KOSTI; Bernostalgia dengan Onthel

Oleh : Deviana K.
Reporter : Shofiana, Rohmad

Semarang, Minggu (27/4),Waktu menunjukkan pukul 09.45 pagi ketika kami, peserta magang madya Hayamwuruk sampai di Kota Lama. Kemudian kami mengunjungi taman yang terletak di sebelah gereja Blenduk. Suasana di sana terlihat sangat ramai dengan adanya Pasar Klithikan yang menjual barang-barang antik di samping timur.
Sesampainya di taman, perhatian kami langsung tertuju pada kumpulan orang yang mengenakan pakaian zaman dulu seperti pada masa penjajahan. Ada yang memakai seragam kompeni, tentara Jepang, bahkan pakaian ala pribumi seperti kebaya. Saat kami menghampiri dan menemui salah satu dari mereka, ternyata mereka adalah Komunitas Sepeda Onthel Semarang.
Kami berkesempatan menemui ketua komunitas, Fauzi, yang saat itu mengenakan kostum tentara Sekutu. Komunitas yang kami temui ini berada di bawah naungan KOSTI (Komunitas Sepeda Tua Indonesia). “Kalau yang di Jakarta itu KOSTI Pusat, kalau yang ada di Jawa Tengah atau Jawa Timur itu KOSTI Provinsi. Kalau KOSTI yang di Semarang itu KOSTI Perwil Semarang yang menaungi tujuh sampai delapan komunitas sepeda onthel di Semarang,” ungkapnya.
Komunitas ini dibentuk dengan tujuan melestarikan eksistensi sepeda onthel sekaligus mengenang masa-masa perjuangan yang diwujudkan dalam bentuk komunitas onthel. Kegiatan ini diharap mampu  menghidupkan kembali kecintaan terhadap sepeda onthel khususnya di daerah Semarang.
KOSTI Semarang didirikan tahun 2010, tepatnya pada saat Festival Kota Lama I. Walau tergolong baru, pada tahun keemapatnya komunitas tersebut telah memiliki 300-400 anggota. Anggotanya terdiri dari pelbagai kalangan baik muda maupun tua. “Kami tidak berasal dari kalangan tertentu, tidak membedakan tua atau muda apalagi kasta-kastaan. Lihat saja di sana ada yang masih muda dan bahkan tua sekalipun,” kata Fauzi sembari menunjuk ke arah anggota-anggotanya.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh KOSTI Semarang meliputi kegiatan touring seminggu sekali yang dimulai dari kawasan Simpang Lima. Selain itu, ada juga event yang dilaksanakan setiap dua bulan sekali dengan touring ke berbagai daerah di Jawa Tengah seperti Purwodadi, Grobogan, dsb. Komunitas ini juga sering berpartisipasi dalam berbagai acara di kota Semarang,  seperti dalam Festival Kota Lama yang diselenggarakan oleh Oen Foundation. KOSTI juga sempat diundang pada salah satu acara  AIESEC  UNDIP.
Dalam melakukan kegiatan, mereka selalu memakai pakaian zaman perjuangan dulu. Menurut penuturan Fauzi, hal itu merupakan  sebuah kebanggaan terhadap warisan budaya, Meskipun terbilang mahal, mereka tetap mengenakan pakaian tersebut. “Kostum yang kayak gini aja delapan ratus ribu lho.” tutur beliau sambil menunjuk kostum yang dikenakan.
Siapapun boleh bergabung dengan komunitas ini  tetapi dengan syarat harus memiliki sepeda onthel terlebih dahulu. Jika sudah memiliki sepeda maka dapat bergabug dalam event-event KOSTI yang diadakan rutin seminggu sekali, di tempat-tempat yang telah disepakati. Bagi yang ingin bergabung dapat mendatangi kantor sekretariat KOSTI di daerah Suyudono, Semarang.
Selain Fauzi, terdapat wisatawan lain yang berkunjung ke Kota Lama. Supardi, wisatawan asal Tlogosari berkomentar mengenai keberadaan KOSTI Semarang. Ia mendukung adanya komunitas ini karena bisa melestarikan warisan masa lampau. “Ya, bisa nostalgia dan mengenang kembali zaman-zaman perjuangan.” Ia juga mengaku memiliki sepeda tapi bukan onthel. “Saya punya sepeda, tapi bukan onthel melainkan sepeda biasa,” ungkapnya sambil tertawa.
Lain lagi dengan Novi, wisatawan asal Pedurungan. Ia tidak begitu tahu tentang KOSTI tapi ia mendukung pula keberadaan komunitas ini. “Mereka disini, ya, ngumpul-ngumpul sesama penyuka barang antik. Saya mendukung komunitas ini karena saya sendiri juga suka barang-barang klasik,” tuturnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top