Film ‘Tanda Tanya’, Merajut Harapan Multikulturalisme di Indonesia

 
Semangat untuk menjaga toleransi hingga kini masih ada, walaupun dalam bentuk yang kecil, salah satunya dalam bentuk karya film Tanda Tanya. Hal ini dituturkan oleh Afidatul Latifah, Dosen Antropologi Universitas Diponegoro (Undip) dalam diskusi dan nonton film Tanda Tanya yang diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa Antropologi (Kawan) Undip, di Ruang A.3.10 FIB Undip Tembalang, Minggu (21/5/2017)
 
Afidatul menuturkan dalam beragama, kita harus memahami agama secara fundamental agar mendapatkan pemahamaan yang baik dan agar tidak menjadi ekstrimis yang dapat melampui batas pemahaman
keagamaan.
 
“Saya sampaikan ekstrimis (ini terjadi) karena memang gelombang gelombang ekstrimis ini melampui memahami pemahamaman keagamaan,” ujarnya.
 
Menurut Afidatul, agama itu memiliki dua aspek yakni pertama, aspek teosentris yang datang langsung dari Tuhan dan dipraktikkan langsung oleh manusia dan kedua, aspek antroposentris yangtidak dapat dihindari karena memiliki keberagaman dan budaya yang berbeda.
 
“Aspek antroposentris inilah yang tidak bisa kita hindari sebagai makhluk yang hidup di dunia dalam keragaman kita,” ucapnya.
 
Dalam aspek film, menurut Amirudin Ma’ruf, Dosen Antropologi, film Tanda Tanya karya Hanung Bramantyo patut diapresiasi karena tidak menampilkan sisi etnosentris yang mengunggulkan suatu ras tertentu.
 
Amirudin menuturkan harapan dari film ini memang terasa utopis namun gagasan dari film ini menampikan keinginan merealisasikan multikulturalisme dalam kehidupan sosial sehari-hari di Indonesia.
 
“Dia (Hanung Bramantyo) ingin merealisasikan multikulturalisme menjadi lebih konkrit dan nyata dalam berbagai panggung sosial sehari-hari,” tuturnya sekaligus mengakhiri sesi diskusi tersebut.
(HW/Ulil)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top