“Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”

Oleh : Annisa Intan Pratiwi



www.goodreads.com


“Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”
            Sepakatlah,
siapapun anda, pasti ingin membaca terusan kalimat di atas dengan khidmat dan
hati kondusif. Terlebih bagi para lajang yang belum menemukan belahan jiwa. Ya,
cinta sejati acap kali menjadi buah bibir 
kawula muda, namun hingga kini tak ada pedoman baku untuk mendapatkan
itu semua.
            Jangan
khawatir, A.S Laksana dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Murjangkung
telah menawarkan solusi. “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati” adalah satu di
antara 20 cerpen yang menggelitik naluri pembaca. Berkisah tentang Seto dan
adik dungunya yang terus mempermasalahkan cinta. Menurut Seto, adiknya selalu
berkubang dalam lingkaran yang sama, yaitu hubungan dilematis lantaran beda
keyakinan. Karena itu Seto merasa berhak menjulukinya Kerbau, terutama jika si
adik mulai merepet tentang pindah agama.
            Keributan
demi keributan terjadi. Seto kasihan sekaligus sedih dengan kebebalan otak
adiknya. Namun, sejatinya kesedihan itu muncul karena si adik tidak bisa
membedakan kebenaran dan keyakinan. Bahwa cinta terlalu sempit jika
disepadankan dengan keimanan yang memiliki tolak ukur absurd. Seto tidak
mengerti, mengapa si adik harus membenci kekasihnya karena mereka tidak berada
dalam koridor ketuhanan yang sama. Padahal, fakta bahwa kekasih si adik sudah
beristri harusnya menjadi alasan paling masuk akal. Alhasil si Kerbau
(panggilan Seto untuk adiknya), hidup laksana perawan suci hingga akhir cerita.
Melalaui
“Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”, pengarang seolah mengajak pembaca untuk
menguji keyakinan beragama dengan hal sesederhana cinta. Bagaimana pun kita
tidak bisa membenci seseorang karena latar belakang kepercayaannya. Itu tidak
adil. Apalagi sampai memaksa pindah agama, atau sebaliknya, kita yang
mengepaskan diri dengan keyakinan KTP mereka. lagi pula bukankah Tuhan Maha
Tahu isi hati, bahkan juga urusan administrasi kelurahan? Maka pembaca seakan
dibawa pada rasa skeptis, kemudian bertanya-tanya, benarkah keyakinan saya ini?
Seringkali kita
demikian ragu, bagaimana seseorang bisa menjadi cinta sejati kita bila agama
saja bahkan tak sama. Tapi A.S Laksana memiliki pemikiran berbeda. Dia memiliki
trik gila untuk memastikan apakah seseorang memang ditakdirkan untuk kita atau
tidak. Tentunya dengan syarat, anda bukan kerbau bebal yang berkubang
terus-menerus dalam kultus keyakinan. Melalui teknik ini, minimal anda
terhindar dari derita penolakan. Coba, bermartabat mana orang yang ditolak
karena agama, dengan mereka yang ditolak tersebab hal-hal lain. Seperti, kurang
tampan misalnya[1].
Selain pandai
mengaduk emosi pembaca dengan premis-premis sufistik, pengarang juga piawai
membuat guyonan getir. A.S Laksana hampir selalu mengulang anggapan dungu
terhadap dia yang mengkotak-kotakan cinta dalam selot agama. Anggapan tersebut
dikemas dalam bahasa yang satire dan nyaris nyinyir. Misalnya sebagai berikut:
Jauh sebelum si Kerbau mengajukan
pertanyaan pagi itu, Seto bahkan sudah membuat makalah untuk sebuah diskusi
tentang hidup waras dan alasan-alasan pendukungnya. Ringkasan presentasinya
begini: Sekarang bayangkan seseorang menanyaimu, “Kenapa kau menyayangi orang
itu?” dan kau menjawab, “Karena aku membencinya.” Oh, kau pasti dianggap tidak
genap karena jawaban itu. Sebaliknya, kenapa kau membenci orang itu? Kau jawab,
“Karena aku menyayanginya”. Ini juga jawaban yang membuatmu perlu dibawa ke
Puskesmas. (Laksana, 2013:71)
Berdasar kutipan
itu saja, kita dapat melihat betapa pengarang membekali tokoh Seto dengan
sinisme yang tinggi terhadap cinta. Terlebih kalimat-kalimat tersebut berada
dalam konteks, ‘membenci atau mencintai seseorang karena alasan beragama’. Ini
sesuatu yang muskil. Karena bagi Seto, membenci orang yang dicintai adalah
keruwetan. Maka jadilah cerpen ini semacam karya sinis dan menyindir mereka
yang ingin objektif tapi tak mau keluar dari zona keyakinan.
Hal lain yang
menggelitik dari keseluruhan cerpen ini adalah bagian teratas. Judul. Pengarang
sepertinya memiliki bakat untuk menarik pembaca dalam sekali pandang. Tidak
dipungkiri, “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati” mempunyai kans besar untuk dibaca
hanya dengan melihat judulnya. Seperti produk andalan yang berada di etalase
teratas lengkap dengan promosi menggiurkan. Hanya saja, memang mengecewakan
bagi anda yang berharap menemukan tips-tips menggaet cinta sejati. Begitu pula
untuk anda yang alergi metafora dan kalimat-kalimat filosofis. Tidak disarankan
membaca “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”, karena strukturnya dibangun oleh
elemen-elemen yang sangat sastra.
A.S Laksana
tampaknya berniat agar pembaca menelanjangi keyakinannya sendiri. Percayalah,
cerpen ini penuh misi yang bisa membuat ragu pada definisi cinta sejati.
Jangan-jangan mereka yang anda sebut sebagai pasangan, akan segera mendepak
dari ikatan jika anda lancang berpindah keyakinan. Tapi memang itu harga yang
harus dibayar untuk sebuah pencarian.
Jadi, masih
berminat menemukan cinta sejati?


[1]
Salah satu kutipan dalam “Teknik Mendapatkan Cinta Sejati”
     

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top