Lahirnya Gerakan Mahasiswa Pembela Kendeng

Senin,
2 Januari 2017. Ruang tengah Kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang terlihat
sesak. Malam itu, sekitar pukul 19.30, lebih dari dua puluh mahasiswa lintas
perguruan tinggi di Semarang menghadiri rapat untuk menyikapi kasus PT. Semen
Indonesia di Rembang yang kian pelik.

Sebabnya,
sampai saat ini Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, belum melaksanakan
putusan Mahkamah Agung (MA) yang memenangkan gugatan warga, yakni dengan
mencabut Izin Lingkungan, Penambangan dan Pendirian Pabrik Semen yang telah
dikeluarkan Gubernur sebelumnya melalui SK No. 660.1/17 tahun 2012. Padahal,
putusan tersebut telah keluar sejak 5 Oktober 2016 dan merupakan upaya hukum
luar biasa sekaligus terakhir.

Sejak
19 Desember lalu, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Koalisi Semarang
untuk Kendeng sebenarnya telah membangun solidaritas untuk warga Rembang. Beberapa
dari mereka menggalang bantuan dan menemani perjuangan warga yang memutuskan
untuk bertahan di depan Kantor Gubernur setiap hari sampai putusan tersebut
dilaksanakan. Namun, itu saja ternyata belum cukup.

Menurut
Samuel Bona Rajaguguk, dari LBH Semarang, massa mahasiswa harus hadir dan memberikan
tekanan kepada Ganjar agar segera mengambil sikap dan mematuhi putusan hukum. Jika
tidak ada tekanan, ia khawatir, bisa jadi Ganjar akan menegasikan putusan MA
dan melanggengkan pendirian pabrik semen di Rembang. Apalagi, di berbagai media,
Ganjar semakin menunjukan keberpihakannya kepada PT. Semen Indonesia.

“Tidak
cukup jika aksi-aksi yang dilakukan masih sebatas solidaritas, dan sifatnya
individual. Ada ruang kosong yang harus diisi di sini (antara tanggal 2-17
Januari), kita mau ngapain?,” ujarnya.

Dari
situlah kemudian muncul inisiasi untuk membangun gerakan bersama bernama Gerakan
Mahasiswa Pembela Kendeng (GMPK). Gerakan ini ditargetkan melakukan beberapa aksi
dengan tekanan massa yang terus meningkat semakin harinya. Dari pertemuan
tersebut, disepakati bahwa para perwakilan mahasiswa akan melakukan konsolidasi
di masing-masing kampus. Dan, agar dapat membentuk masa aksi yang solid dan
masif, GMPK akan mendatangi setiap kampus secara bergilir dalam setiap agenda
konsolidasi.

Malam
itu, dibuat pula jadwal diskusi dan konsolidasi di setiap kampus di Semarang.
Jadwal itu dimulai dari tanggal 3 sampai 8 Januari. Konsolidasi pertama dimulai
di Universitas Muhammadiyah Semarang pada tanggal 3 Januari. Dilanjutakan
berturut-turut di UIN Walisongo pada 4 Januari, Unnes dan Undaris pada 5
Januari, USM pada 6 Januari, Undip, Unissula dan Polinnes pada 7 Januari, serta
Unwahas pada tanggal 8 Januari.

Tak
hanya di Semarang, GMPK diharapkan dapat menjangkau kota-kota lain seperti
Salatiga, Jogja dan sekitarnya. Sebab, kantong-kantong solidaritas untuk
perjuangan melawan pabirik PT. Semen Indonesia di Rembang memang telah
melampaui batas-batas administrasi daerah.

Rencananya,
agenda aksi bersama akan dilaksanakan pada Senin, 9 Januari 2017. Aksi ini ditargetkan
akan dilakukan bertahap sampai tuntutan dilaksanakannya putusan MA tercapai. Sementara
itu, Jumat lalu (6/1) puluhan mahasiswa Unnes dan beberapa mahasiswa dari
kampus lainnya telah mengawali aksi GMPK di depan Kantor Gubernur. 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top