Peringatan Hari Pusi Nasional: Wiji Thukul Tidak Perlu Dicari (?)

 

Dok. Hayamwuruk

Jika
kami bunga
Engkau
adalah tembok itu
Tapi
di tubuh tembok itu
Telah
kami sebar biji-biji
Suatu
saat kami akan tumbuh bersama
Dengan
keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam
keyakinan kami
Di
manapun – tirani harus tumbang!
Itu adalah salah satu
puisi karya Wiji Thukul yang dibacakan oleh
Hutomo
Yoga, Ketua Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI),
dalam
diskusi dan apresiasi puisi yang diadakan oleh K
MSI Undip. Acara ini digelar dalam rangka memperingati
Hari Puisi Nasional.
Mengusung
tema
Sejarah dan Kontribusi Puisi dalam Perlawanan: Wiji
Thukul Tidak Perlu Dicari (?)
,
acara ini be
rlangsung di ruang teater,
Fakultas Ilmu Budaya (FIB) pada Selasa (2/5).
Alasan diskusi ini
bertolak pada puisi-puisi karya Wiji Thukul karena pada masanya, yaitu masa
orde baru puisi-puisi karya
Wiji Thukul ini mampu menggerakkan semangat perjuangan jutaan masyarakat
Indonesia untuk melawan rezim pemerintahan yang saat itu tengah memimpin. Selain
itu, seperti yang dijelaskan Mayang Ist
naini
Ayu, selaku narahubung acara, puisi-puisi karya Wiji Thukul adalah puisi yang
memiliki nilai-nilai sosiologi sastra karena karya-karyanya ini selalu
berhubungan dengan perjuangan rakyat.
            Eko
Tunas dan Gunawan Budi Susanto sebagai pembicara membahas tentang sisi estetis
puisi-puisi karya Wiji Thukul dan kondisi sosial yang melatarbelakangi
terciptanya puisi-puisi tersebut. Selain itu, para pembicara juga membahas
maksud dan fungsi diciptakannya puisi-puisi karya Wiji Thukul ini
, yaitu sebagai pembakar
semangat masyarakat untuk melawan rezim pemerintahan.
            Selain
sebagai peringatan Hari Puisi Nasional, diskusi dan apresiasi puisi ini juga
diadakan sebagai sarana pembelajaran bagi mahasiswa Sastra Indonesia. Mata
kuliah yang terkait dengan diskusi ini secara langsung, antara lain pengkajian
puisi, sosiologi sastra, estetika, hingga stilistika.
            Dalam
diskusi ini disuguhkan pula penampilan musikalisasi puisi, teatrikal, deklamasi
puisi, dan lain sebagainya.
Acara yang
berakhir tengah malam tersebut ditutup dengan penampilan monolog oleh Laila,
mahasiswa Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang.
(Hayamwuruk/ Qonita dan Iftaqul)


Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top