Mahasiswa Ideal (Juara II Sayembara Menulis Hayamwuruk)

Oleh : Bangkit Iswadi* 

Di era globalisasi
sekarang ini, seringkali kita jumpai lulusan sarjana yang susuah mendapatkan
kesempatan untuk berkerja, dan menjadi mahasiswa bukan jaminan untuk sukses.
Semakin banyak orang kuliah maka semakin banyak orang yang akan menganggur.
Kualitas mahasiwa zaman sekarang banyak mengalami penurunan “harga” dibanding
dengan mahasiswa zaman dulu. Hal itu bisa disebabkan karena adanya pergeseran
nilai-nilai etika yang mempengaruhi budaya kita.
Sebagai seorang
mahasiswa yang menjalankan kehidupan perkuliahan, tentu harus memilik cara
sendiri untuk bisa survive di lingkungan yang penuh persaingan ini. Cara
termudah pastilah dengan rajin masuk kelas dan mendapatkan nilai yang baik.
Akan tetapi jika mengacu pada judul di atas, tentu cara ini masih belum cukup
untuk menghantarkan kita menjadi mahasiswa ideal. Karena dalam “dunia kampus”
kita juga harus bisa mengkombinasikan berbagai aspek yang terdapat di dalamnya.
Akademis memang
menjadi prioritas utama. Sesuai dengan peran akademiknya, yakni mahasiswa dengan
segala aktivitasnya harus tetap menjaga kegiatan kuliahnya, di mana harus
selalu fokus dalam menuntut ilmu dan pengembangan wawasan, menghasilkan
berbagai inovaasi dan prestasi, serta berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan
akademik, yang diharapkan dapat memberikan citra baik bagi masyarakat luas.
Hal ini tidak boleh
dipandang sebelah mata, yakni, aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan atau
organisasi-organisasi di kampus. Aktif dalam organisasi berguna untuk
mengembangkan minat dan bakat, dan juga menambah wawasan kita terhadap
lingkungan kampus. Selain itu juga melatih soft skill, yang akan
berdampak terhadap “dunia kerja” kita nantinya. Seperti kemampuan berinteraksi,
kemampuan berkomunikasi, kemampuan berpikir, berpikir logis-sistematis, kemampuan
menyampaikan gagasan di muka umum, kemampuan melaksanakan fungsi manajemen:
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, kemampuan dalam
kepemimpinan, serta kemampuan memecahkan permasalahan. Di mana dengan kemampuan
yang terbentuk ini, maka seorang akademisi ketika memasuki dunia kerja akan
lebih tanggap, terampil, cekatan, dan mampu beradaptasi dengan baik. Lain
halnya dengan meraka yang semasa kuliah tidak aktif berorganisasi, maka ketika
memasuki dunia kerja dia baru mulai mempelajari keterampilan-keterampilan di
atas. 
Hal ini membutuhkan waktu, dan kadang membuat atasan kurang respek,
karena semestinya ketika memasuki dunia kerja seseorang benar-benar telah siap
bekerja, bukannya baru belajar dari awal.
Spiritual adalah hal
yang tidak bisa dan tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan kita. Ini merupakan
suatu keharusan yang berjalan seiring seirama dalam kehidupan perkuliahan.
Karena spiritual adalah dasar dan pedoman kita dalam menjalankan kehidupan.
Mengabaikan spiritual akan berdampak terhadap pembentukan moral kita. Begitu
banyak kita saksikan orang-orang pintar dan pejabat tetapi bermoral bejat.
Berbagai kasus memalukan dilakukan orang-orang tersebut. Sebut saja salah
satunya seperti anggota DPR yang menonton film tidak senonoh saat rapat
dilaksanakan atau yang lebih fatal lagi saat terjadi penyelewengan dana untuk
kitab suci yang dilakukan oleh menteri kita. Mereka bukan bodoh, mereka justru
bisa duduk dengan jabatan mereka karena kepintaran mereka. Tetapi moral mereka
yang rusak, telah menjerumuskan mereka dan hal-hal ini harus dihindari oleh
segenap civitas akademika. Sebagai mahasiswa yang berpendidikan tinggi, kita
mengemban peran moral, yakni di mana mahasiswa harus menjaga perilaku dan
tindak-tanduknya sebagai mahasiswa yang berakhlak dan menajdi tauladan bagi
setiap orang di sekitarnya. Hendaknya kita juga selalu aktif dalam dakwah dan
menghimbau sesame untuk berbuat kebaikan. Karena dengan kemampuan spiritual
yang baik, akan terbentuk lingkungan yang berbudi pekerti, sehingga akan
terwujud tata kehidupan yang lebih beradab.
