Anak Emas Alas Konda

Anak
Emas Alas Konda
Rir*

Dok. Olga

Dukuh Panjul selalu
sederhana dengan mimik yang tenang. Betapa tidak, dukuh ini jauh dari peradaban
modern dan mempunyai peradaban sendiri. Warganya hanya mendapatkan pendidikan
dari keluarga dan alam. Dukuh yang diasuh oleh seorang dukun tersebut manggon di sebelah hutan lebat yang
bernama Alas Konda. Hutan ini berisi beberapa pohon yang usianya lebih tua dari
Dukuh Panjul yang konon jebrol
ratusan tahun lalu. Kehidupan merangkak datar dan alamiah. Namun suatu ketika,
angin tidak merangkak dengan semestinya. Untuk pertama kalinya, paras Dukuh
Panjul tergurat keriput-keriput percekcokan.
“Mbah Kunto, Mbah kan
dukun pengasuh Dukuh Alas Konda ini. Bujuklah leluhur agar istananya dapat kita
re-no-va-si.”
Di suatu malam yang
hanya menanggap suara jangkrik, Mbah Aji duduk di teras rumah Mbah Kunto,
beralaskan tikar pandan. Ada sepiring singkong rebus dan kopi hangat hasil
tumbukan sendiri.
“Re-no-va-si?” Dukun
yang matanya sipit sebelah itu menggeleng-gelengkan kepala. Belakangan, istilah
baru itu menjejali telinga warga sehingga menjadi buah bibir. Semakin panjang
lebar dibicarakan, semakin tidak pahamlah mereka. “Mbah, saya tidak berani. Ini
lancang, namanya.” kakek yang memasuki kepala tujuh dan berambut jarang berwarna
putih ini menyruput kopinya dengan berat.
“Coba pertimbangkan
kembali. Singkong rebus, kopi, dan tikar pandan ini datangnya dari mana? Dari
Alas Konda, Mbah.” Sesekali angin seliweran
menjeda obrolan mereka. “Saat musim penghujan, leluhur yang manggon di pohon-pohon Ketapang itu
menjaga kita dari kebanjiran. Saat musim kering? Kita tidak pernah kekeringan
air. Lalu … .” belum lengkap kalimat itu lepas dari mulutnya, kakek yang juga
berperawakan gering kerempeng seumuran itu memotong
pembicaraannya.
“Cobalah berunding
dengan memberikan sesajen kepala kerbau lebih dari biasanya. Kalau biasanya
lima kepala, tambah menjadi sepuluh kepala kerbau. Ini juga demi kebaikan warga
Dukuh Panjul, Mbah.” tambahnya. “Mbah Kunto kan ahlinya.” dengan senyum yang
menjadi khasnya.
Tidak ada satu pun
warga Dukuh Panjul yang pernah menangkap raut amarah dari parasnya yang telah
dimakan keriput tersebut. Ia terkenal bijak dalam memberikan keputusan, oleh
karena itu ia menjabat sebagai penasihat dukuh yang mendampingi Mbah Kunto,
dukun pengasuh Dukuh Panjul. Wajahnya selalu memancarkan ketenangan, kecuali
malam ini.
“Baiklah, saya pamit
pulang. Hari sudah larut. Biar Mbah Kunto memikirkan cara terbaiknya.” Pada malam
yang menggigit lebih dingin dari biasanya itu, kedua sesepuh tersebut tidak
tidur. Hanya berbaring pada emben
beralaskan selembar tikar pandan. Memang, duda selalu tidur sendirian.
            Keesokan
harinya, udara pagi tidak berbau seperti biasanya. Kendi minum milik Mbah Kunto
pecah menjadi dua di atas meja. Persis seperti peristiwa dua puluh tahun yang
lalu. Sebenarnya perasaannya sudah resah sejak semalam. Ada gagak yang
bertengger dan berkoak di atap gubuknya. Pertanda
buruk,
batinnya. Tanpa berkata-kata, dukun itu sergap keluar dari gubuknya
yang reotnya.
Lima langkah kemudian,
ia melihat warga  digegerkan dengan
penemuan mayat wanita berusia lima puluh tahun. Nenek bernama Mbok Irah itu
tenggelam di Kali Largowe yang terletak di tengah Alas Konda. “Mbah Kunto, apa
yang terjadi dengan Dukuh kita, Mbah? Ini seperti peristiwa dua puluh ta … .”
