Sabung Ayam; Tradisi atau Judi?

Oleh : Novi Handayani
Reporter : Elly R., Kaesthi

Kota Lama, Semarang (27/4),Suasana terik tak membuat kami gentar untuk menyusuri Kota Lama yang terkenal dengan banyak sejarah. Gedung-gedung putih yang tak terurus dan merupakan peninggalan Belanda itu menyisakan banyak cerita dan budaya. Salah satunya di sudut jalan dekat Gereja Blenduk tampak ramai dengan lalu lalang orang yang sebagian besar berjenis kelamin laki-laki.
Awalnya kami ragu-ragu untuk mendatangi kerumunan itu. Namun setelah bertemu dengan Muhyan (50) seorang petugas parkir, keragu-raguan kami menghilang.Ternyata keramaian di sana dikarenakan orang-orang yang tengah melestarikan budaya Ciung Wanara (sabung ayam).
Budaya Ciung Wanara ini bermula dari sebuah legenda di Kerajaan Galuh. Walaupun kebudayaan ini bukan berasal dari Semarang namun tradisi ini masih berlangsung hingga kini.  Muhyan (50) memaparkan bahwa adu ayam ini selain untuk melestarikan budaya juga merupakan hobi yang bisa menyegarkan pikiran setelah penat bekerja seminggu penuh. Maka tak heran jika setiap hari Minggu adalah hari yang paling ramai dikunjungi pemain dan juga penonton serta penjual, dimulai dari pagi hari hingga jam lima sore. Biasanya waktu paling ramai adalah ketika jam sebelas siang. Penonton tidak  hanya dari Kota Semarang saja tapi juga banyak dari kota lain di Jawa Tengah.
Untuk kriteria ayam yang sering diadu, Kristianto (34), seorang penjual ayam mengatakan bahwa ayam jago adalah ayam yang paling digemari oleh pemain. Harga ayam berkisar antara Rp 1.000.000 – Rp 3.000.000. Harga ayam akan lebih tinggi jika ayam tersebut selalu menang. Kristianto menjelaskan bahwa ia bisa menjual 20-25 ekor ayam dalam sehari. Ini membuktikan bahwa antusiasme masyarakat terhadap sabung ayam relatif tinggi.
Haryono (61) penonton, mengatakan bahwa  dia ikut menonton sabung ayam ini dikarenakan hobi. Banyak orang mengira bahwa Ciung Wanara ini seperti judi dan dipandang sebelah mata. Menurutnya ayam ditandingkan di sini hanya untuk percobaan saja dan untuk menyalurkan hobi, bukan untuk judi.
Ketika kami mencari informasi lebih lanjut, banyak narasumber yang enggan memberikan informasi. Bahkan saat kami mewawancarai Kristianto, Lelaki be berkata “Ini nggak diekspos kan?” berbeda dengan pemaparan yang diuraikan Muhyan (50), “Sekarang ini banyak kebudayaan kita yang dianggap seperti gimana, padahal budaya itu harus dilestarikan, kayak di Jawa Barat adu domba. Itu mereka dilindungi, jadi itu tergantung lingkungan. Karena disini tidak mengganggu maka tidak pernah ada polisi yang datang”.
Dari dua pemaparan  mengenai sabung ayam ini maka kami kembalikan lagi pada pembaca. Apakah sabung ayam ini benar-benar sebuah tradisi turun-temurun atau menjadi sebuah ajang perjudian?***

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top