Sesuatu yang bisa
dikesampingkan tetapi tidak mungkin ditinggalkan, mungkin itulah yang tepat
untuk menggambarkan kata “pergaulan”. Sebagai makhluk sosial yang hidup
berdampingan satu sama lain, tentu kita harus tetap menjaga “tali pergaulan”
kita. Dan sebagai seorang remaja kita pasti membutuhkan teman dekat atau
sekadar teman hang out. Tetapi dengan menyandang status sebagai seorang
mahasiswa, kita tenu harus bisa memilih pergaulan mana yang harus kita ikuti. Tidak
hanya sekadar berteman, tetapi kita juga menjadikan pergaulan sebagai ajang
memperluas wawasan dan bertukar pikiran satu sama lain. Karena dengan itu kita
dapat membangun komunitas mahasiswa yang hebat, yang tidak hanya berteman erat,
tetapi juga mampu menciptakan atmosfer yang kuat di tengah bobroknya perilaku
sosial remaja di masa ini.
Nah, mahasiswa ideal
adalah mampu memposisikan dirinya dengan tepat di segala aspek di atas. Di sini
dangat dibutuhkan kemampuan time management sehingga mahasiswa mampu
membagi waktu dengan baik antara kuliah, berorganisasi, menyalurkan bakat atau
hobi, belajar, bekerja atau pun bermain. Tidak hanya itu, mahasiswa juga harus
memiliki komitmen yang kuat, karena dengan komitmen yang kuat seorang mahasiswa
akan mampu untuk fokus, dan senantiasa tekun dalam menjalankan kehidupan
perkuliahannnya. Mahasiswa ideal juga adalah orang yang bisa membangun motivasi
di dalam dirinya, karena motivasi adalah pembangkit semangatnya yang akan
menjadi “roh” dalam pencapaian tujuannya. Dan semua itu pastinya harus didasari
dengan spiritual yang baik, taat beribadah, juga memiliki budi pekerti yang
baik, karena budi pekerti adalah mata uang yang laku di mana saja, dan bisa
untuk membeli apa saja. Dengan budi pekerti yang baik, simpati mudah
didapatkan. Dengan budi pekerti yang baik, ketidaksukaan orang dapat
dihapuskan. Dengan budi pekerti yang baik, hati dosen atau atasan dapat dibuat
terkesan. Dengan budi pekerti yang baik, bantuan dan pertolongan orang lain
juga tentu lebih mudah didapatkan.
Kit adalah mahasiswa.
Sungguh menakjubkan karena tidak semua orang mendapatkan sebutan ini. Akan
tetapi tidak banyak mahasiswa yang menyadarinya. Mereka justru hanya terlalu
fokus pada kelas dan tugas saja. Padahal seharusnya kita bisa lebih aktif dalam
setiap aktivitas kampus. Karena dengan lebih aktif, kita bisa lebih
mengembangkan potensi dan meningkatkan kepedulian terhadap kampus. Lagipula,
mengingat biaya perkuliahan yang tidak murah, alangkah baiknya kita sebagai
mahasiswa bisa memberika dedikasi yang terbaik untuk orang tua kita. Melakukan
semua yang terbaik dan tetap taat kepada agama. Karena bangsa ini ssudah cukup
penuh dengan orang-orang yang cerdas ilmu tapi miskin moral. Kita adalah
penggerak, dan kita adalah agent of change. Marilah terus berbenah,
interospeksi diri, ubah pola pikir, dan jadilah mahasiswa ideal demi
terwujudnya generasi pembangunan yang lebih baik.
*Penulis merupakan mahasiswa Sejarah Indonesia 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top