Melawan Patriarki Merupakan Tuntutan atau Kebutuhan Zaman?

Budaya patriarki di Nusantara sudah mengakar kuat sejak lama, namun kini
hal tersebut mulai ditinggalkan karena gerakan feminisme perlahan bangkit
kembali.
📷Diskusi bertajuk “Budaya Patriarki pada
Perempuan Nusantara” yang diselenggarakan Kamisan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di
plataran Gedung Serbaguna FIB,Universitas Diponegoro (Undip), Kamis (9/3/2017).

Melawan patriarki merupakan tuntutan atau kebutuhan zaman? Hal
itu ditanyakan Stanisclau
s Costca Rheyno, mahasiswa jurusan
Sejarah Universitas Diponegoro (Undip), saat menjadi pembicara dalam diskusi
bertajuk “
Budaya Patriarki
pada Perempuan Nusantara
” yang diselenggarakan Kamisan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di Plataran  Gedung Serbaguna FIB Undip, Kamis (9/3/2017).

Menurut Rheyno, tumbuhnya budaya
patriarki karena usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup. Usaha itu direpresentasikan
dalam dua bentuk yakni, berburu yang dilakukan laki-laki dan bercocok tanam
yang dilakukan perempuan.

“Berburu membutuhkan keahlian khusus, serta kondisi fisik yang
selalu prima, wanita memiliki struktur biologis yang memaksa mereka mengalami
siklus bulanan yang biasa disebut kedatangan tamu,

paparnya.

Rheyno menuturkan dalam
kajian sejarah, gerakan feminisme di Indonesia sudah berlangsung sejak lama.
Lahirnya tokoh pahlawan wanita, seperti Cut Nyak Dien dan  R.A Kartini merupakan salah satu buktinya.
Organisasi perempuan awalnya berdiri pada tahun 1928 dengan tujuan untuk
memajukan pendidikan kaum hawa.
“Tujuan yang diperjuangkan dari aktivis feminisme dikatakan tercapai
yakni untuk memperjuangkan hak mendapatkan pendidikan,” ucapnya.
Di sisi
lain, Tiara Despitasari, Aktivis Malahayati Perempuan, menyoroti
feminisme dari isu sensitif di Indonesia 
yakni “keperawanan”. Menurutnya, isu itu seharusnya tidak dipermasalahkan
karena yang dipakai pemikirannya. “Padahal sebenarnya kalau kita berpikir
secara logis, keprawanan itu tidak perlu dipermasalahkan karena yang dipakai
bukan keprawanan tapi otak,” ucapnya.
Tiara
menambahkan jika Pekerja Seks Komersial (PSK) pun turut dipandang buruk, padahal
mereka terpaksa melakukannya karena keterbatasan ekonomi dan tidak mempunyai
keahlian khusus. “PSK di Indonesia dipandangnya
sangat buruk, padahal kalau kita bertanya pasti sama orang-orangnya, kita tahu
dia
terpaksa karena keterbatasan ekonomi
dan dia tidak punya keahlian khusus,” ujarnya.
Berbeda
dengan pendapat Gerry Pindonta, mahasiswa jurusan Hukum Undip yang mengatakan
jika isu feminisme dengan melakukan protes keterbatasan hanyalah semacam
“selebrasi”, bukan  lagi menjadi strategi
pergerakan sosial seperti yang dilakukan Kartini.    “Saya lihat
(protes) di beberapa kota setelah hari perempuan Internasional, agaknya menjadi
semacam selebrasi tidak ada lagi fungsi strategi pergerakan sosial,“ ujarnya.
Gerry pun menyarankan permasalahan gender tidak lagi dibedakan
berdasarkan jenis kelamin, tetapi berdasarkan kinerja.
“Gender itu bukan
lagi sebagai kisah tapi sebagai perform
activity,
 jadi ada action,” ucapnya.


(HW/Ulil)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top