Bincang dan Berbagi Novel di GSG

Mendung
tipis menggelayut di langit Gedung Serba Guna (GSG) Fakultas Ilmu Budaya, Jumat
siang (11/3). Gedung yang biasanya sepi itu terlihat ramai. Antrian menjulur di
depan pintu masuk utama. Acara bedah buku bertajuk “Bincang dan Berbagi Novel 180”,
diselenggarakan di gedung yang baru resmi sejak 5 februari tersebut
Buku
setebal 318 halaman itu merupakan novel kolaborasi dari dua penulis yang
berbeda generasi. Dilihat dari latar belakangnya, Noorcha M. Massardi (62)
adalah seorang pewarta, penulis fiksi, drama, dan skenario film, sedangkan
Mohammed Cevy Abdullah (36) adalah lulusan kedokteran hewan Institut Pertanian Bogor.
Perbedaan umur yang terpaut jauh itu tidak menjadi kendala besar karena bedanya
pemikiran di antara keduanya.
“Walaupun
saya baru mengenal Mohammad Cevy Abdullah 14 bulan lalu, ternyata kami memiliki
kesamaan visi, misi, karakterisasi, dan konsep penulisannya. Alhamdulillah,
semua lancar. Terutama karena niat kami memang sejalan. Ingin berbagi inspirasi
tentang pergulatan hidup yang berakhir happy-ending,
dengan generasi muda negeri ini, yang menyimpan energi luar biasa” kata Norcha.
 
Novel
yang diterbitkan oleh divisi penerbitan sastra, seni dan budaya; Kaki Langit
Kencana (Prenadamedia Group) itu, berisi kisah inspiratif tentang perjalanan
hidup Tora, seorang pemuda petani miskin yang sangat disiplin, fokus dan
pekerja keras, yang bertekad untuk meraih cita-citanya. Tora percaya semua
mimpinya bisa diwujudkan melalui kerja keras, ilmu pengetahuan, percaya diri,
dan tidak pernah mengasihi diri sendiri. Segala cara sudah ditempuhnya. Hingga
akhirnya, ia dipercaya seorang pemodal asing untuk mengelola perusahaaan agro-industri
terbesar di Asia.
Mulyo
HP, moderator sekaligus penggagas acara, menjelaskan bahwa ini bedah buku ini adalah
kesempatan yang bagus dan sayang untuk dilewatkan. Sebab, ada banyak hal yang
bisa didapatkan oleh peserta, seperti spirit yang dimiliki penulis dan
pelajaran hidup yang bisa dipetik dari novel tersebut. 
Meski
digelar di lingkungan kampus, peserta yang hadir tak hanya dari kalangan
mahasiswa, bedah buku juga dihadiri oleh masyarakat umum. Titin, seorang ibu
rumah tangga, menyampaikan alasannya hadir dalam acara tersebut kepada Tim Hayamwuruk.
“Sejak kecil saya suka  sastra. Suka baca
juga. Ingin tahu ceritanya juga. Kayak anak muda, yang bisa dapet motivasi dari
bedah buku, aku juga pengen” katanya.

Seusai
acara, Kang Cecep (panggilan akrab Muhammed Cevy Abdullah) menyampaikan rencananya
untuk memfilmkan novel tersebut. “As soon as possible lah. Semoga tahun 2017
udah jadi”, ujarnya. Sementara itu, delapan puluh peserta pulang dengan membawa
novel yang dibagikan secara cuma-cuma dalam acara tersebut.
(Novi Handayani/Wahyu Dwi A/Ulfaturroifah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top