[OPINI] Agent of Change

Agent of Change
Oleh: Qanish Karamah




















“Agent of Change,” katanya.

Hai tulang-belulang!
Kali ini, aku akan menuliskan gumpalan keresahan yang kualami di
kampus, dimana tempat idealismeku diberangus. Hahaha, bercanda. Mana mungkin tempat pendidikan “semerakyat” dan
“sesejahtera” ini bisa melunturkan prinsipku sebagai pemuda? Tak mungkinlah.


Sudah cukup lama aku memikirkan satu hal. Sesuatu yang
mengganggu hati dan pikiranku. Entahlah, akupun perlu merefleksikan mengapa
diriku seperti tersegregasi oleh apa yang ada di dalam ruang dan waktu.


Mahasiswa…

Aku tak mengerti, siapa dia, dan apa tujuannya. Aku pun tak
paham, mengapa dia dianggap sebagai penopang dalam sebuah negara, dan menjadi
titik tolak sebuah kemunduran.


Lagi, lagi dan lagi, aku sama sekali tak mengerti, mengapa ia
disebut Si Penyambung Lidah Rakyat. Dengan gestur yang bergelagat seperti elit
birokrat.

Sungguh, aku tak paham.

Tetapi, diriku mencoba tersenyum. Berusaha lari dari rasa
bingung yang selalu berdengung di setiap waktu. Aku berusaha positif dan
menggunakan akal sehat. Mungkin, semua gelar, makna dan stigma yang dia
(Mahasiswa) peroleh, memang karena hasil jerih payahnya. Dahulu, pasti ada
suatu proses di dalamnya, yang tak kuketahui karena diriku belum lahir ke muka
bumi.


Namun, satu hal yang menjadi pertanyaan besar dalam diriku
sekarang. 
Sebuah stigma, gelar dan makna yang mereka dapatkan seperti tak
kasat
mata sekarang. Entah kacamataku yang salah, atau
mataku yang salah. Aku tak dapat melihatnya. Melihat mereka melakukan tugas yang
seharusnya.


Aku hanya melihat ambisi dari mereka. Sebuah ambisi menguasai
dunia. Dalam hal ini, seperti tulisanku sebelumnya. “Mereka telah mati sebagai
manusia”.


Saat kutanya padanya, tentang korban penggusuran karena
pembangunan yang tak berkemanusiaan, apa jawabnya?


“Halah! Untuk apa aku memperdulikannya, toh pemerintah sudah
ganti rugi,” sahutnya.
Sontak, diriku terdiam. Membisu. Mendadak aku sesak napas.
Terombang-ambing, seperti sudah mau mati saja aku saat itu.


Asumsiku di atas, ternyata terbukti pada sebuah kejadian (pengalaman). Yang
tadinya aku kebingungan, mencari tahu siapa mereka. Apa tujuannya. Mulai
sekarang, aku paham.


Asumsi pertamaku, tentang rasa bingungku terjawab sudah. Hingga
akhirnya muncul, sebuah asumsi baru. Yang harus kutemui kebenarannya. Agar aku
legal secara moral, dan etis secara tindakan. Tak bisa diriku ataupun dirimu
hanya berasumsi dan menginterpretasikannya dalam bungkus sebuah “data empiris”.
Hingga orang-orang menjadi korban atas kesesatan berpikirku yang hanya mengandalkan
asumsi.


Betapa bodohnya diriku dan kamu jika seperti  itu.

Sebuah nilai, gelar dan makna yang telah mereka peroleh sedari
dahulu, telah sirna termakan oleh Kang Juju.


Eh, siapa Kang Juju?

Mereka sudah tak pantas lagi menerimanya. Untuk apa masih mempertahankannya?
Percuma.


Aku pun tak sepenuhnya menyalahkan mereka. Mungkin, mereka
mempunyai alasan sendiri yang mendasari apa yang kita sebut “hak” mereka
sebagai manusia. Diriku, dirinya dan mereka, mempunyai konstruksi hidup yang
berbeda.


Berkaitan soal konstruksi hidup tiap individu, aku ingin coba
menganalisisnya lewat sebuah teori. Aku sependapat dengan Antonio Gramsci. Ia berkata kalau pada masa ini tela
terjadi yang namanya pertentangan antara kaum intelektual tradisional dan
intelektual organis. 



Yang dimana, intelektual tradisional disini berperan
sebagai pemegang kekuasaan, yang berusaha mempertahankan hegemoninya lewat
tindakan pereduksian terhadap lawannya, baik dari segi sosial-budaya maupun
tindakan yang berbau fisik.


Adapun intelektual organis, yang dimana, mereka adalah kumpulan
orang-orang yang sadar akan pereduksian yang dirasakan dan dilihatnya secara
kasat mata. Dan mereka berusaha merebut h
egemoni, lewat
pengorganisasian kumpulannya.


Nah, dari sini aku mengambil kesimpulan. Bahwa mereka-mereka
ini, yang aku sebut sebagai “dia yang telah kehilangan kodratnya”, telah
tereduksi oleh sang penguasa.


Dengan tereduksinya mereka, akupun hanya bisa berhusnudzon atas mereka yang telah kehilangan maknanya. Namun, mungkin
tulisanku ini, aku harapkan dapat menjadi autokritik bagi mereka. Mereka harus
menyadari, bahwa pikiran dan hati mereka telah dikebiri.


Mungkin, tulisanku memang tak sebagus Toer bersaudara. Tulisanku
hanya sebatas keresahan dan pengalaman yang kugabungkan menjadi secercah
tulisan tak bersubstansial. Aku hanya berharap, kalian dan aku yang mengaku
sebagai manusia, untuk lebih kritis lagi dalam melihat suatu fenomena. Tak
mudah di brain wash oleh
media sang penguasa.


Aku sangat ingin kalian menyadari apa itu manusia. Manusia yang
mencintai sesamanya. Manusia yang mampu menjadi mitra kritis si penguasa.
Manusia yang dapat memanusiakan manusia lainnya.


Akhir kata, sebagai seorang theis, aku hanya hidup seperti apa
yang dicontohkan oleh Tuhanku. Aku hanya berusaha menimbun kebaikan relatif
untuk kelak kurasakan manfaatnya di dunia selanjutnya.


Bangkitlah kalian, para manusia! Terutama kalian yang mendapat
gelar sebagai tonggak sebuah negara! Sekumpulan orang yang mampu meruntuhkan
sang penguasa anti-manusia!
Kamis, 22 Maret 2018
Pagi ceriwis, di Semarang


LPM Hayamwuruk
Refleksi Budaya dan Intelektualitas Mahasiswa

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top