Redyanto: “Cintailah Apa yang Anda Ingin Lakukan”

Setelah melewati proses panjang untuk memilih pimpinan
baru Fakultas Ilmu Budaya Universitas Dipongoro (Undip), akhirnya terpilih Drs.
Redyanto Noor, M. Hum sebagai dekan baru FIB menggantikan Dr. Agus Maladi
Irianto M.A. Laki-laki kelahiran Ponorogo, 7 Maret 1959 ini merupakan alumni S1
Fakultas Sastra Undip tahun 1984.
Selesai lulus dari
Undip beliau kembali ke Ponorogo dan menjadi pengajar sekaligus menjadi dosen
di IKIP PGRI Ponorogo. Baru di tahun 1986 beliau kembali ke Semarang dan menjadi
dosen di Fakultas Sastra Undip jurusan Sastra Indonesia setelah mendapat surat
pemanggilan dari pihak kampus.
Dengan
gaya santainya, lelaki yang suka mengisi waktu luangnya dengan olahraga Tenis
ini menceritakan perjalanannya menjadi seorang dosen yang tetap memiliki
semangat belajar. Beliau yang saat itu menjabat sebagai asisten dosen harus
meninggalkan Semarang untuk melanjutkan pendidikan di jenjang S2 Ilmu Susastra
UI pada tahun 1990-1993. Setelah selesai dan mendapatkan gelar M. Hum, beliau kembali
ke Undip dan melanjutkan tugasnya sebagai pengajar. Kemudian beliau mendapatkan
jabatan sebagai sekertaris jurusan. “karena ketua jurusan pada waktu itu
terpilih menjadi pembantu dekan satu, kemudian ketua jurusan setelah itu juga
terpilih menjadi dekan, akhirnya saya merangkap menjadi ketua jurusan. Baru
pada tahun ketiga pemilihan ketua jurusan saya terpilih.” Jelasnya.
Setelah
lima tahun tidak menekuni pendidikan, akhirnya pada tahun 2007 beliau kembali
melanjutkan studinya S3 di UGM mengambil konsentrasi Ilmu Susastra dan lulus
tahun 2014 dengan predikat cumlaude yaitu 4,00. Beliau juga banyak menghasilkan
karya-karya ilmiah yang salah satunya yaitu Dunia Pemikiran adalah Dunia
Minoritas : Kritik Sastra Budi Darma yang terbit 6 Oktober 2004. Tahun 2000
beliau mendapat penghargaan Satya Lencana Karya Setya 20 dari Presiden RI dan
kembali mendapat penghargaan yang sama di tahun 2011.

Mahasiswa zaman sekarang itu mlempem semua,
kalau zaman dulu itu mahasiswa militer kok
tiap hari bengak-bengok di air
mancur termasuk saya.’’ Tutur pak Redy saat ditanya mengenai pergolakan yang
dialami mahasiswa saat ini. Saat pertama kali menjadi mahasiswa Undip beliau
ikut tinggal bersama kakaknya yang seorang militer dan tinggal di daerah
Ksatrian. Dosen yang biasa dipanggil pak Redy ini mengaku sangat mencintai
dunia mengajar, karena menurut beliau dengan mengajar beliau dapat menambah
ilmu dengan selalu membaca buku bahan ajaran untuk mahasiswa.
Meskipun
sekolahnya sempat terhenti karena beliau menjadi dosen di Undip namun semangatnya
untuk tetap bisa belajar sangat tinggi. Terbukti saat usianya sudah tergolong
tidak muda lagi beliau masih melanjutkan studinya sampai ke jenjang S3. “ Saya
itu aneh, saya menjadi semangat belajar ketika saya melihat mahasiswa saya”
tutur suami dari salah seorang alumni Undip jurusan Sastra Inggris. Ayah dari 2
orang anak ini gemar memancing dan nonton sepak bola. Beliau menjelaskan sambil
tersenyum “ Kalau saya sudah punya agenda untuk memancing tidak peduli kalau
mau ada mahasiswa yang datang ke rumah untuk bimbingan, sebelumnya saya udah
menghubungi mereka kalau saya tidak bisa diganggu karena saya mau memancing.”
Berbicara
tentang pengalaman pertama menjadi dosen, beliau mengaku ketika mengajar
pertama kali beliau diawasi langsung oleh dosen senior. “ Saya waktu itu
diawasi langsung oleh salah seorang dosen senior dan saya disuruh terlebih
dahulu menyusun bahan ajar yang nantinya akan saya sampaikan ke mahasiswa
saya.” Ungkapnya. Selain itu beliau juga menyampaikan menjadi seorang pengajar
atau dosen itu harus serius dan cinta dengan apa yang akan dikerjakan, selain
itu cintailah mahasiswa termasuk semua civitas akademika lainnya.
Laki-laki
yang juga pecinta kucing ini mengungakapkan kalau tiap minggu pasti ada hari
dimana beliau ikut ronda dengan warga di komplek perumahannya.
Tidak hanya itu selain sering ikut ronda dengan warga
disekitar komplek perumahannya beliau ternyata juga ikut kegiatan di sekitar
kompleknya seperti bersih-bersih komplek dan mencangkul. “Saya senang kalau
bisa ikut kumpul dengan warga disekitar komplek sini, soalnya saya takut mereka
memiliki penilaian yang beda kepada saya, kayak misalnya disini kan saya posisinya
seorang dosen sedangkan warga disekitar sini kan kebanyakan pekerjaanya seperti
sopir, tukang bakso dll, saya itu paling takut kalau sampai dibenci sama
orang.” Tuturnya.
 Pesan terakhir
dari dekan terpilih FIB tersebut kepada para mahasiswa FIB “ Cintailah apa yang
anda ingin lakukan. Jika anda ingin kuliah, maka cintailah buku. Dengan
mencintai itu semua maka anda juga akan mencintai kampus anda.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top