Mbah Kunto memotong pembicaraannya. Matanya melotot merah. “Siapkan lima potong
kepala kerbau dan tanggap jaran eblek
dua hari lagi.” Langkahnya menyepat menuju kediaman Mbah Aji.
Tak lama kemudian, ia
sampai pada gubuk yang tidak jauh berbeda dengan gubuk-gubuk di Dukuh Panjul.
Berukuran 4×4 meter dengan atap ilalang Alas Konda. Mereka memanfaatkan daun
kelapa yang dianyam untuk membuat rumah.
“Mbah Aji…, Mbah!
Keluar!” Lelaki tua itu pun keluar. “Ada apa, Mbah Kunto?” kaget. “Sampean jangan menyusahkan saya sebagai
pengasuh dukuh ini. Kalau ada apa-apa, saya yang ketempuhan. Warga juga yang akan sengsara.” Urat-urat pada kulit
keriput coklatnya semakin jelas terlihat.
“Iya Mbah, saya tau.
Mari kita bicarakan di dalam saja sambil ngopi.” Ia meraih tangan yang masih
kokoh walau sudah termakan usia itu, namun ditepis. “Sudahlah. Di sini saja.”
Menghela napas panjang. “Sampean
sudah dengar, Mbok Irah mati tenggelam di Kali Lorgawe?  Kendiku pecah menjadi dua di atas meja.
Semalam ada gagak berkoak di atap gubukku. Tiga peristiwa ini persis seperti
yang terjadi dua puluh tahun yang lalu.  Sampean tahu apa artinya? Para leluhur
marah! Marah padaku! Pada warga Dukuh Panjul!” Sejurus mereka terdiam. “Masih
berpikirkah sampean untuk
me-re-no-va-si Alas Konda? Kita ini jangan menjadi cucu-cucu yang tidak tahu
diri! Mereka telah memberi kita Dukuh ini. Juga Alas Konda. Alas Konda itu
adalah sumber penghidupan kita.”
            Alas
Konda adalah jantung Dukuh Panjul. Warga mengambil ilalang dan kayu untuk
membuat rumah dari Alas Konda. Mengambil air untuk segala keperluan hidup
seperti mandi, mencuci, minum maupun memandikaan kerbau di Kali Lorgawe. Airnya
yang jernih melimpah pada musim penghujan. Di musim kering pun airnya lebih
dari cukup untuk menopang kebutuhan warga.
Sagu yang dijadikan
nasi, singkong dan buah-buahan juga mereka dapatkan dari sana. Sayuran juga
obat-obatan. Walaupun mereka juga memiliki sepetak kebun di setiap
masing-masing rumah yang ditanami berbagai macam tumbuh-tumbuhan sebagai sumber
pangan, mereka masih saja menggantungkan kebutuhan pangannya pada hutan
tersebut. Warga jarang memakan nasi karena beras hanya bisa didapat dari pasar.
            Apapun
yang ada di Alas itu boleh diambil, kecuali lima pohon ketapang besar yang
usianya telah mencapai ratusan tahun namun sampai sekarang masih kokoh dan
rindang. Kelima pohon tersebut tidak boleh ditebang atau diusik sedikit pun.
Jika Alas Konda adalah jantung dari Dukuh Panjul, Lima Ketapang tersebut adalah
jantung dari Alas Konda. Kelima pohon dengan diameter satu setengah hingga dua
meter dengan tinggi mencapai lima ratus meter tersebut seperti bayi yang
kulitnya sangat sensitif. Harus diperlakukan secara istimewa dan hati-hati.
Ketapang terbesar dan
tertua terletak di tengah, bernama Ketapang Tuo. Di sanalah raja dari para
leluhur tinggal. Keempat lainnya bernama Ketapang Ijo, Ketapang Ireng, Ketapang
Abang dan Ketapang Biru yang letaknya menyebar. Konon, para arwah leluhur
itulah yang menjaga Alas Konda dan Dukuh Panjul dari kejahatan apapun–menurut
kepercayaan mereka. Bagaimana mungkin Alas Konda dapat direnovasi? Terlebih
tercium kabar bahwa Mbah Aji ingin mengusik pohon-pohon keramat tersebut saat
berdiskusi kemarin. Sedangkan Alas Konda selalu berparas dan bemimik sama. Jika
ada perubahan, itu bersifat alamiah. Atau harus izin terlebih dahulu kepada
leluhur. Tentu saja dengan syarat-syarat tertentu agar tidak rewel.
