Soe Hok Gie Sang Pelampau Zaman.


Soe Hok Gie atau yang akrab disapa Gie seolah-olah
merupakan anak zaman yang melampaui zamannya. Gie
menjadi seorang independen (yang merdeka) mulai  dari remaja yang sudah berani bersikap
(kritis). Sikap tersebut tidak dimiliki kawan-kawan seangkatannya, sehingga dia tampak seolah-olah begitu dominan.

Gie dapat dilihat sebagai seorang intelektual
dari bukunya yang kritis terhadap dua penguasa Soekarno dan Soeharto.  Di era orde lama (Soekarno), Gie sudah lantang
melakukan aksi demo dan  mengkritisi
partai politik, serta di dalam kampus dia juga mengkritisi pergerakan mahasiswa
dan organisasi mahasiswa.

“Dia sekali lagi memilih berada diluar
lingkaran organ mahasiswa, meskipun kawan-kawannnya selalu membujuknya untuk terlibat
langsung, dia memilih berada di luar. Kalaupun dia ingin ambil bagian, dia
meminjam kawan-kawannya tadi ada si Herma, ketua Senat, aspirasinya lewat dia
(Herma), bahkan beberapa teks pidato (Herma) dibuatkan oleh Gie,”
 kata Heri CS ketika berbicara dalam diskusi
bertajuk “Membincang Soe Hok Gie”, y
ang diselenggarakan oleh
Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Vokal di Gedung B Aula Pusat Kegiatan Mahasiswa
(PKM) Lantai 2, Selasa (10/10/2017).
.

Setelah Soekarno berhasil ditumbangkan, Gie
merasa galau karena kemudian berganti rezim Soeharto, yang sarat dengan masalah
dan menjadikan militer  mendominasi (dalam
pemerintahan).

“Gie juga mengkritik (Soeharto) pada waktu
itu. Bahkan dia juga sempat diancam. Ini  (kesaksian) Aristides Katoppo, (mantan) pemimpin
redaksi
 Sinar Harapan
dan juga teman Gie. Dia
(Gie) sempat mau ditabrak,” ucapnya.

Di sisi lain, Gie  mengkritik (sikap) teman-teman (yang dahulu) aktivis
66  yang juga duduk di DPR Gotong Royong.
Bahkan (cara) dia mengkritiknya cukup mengelikan dengan mengirimi  perlengkapan perempuan mulai lipstik, bra dan
lain sebagainya.

“Gie waktu itu menggunakan
simbol itu untuk mengritik kawan-kawannya,“ ujar Heri.


Menurut Heri, gerakan yang dilakukan Gie
seorang diri, membuat dirinya bukanlah organisator rakyat yang tangguh,karena
rakyat dibutuhkan interaksi sistematis untuk membangun otot dan otak bersamanya.

“Saya mengenang Gie sebagai manusia politik
yang kesepian seseorang yang mengerti bahasa cinta, tapi tidak bisa mengerti
jelata yang dimilikinya, dia seolah-olah mengerti bahasa cinta, tapi tidak
pernah tersampaikan kepada masyarakat atau kepada orang orang yang ingin
dibicarakannya,” tuturnya.

Sementara itu, Widyanuari Eko Putra, Pegiat
Kelab Buku Semarang mengatakan Gie memiliki daya ramal yang sangat tajam.
Ketika pada tahun 1962, ia  sedang
berdiskusi dengan Ong Hok Ham dan temannya kakak kelas Sujatmoko, ia menduga
dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi pertentangan yang sangat besar
antara angkatan darat dengan kelompook kiri.

“Soe Hok Gie sudah meramalkan itu, dari situ
saya berpikiran ya kepekaan Gie dalam meramal (kondisi) negara ternyata sangat
jitu,” ujarnya.

Widyanuari menjelaskan Gie dalam bukunya catatan
harian seorang demonstran merupakan sosok yang labil (mudah berubah pendirian),
hal ini terlihat ketika Gie dalam tulisannya memaki-maki dan memperbolehkan
Soekarno, Soeharto, Syahrir dan Hatta ditembak di lapangan (terbang) Kalibanteng.

Cerita lain, ketika Soe Hok Gie tersinggung karena disindir oleh  Soekarno karena memakai
jas kedodoran. “Jasmu ini kedodoran.” 
Dia (Gie) bereaksi, seorang pemimpin (Soekarno) yang hanya memikirkan
isterinya, mengomentari jas (Gie) yang besar.

“(Gie) labil, menurut saya itu bukan pada tataran
intelektual lagi itu (merupakan sifat) labil. Kita bisa mendapati
keintelektualannya justru pada buku-buku (yang ditulis),” tuturnya.

Pertentangan dengan yang ideal
(dicita-citakan) dan kenyataan, membuat Gie 
pesimis. Dia marah (terhadap
keadaan), tapi tidak bisa berbuat apa-apa, karena  dia tidak memiliki basis organisasi yang kuat
dan sisi ideal, yang dia inginkan itu bener-bener jauh yang dia harapkan.

“Dia menulis kutipan Yunani bahwa yang
terbaik adalah tidak dilahirkan. Yang kedua tapi mati muda dan yang tersial
adalah dilahirkan, tidak mati muda, tapi hidup sampai tua menderita. Ini
menurut saya, capaian fatalisme, pesimisme Soe Hok Gie dalam memandang capaian
yang terjadi,” ujarnya.


(HW/
Ulil)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top