih lanjut kepada pihak akademik
kampus. Kami menemui Sri Hesti, salah seorang staf akademik FIB. Dia menuturkan
bahwa sosialisasi mengenai perubahan kurikulum di FIB ini sudah dilakukan
melalui berbagai cara. Diantaranya melalui organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa
(BEM) yang memandu mahasiswa baru saat pengisian KRS pertama kali saat Penerimaan
Mahasiswa Baru (PMB).
Selain itu sosialisasi tersebut juga dilakukan lewat kegiatan sambung rasa
yang diadakan rutin tiap pertengahan semester. Pihaknya juga telah mengirimkan
surat edaran resmi yang diberikan kepada masing-masing
program
studi
di FIB.
“Jadi itu mungkin karena (mahasiswanya-red) nggak tahu aja.  Ujarnya.

Di
sisi lain perubahan kurikulum dari kurikulum 2007 ke
kurikulum 2012 juga memberikan dampak yang positif. Seperti yang dikemukakan
oleh Endang
Susilowati selaku Kaprodi
Ilmu Sejarah. Menurutnya di kurikulum yang sekarang muncul mata kuliah-mata kuliah
yang lebih tebal dalam artian mata kuliah tersebut memiliki bobot kualitas yang
lebih padat. Hal ini berguna untuk lulusan sejarah nantinya. Misalnya saja mata
kuliah
Sinematografi yang notabene baru diberikan dua tahun
terakhir
.
M
ata
kuliah ini membekali lulusan yang tertarik untuk
mendalami bidang pembuatan film-film dokumenter
maupun wartawan sejarah.  Selain
itu kompetensi-kompetensi yang ditawarkan di dalamnya juga dapat menumbuhkan
pemikiran baru tentang konsep histoenterpreneur yang saat ini tengah
ditanamkan pada mahasiswa sejarah yang tertarik dengan dunia enterpreneur.

“Juga ada beberapa
mata kuliah yang membuat meraka (mahasiwa Sejarah-red) terinspirsi untuk
mengembangkan keahliannya tidak hanya pada sejarah yang klasik tapi juga yang praktis.
Dan nanti juga ada sejarah terapan. Sejarah terapan ini mengajarkan mahasiswa
untuk mencatat sejarah dalam masyarakat, supaya nanti kalau mereka lulus itu
mereka bisa menerapkan ilmunya di masyarakat” imbuh wanita berkacamata ini.

Setiap kebijakan
paastilah membawa dua dampak yang berkebalikan satu sama lain. Baik negatif
atau pun positif dampak itu kembali lagi pada para pelaku-pelaku kebijakan itu
sendiri. Bagaimana mereka memaknai sebuah kebijakan yang telah ditetapkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top