Jika Kartini Hidup Kembali

Oleh : Destya Pusparani

Dua puluh satu April tiba kembali. Orang-orang memperingati hari Kartini. Umumnya para perempuan, tua maupun muda, memakai kebaya, mengikuti lomba-lomba, dan menyanyikan “Ibu Kita Kartini”. Namun, di tengah kemeriahan hari Kartini, penulis teringat celetukan seorang senior di media sosial, “Bagaimana jika Kartini hidup kembali?”
Ya, bagaimana jika Kartini hidup kembali? Sudah lebih satu abad sejak ia pergi. Jika bisa hidup kembali, senangkah Kartini melihat kemajuan teknologi? Melihat emansipasi, melihat kemeriahan peringatan hari lahirnya?
Entah. Akan tetapi, mungkin tak ada salahnya bila kita bawa Kartini hidup kembali, melihat seperti apa Hindia, atau Indonesia sekarang, setelah ia pergi. Di kota-kota besar, Kartini dapat melihat para perempuan berlalu-lalang dengan seragam kantor mereka. Di banyak sekolah dan universitas, jumlah perempuan mendominasi. Mereka tidak lagi dipingit, mereka bisa mendapatkan pendidikan setinggi yang mereka inginkan, mendapatkan pekerjaan yang mereka dambakan.
Akan tetapi, di balik pemandangan kemajuan teknologi dan emansipasi yang menyilaukan itu, sudut-sudut gelap tetap akan terlihat. Mata tajam Kartini tidak akan luput melihat sebuah fenomena mencolok: kemiskinan. Setiap orang Indonesia yang memiliki mata hati, pasti dapat merasakan sebuah pilu dari situasi ini, ribuan perempuan Indonesia hendak bekerja di luar negeri. Namun, menjadi pembantu.
Seorang supir bus dari etnis Sunda pernah bergurau pada penulis, bahwa itulah keluarga sakinah-mawadah, yang berarti “Papa di rumah, Mama di Jeddah.” Si suami di rumah, menonton sinetron, sementara si istri di Arab sana, tak tahu sedang melakukan apa (atau sedang diapakan), demikian candanya.
Mungkin kedengarannya seperti gurauan sederhana, namun sebenarnya ini menyangkut sebuah masalah yang cukup serius. Sejak zaman Kartini, para perempuan dari kelas ekonomi rendah harus bekerja keras demi keluarga. Akan tetapi, setelah sejauh ini era pemerasan kolonial berlalu, kenapa sedikit sekali perubahan pada nasib itu?
Perjalanan pun ia lanjutkan. Dengan hati yang mulai gundah, Kartini beristirahat di sebuah rumah tipikal keluarga Indonesia kelas menengah. Sebuah rumah yang lebih sempit dibandingkan rumahnya dulu, tentunya (ia putri bupati), namun berisi barang-barang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Yang paling mencolok adalah sebuah benda kubus, dengan gambar yang bisa bergerak dan mengeluarkan suara: televisi.
Jika Kartini memiliki cukup waktu melihat dan menganalisis apa yang disiarkan benda itu, mungkin ia dapat sampai pada kesimpulan ini: benda itu adalah pasar dalam kotak. Di dalamnya, manusia-manusia bernyanyi, tertawa, menangis, dan melakukan apa pun. Namun intinya adalah satu: berdagang, uang.
Kartini bukanlah orang yang memiliki pandangan yang merendahkan pada perdagangan ataupun kelas saudagar, seperti pada umumnya priyayi Jawa. Akan tetapi, menurut penulis, ia pasti akan muak dengan cara industri-industri modern menjajakan dagangannya, yaitu dengan tubuh perempuan dan nilai seks yang terselubung.
Kebebasan yang telah diperoleh perempuan rupanya bak pisau bermata dua. Di satu sisi, hal tersebut memungkinkan perempuan mewujudkan eksistensinya di luar lingkup domestik. Di sisi lain, kebebasan itu juga berarti, bahwa sekarang tak ada lagi yang melindungi perempuan dari anggapan bahwa ia adalah sebuah objek semata.
Di masa Kartini (1879-1904), perempuan harus tunduk pada seperangkat nilai tradisi, juga pada figur laki-laki. Sementara itu di era postmodern, secara sadar atau tidak, media mendorong masyarakat untuk melihat nilai perempuan dari segi fisik. Hal ini sedikit banyak memberikan pengaruh pada kondisi psikologis perempuan. Misalnya adalah perasaan disorientasi dan penghargaan yang rendah pada diri sendiri. Hidupnya terjebak dalam pengejaran standar kecantikan, yang juga sering tidak masuk akal. Jadi, mana yang lebih buruk: menjadi subjek yang tertindas atau objek yang memiliki ilusi kebebasan?
Satu hal lagi, sebelum kita kembalikan Kartini ke masanya, mungkin ada baiknya kita ajak ia melihat perayaan hari lahirnya sendiri. Hari peringatannya, yang dirayakan orang dengan begitu meriah. Para perempuan yang terlihat bergembira, memakai kebaya, dan menyanyikan lagu pujian bagi dirinya.
Akan tetapi, sepertinya Kartini bukan orang yang mabuk pujian, paling tidak jika kita dengarkan salah satu suratnya ini:
“Boleh jadi orang berpikir akan menyenangkan hatiku kalau setiap waktu memastikan kepadaku, bahwa tulisanku “indah”. Apa peduliku tentang itu? Mauku, hendaknya tulisan-tulisanku meninggalkan kesan menetap, Stella, dan kedalaman hanya bisa didapatkan dengan penggalian. Di dalam hatiku, jiwaku harus digali, dibongkar, dan apabila dari situ menyembur darah seperti sebuah air pancur, barulah tulisan itu mengandung nilai. Menyedihkan memang, tapi begitulah!”
Demikianlah bunyi suratnya, tertanggal 11 Oktober 1901 kepada Estelle Zeehandelaar, yang dikutip Pramoedya dalam Panggil Aku Kartini Saja. Apakah tulisan-tulisan Kartini meninggalkan kesan menetap? Mungkin tidak, bagi sebagian besar masyarakat Indonesia.
Baiklah, sekarang kita akhiri lamunan ini. Kita biarkan Kartini dalam kedamaiannya. Kartini sudah mati lebih dari seabad yang lalu, dan tidak bisa dibangkitkan kembali. Akan tetapi, ia memang tidak harus hidup kembali. Kartini memang mati, tapi semangatnya dapat terus bereinkarnasi. Sebagai ibu, yang dilahirkannya adalah semangat. Sebuah semangat, untuk menghapuskan penjajahan atas perempuan, yang terang-terangan atau yang menusuk dari belakang.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top