 Setahun dua kali, yaitu di awal musim
penghujan dan awal musim kemarau diadakan upacara di dekat Ketapang Tuo yang dipimpin
oleh Mbah Kunto. Mbah Kunto inilah yang akan berkomunikasi dengan para leluhur.
Ada lima potong kepala kerbau sebagai sesajen yang diletakkan di atas tampah. Kebanyakan warga memang beternak
kerbau dan jika ada upacara seperti ini, salah satu warga menyumbang satu
potong dan itu bergiliran. Dagingnya diolah bersama dan akan dimakan bersama
juga.
Mbah Kunto mengawali
dengan membakar kemenyan, kemudian ia duduk bersemedi di depan pohon itu. Kurang
lebih sepuluh menit. Seluruh warga duduk berbanjar rapi di belakangnya dengan
kidmad. Setelah itu, diadakan pertunjukan
jaran eblek.
Dimana pemainnya berjumlah lima orang, tiga gadis dan dua
perjaka. Mereka njoged dengan
menunggangi anyaman bambu berbentuk kuda yang dicat warna-warni tersebut. Njoged itu diiringi dengan tithe dan
gong. Lima menit njoged, para leluhur
akan merasuki lima tubuh warga dan akan ikut njoged dengan penari yang disukai.
Konon, kelima leluhur
ini memang terdiri dari tiga lelaki dan dua wanita. Njoged ini sampai malam, oleh karena itu, para penari diberi
japu-japu agar kuat njoged sampai
malam. Sedangkan penabuh musik bisa gantian dengan warga lain. Para warga yang
menonton akan pulang ke gubuk masing-masing kalau sudah lelah atau makanan yang
disediakan–nasi sagu yang diletakkan pada daun pisang yang disusun berjajar
dengan lauk daging kerbau bakar dan sayur dari jantung pisang telah habis.
Namun Mbah Kunto dan Mbah Aji harus menunggui upacara tersebut sampai selesai.
Upacara yang dimulai
pukul tujuh pagi tersebut berakhir pukul sepuluh malam. Hal ini karena arwah
leluhur sselalu meninggalkan tubuh warga yang dimasukinya pada jam tersebut. Kelima
penari juga warga yang kesurupan dan njoged
dengan mata tertutup tersebut langsung pingsan karena kecapaian. Mereka akan bangun keesokan harinya.
Inti dari pertunjukan ini adalah sebagai persembahan dan hiburan kepada para
leluhur yang telah memberikan Alas Konda dan menjaga Dukuh Panjul dari segala
kejahatan, baik kejahatan manusia maupun alam.
Memanglah manusia Dukuh
Panjul tidak pernah mengenal dan mengalami global
warming
yang tengah melanda dunia. Bagi mereka, cukup dengan menjaga Alas Konda
terutama memerlakukan Lima Ketapang sesuai adat turun-temurunlah mereka akan
hidup tenang dan selamat.
***
Dua puluh tahun yang
lalu, musibah melanda Dukuh Panjul. Kendi Mbah Kunto pecah menjadi dua di atas
meja. Sore harinya, datang berita menggemparkan. Mbok Tumirah–istri Mbah Kunto
dan Andana, hilang entah ke mana. Keesokan harinya, Mbok Tumirah ditemukan
tewas secara mengenaskan karena hanyut di Kali Lorgawe. Sedangkan Andana, anak
semata wayang Mbah Aji, hilang entah ke mana setelah paginya ketahuan ingin
menebang Ketapang Tuo. Salah satu warga yang melihat mencegahnya, kemudian ia
kabur. Ia menghilang entah ke mana. Warga percaya bahwa para leluhur marah dan
menyembunyikannya di alam lain.
