Magang Teater Emka Unjuk Kebolehan dalam Pementasan Labnas

Dok. Hayamwuruk
Teater Emper Kampus atau yang biasa dikenal dengan Teater Emka sukses menggelar Pementasan Laboratorium Naskah (Labnas), Jumat (18/05). Pementasan berlangsung pukul 20.45-22.37 WIB. Pementasan Labnas yang digelar setahun sekali ini adalah ajang berproses bagi para anggota baru Teater Emka untuk memperkenalkan pementasan teater. Labnas tahun ini mementaskan naskah berjudul “Kobong” karya Ciptanty bersama kawan-kawannya di Teater Emka. Pementasan ini disutradarai oleh Ponco Adi Nugroho dengan pimpinan produksi Mohammad Faiz Azhari serta para aktor, antara lain: Rian (Pak Untung), Viany (Ambarwati), Gustya (Fisca), Sultan (Pak Sidi), Ciptanty (Bu Sidi), Anggi (Dini), Syani (Bang Midin), Lia (Kombor), dan Feke (Marini).

“Tujuannya kita, pertama ingin memperkenalkan ke anak-anak baru, ya inilah proses teater. Terus kita juga mencari penulis-penulis naskah lah untuk Teater Emka sendiri, karena ketika proses Labnas, awalnya semua anak magang itu mengumpulkan naskah, semuanya menulis, terus mengumpulkan, dan kita seleksi. Mana yang paling bagus akan kita pentaskan,” tutur Ponco.

Rian Destianto sebagai aktor pemeran Pak Untung mengungkapkan bahwa naskah Kobong ini menceritakan tentang kehidupan orang-orang pasar yang dilihat dari realita kehidupan saat ini, dimana banyaknya kecurangan yang terjadi seperti suap-menyuap dan mencuri.

“Oh iya, ini tuh sebenernya masalah pasar kebakaran. Bukan kebakaran secara eksplisit gitu, tapi dampaknya bagi orang-orang kecil kayak gimana. Terus yang lebih disorotin disini itu tentang kecurangan-kecurangan yang ada di pasar. Ternyata kehidupan pasar sama juga gitu sama kehidupan biasa, ada kecurangan-kecurangan seperti mencuri kocokan kapling pasar para pedagang. Jadi, nyuri kocokan yang bisa dapet kapling strategis. Terus suap-menyuap di pasar, pencurian, terus mengenai orang-orang pedagang pasar sendiri malah memperjualbelikan kios, padahal itu nggak boleh, itu punya pemerintah, nggak boleh diperjualbelikan,” ungkapnya.

Pementasan Labnas ini membutuhkan waktu kurang lebih tiga bulan untuk menyiapkan aktor beserta tim dan proses latihannya. Ponco mengatakan masih ada kendala utama pada pra pementasan, seperti keterbatasan waktu latihan di kampus dan observasi untuk mengkritisi  isu yang akan diangkat pada pementasan naskah Kobong ini.

“Hambatannya sendiri ya masalah klasik di kampus sih mungkin. Kita yang nggak bisa latihan di gedung sampai lebih dari jam 9 (pukul 21.00 WIB, red), padahal untuk latihan teater sendiri membutuhkan waktu paling nggak sampe lebih dari jam 9 lah, tapi disini nggak bisa.” Ujarnya.

Salah satu pengunjung, Hana Sasmita, menuturkan bahwa pementasan ini sangat menarik. Akan tetapi jika melihat dari sudut pandang pemilihan tema dan rema, yang lebih menonjol justru remanya. