Buku: Jendela Dunia yang Usang

Buku: Jendela Dunia
yang
Usang





“Buku
sebagai hadiah, tidak pernah gagal membahagiakan orang lain,” 
begitu
bunyi quote dari Diadjeng Laraswati H yang saya temukan di beranda twitter pagi tadi. Di bawahnya ada tagar #Selamatharibukusedunia. Saya klik,
kemudian muncul di layar ucapan selamat dan penyemangat yang tidak jauh-jauh
dari kata buku dan membaca. Yang menggelikan, bukannya terdorong mengambil buku
dan membacanya, saya justru menghabiskan waktu dari tab ke tab jendela
laptop. Kalau begini naga-naganya, pepatah buku adalah jendela dunia, nampaknya
benar sudah usang.
            Jangankan mencari
sitasi, kepoin gebetan pun cukup
lewat internet, lihat akun facebook, blogger, dan platform gratis lainnya, maka
dapat dipastikan tanpa perlu membaca buku, sedikit banyak ia akan memperoleh
informasi yang diinginkan. Belum lagi tantangan yang ditimbulkan oleh
melejitnya perkembangan audio-visual yang mengakibatkan terjadinya loncatan
budaya. Goenawan Mohamad menyebutnya dari visual wayang ke visual film. Dari
kelisanan premier (primary orality), saat belum ada kemampuan
baca-tulis. Hingga kelisanan sekunder (scondary orality), ketika
kemampuan baca tulis tidak begitu dibutuhkan karena sumber informasi lebih
bersifat audio
visual (Kleden,
1999).
Pertanyaannya,
bagaimana kemudian bersikap pada buku di tengah kondisi seperti di atas? Kita
mungkin sering mendengar istilah dari berbagai keunikan para pengagum buku,
seperti kutu buku (bibliophile), pembaca yang obsesi membeli judul buku
yang sama dalam berbagai versi (bibliomaniac), atau pembaca yang hobi
membeli banyak buku hanya untuk ditumpuk tanpa niat membacanya (tsundoku).
Apakah mereka ini harapan dari kejayaan buku? Aan Mansyur berkata,
“Membeli buku dan membaca buku tidak pernah jadi dua kegiatan yang
sama.”
Agus M. Irkham pun
mewanti-wanti adanya makhluk yang dia sebut sebagai ‘Sinobi Intelektual’. Bagi makhluk ini, keberaksaraan menjadi objek
permainan tanda. Buku, sebagai penanda, dianggap mempunyai citraan yang
menguntungkan. Buku dianggap memiliki modal simbolik cerdas, tercerahkan,
bijak, berwawasan luas, dan bisa membuat lawan ngeper. Buku dan
pendidikan sama-sama dinilai sebagai entitas yang semata-mata berdimensi
ekonomi dan politik. Tidak ada sangkut pautnya dengan budaya.
Modal simbolik
ini dalam masyarakat konsume
n dipercaya mampu memberikan status tertentu pada individu yang
mengonsumsinya. Media pembentukan personalitas, citra, gaya hidup, dan status
sosial (Yasraf, 2004). Jika demikian, kekuatan kontemplasi-literasi bukannya
menumbuhkan fungsi membaca buku yang sesungguhnya, yakni partisipasi dan
empati. Yang terjadi justru sebaliknya, meminjam istilah dari Ignas Kleden
(1999) induvidualisme kebudayaan akan menguatkan egoisme dan ketidakpedulian.
Para pengkhayat
buku Rumah Kertas karya Carlos María Domínguez pasti punya cara sendiri untuk
menjelaskan situasi ini. Kita akan dibuat minder mengaku sebagai pecinta buku. Bagaimana
Rumah Kertas melukiskan euforia mencintai buku bukan lagi tentang membelinya
lalu memilikinya. Tapi memperpanjang usia buku dengan mengikhlaskannya untuk
dibaca orang lain dan terus demikian dari tangan satu ke yang lain. Bila benar
hal ini adalah upaya positif untuk nasib jendela dunia, maka saran saya tagar di atas perlu diganti #selamat(kan)haribukusedunia
supaya tidak ada lagi yang tanya, “Bukuku dikembalikan kapan?”
Faqih Sulthan,
Sastra Indonesia 2014
LPM Hayamwuruk.
Refleksi Budaya dan Intelektualitas Mahasiswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top