***
Sekarang, peristiwa
yang sama pun terjadi. Mbok Irah tewas hanyut di Kali Lorgawe. Asal muasal
pelik ini berasal dari peristiwa tujuh hari yang lalu. Andana yang menghilang
dua puluh tahun lamanya muncul kembali di Dukuh Panjul. Penampilannya yang
necis menutupi usianya yang telah menginjak kepala lima. Celana jins panjang,
kemeja kotak-kotak, sepatu hitam mengilat, jam tangan dan kaca mata hitamnya
menyilaukan mata rakyat Panjul. Semua itu malah dipandang aneh dan wagu. Tentu saja, karena Dukuh Panjul memunyai
peradaban tersendiri.
Mereka hanya memunyai
beberapa lembar pakaian  lusuh hasil
membeli di pasar. Para wanita tua lebih nyaman memakai jarik saja. Tak heran jika omongan lelaki berkulit putih dengan
bercak-bercak hitam di wajah itu dianggap sebagai lawakan semata. Warga menganggapnya sebagai hiburan. Semakin banyak
yang ia bicarakan, semakin tidak mengertilah warga. Namun semangatnya yang
menggebu-gebu saat berorasi membuat warga senang dan bertepuk tangan ria. Hiburan
baru.
            “Dukuh
ini harus direnovasi, saudaraku! Kita butuh jembatan. Kita perlu membuat
bangunan yang setidaknya bergaya seni sedikit. Taman baca, mungkin. Sekolah dan
lain-lain. Kita membutuhkan generasi muda yang cerdas. Dengan demikian, Dukuh
ini akan dikemudikan secara terintegritas. Agar pengelolaan alam seperti Alas
Konda itu, bisa arif dan bijaksana. Alas Konda adalah aset berharga kita. Kita
bisa gunakan itu untuk mewujudkan pembangunan ini … .” Begitulah segala
celotehnya yang disambut dengan senyum plonga-plongo
atau tawa warga.
Warga Dukuh Panjul yang
tidak mengenal dan tidak dilanda kepo
beranggapan bahwa para leluhur telah berbaik hati mengembalikannya ke kampung
halaman. Warga juga tidak tertarik menanyakan perihal ke mana dia selama ini.
Jika kehilangannya dulu
dianggap sebagai penyebab hilangnya nyawa Mbok Tumirah di Kali Lorgawe,
sekarang kedatangannya juga dituding sebagai penyebab meninggalnya Mbok Irah. Dua
hari yang lalu, ia membujuk ayahnya, Mbah Aji. “Bapak, berapa jarak pasar dari sini?”
Tanyanya pada suatu hari. “Sepuluh kilo meter, Le.” Jawabnya acuh. “Masih
dengan nyebrang Kali Lorgawe itu? Pakai gethek?
Setelah itu melewati  jalan setapak yang
jelek, dan makin parah kalau musim hujan itu?” Berdecak sambil geleng-geleng. “Memangnya
mau gimana lagi? Pakai enggrang?”
Bapaknya terkekeh.
Satu-satunya hal yang
sedikit berbau ke-modern-an yang dikenal oleh Dukuh Panjul adalah Pasar
Sungkep. Di pasar ini, warga bisa membawa apapun yang bisa ditukar dengan barang-barang
yang tidak ada di Dukuh. Sisir rambut, kaca dan lain sebagainya. Barang yang
akan ditukar pun bervarisai, bisa kayu bakar, pisang, singkong dan lain-lain.
Namun karena sulitnya jangkauan menuju pasar, warga memilih berbahagia dengan
apa yang disediakan Dukuh Panjul saja. Kecuali jika ada kebutuhan mendesak.
Air kali yang belum
terkontaminasi limbah tersebut memiliki diameter sepuluh meter dengan kedalaman
yang sama. Tentu saja warga dengan pemikirannya yang seperti itu tidak mau
repot-repot memikirkan solusi untuk mengakali perawakan Kali Lorgawe.
“Ini mudah, Pak. Hanya
butuh renovasi.”
“Re-no-va-si?”
“Ya. Bangun jembatan
untuk menghubungkan hutan dengan jalan setapak menuju pasar. Jadi kan tidak
perlu nyebrang Kali Lorgawe susah payah pakai gethek. Itu merepotkan. Terlebih kalau musim penghujan begini.
Bahaya, Pak. Setelah jembatan, baru buat bangunan bermanfaat lainnya.”
“Caranya?”
“Kita bisa gunakan
pohon-pohon yang ada di Alas Konda ini. Toh, banyak, kan? Atau, dua tiga saja
dari kelima Ketapang tersebut lebih dari cukup. Hanya dua, tidak akan
berpengaruh. Pohon di sini kan banyak. Kalau perlu kita tanam pohon lagi agar
ekosistem tidak terganggu.”
Mbah Aji mengerutkan
dahi. “Jangan ngawur kamu, Le! Untuk
menebang pohon-pohon biasa saja, yang kecil-kecil itu, kita harus izin dulu
kepada leluhur. Nah ini, kamu mau menebang ketapang-ketapang itu? Jangan
durhaka! Kamu mau warga Dukuh Panjul ini celaka?”
“Itu takhayul, Pak. Apa
bapak pikir, yang menghanyutkan Mbok Tumirah di Kali Lorgawe itu arwah para
leluhur yang marah? Bukan, Pak. Itu karena kecelakaan. Karena almarhumah kurang
hati-hati. Kita tau kalau di musim penghujan seperti sekarang ini, Kali Lorgawe
Mbludak.” Hening sesaat.
“Makin ngawur kamu, Le! Seharusnya kamu
bersyukur karena para leluhur telah berbaik hati memulangkanmu ke dukuh ini.
Setelah menghilang selama dua puluh tahun kamu jadi aneh. Penampilan dan
omongan kamu itu, lho. Para warga menganggap kamu itu gendheng.”
“Jadi selama ini Bapak
juga berpikir kalau saya menghilang karena disembunyikan arwah para leluhur?
Tidak, Pak.”
“Banyak keanehan yang bapak
rasakan padamu, Le. Bagaimana kamu tahu kalau Mbok Tumirah hanyut di Kali
Lorgawe? Itu terjadi sore hari. Padahal paginya kamu menghilang. Bapak juga
merasa kalau kamu bukan seperti anak bapak yang dulu. Sudahlah, Le. Bapak sudah
tua, tidak mau berpikir yang rumit-rumit.” Andana tersenyum tipis. Ia begitu
mengenal bapaknya. Semenjak ibunya meninggal, apapun permintaan Andana pasti
dituruti. “Kenapa harus ketapang itu?” ia mengelus-elus jenggot putihnya yang awut-awutan.
***
            Seperti
yang telah dijadwalkan, upacara pun dilakukan di Alas Konda, tepatnya di dekat
Ketapang Tuo. Lima potong kepala kerbau dan pertunjukan jaran eblek. Keputusannya telak–tidak akan ada perubahan. Kalau
ada, itu harus terjadi secara ilmiah. Semenjak upacara itu, Andana tiba-tiba
menghilang seperti ditelan bumi. Sama seperti kehilangannya dua puluh tahun
yang lalu. Tanpa jejak. Muncul kesimpangsiuran bahwa para arwah leluhur sangat
marah dan mengambilnya kembali. Ia disembunyikan di Alas Konda dan hidup di
dalamnya. Ada benteng yang memisahkan kehidupannya dari kehidupan warga Dukuh
Panjul lainnya. Ada juga yang berkata bahwa ia dijadikan budak oleh raja
leluhur yang manggon di Ketapang Tuo.
Oleh karena itu, ia tidak bisa berinteraksi dengan warga lagi. Entah dari mana
asal kedatangan kedua kabar tersebut. Namun Dukuh Panjul dengan peradabannya
selalu menelan mentah-mentah kabar apapun asalkan berhubungan dengan Kelima
Ketapang itu.
Mbah Aji pun pasrah.
Kini, Dukuh Panjul seperti sedia kala. Berparas sederhana dengan mimik tenang.
Tidak ada ke-modern-an yang menyentuhnya, karena dukuh Panjul memiliki standar
ke-modern-an sendiri. Tak ada juga orang yang hanyut di Kali Lorgawe lagi.
Warga tetap menggantungkan hidupnya pada Alas Konda. Tetap mengeramatkan Kelima
Ketapang, Anak Emas Alas Konda tersebut.
*Penulis adalah mahasiswa Bahasa dan
Sastra Indonesia FIB Undip angkatan 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top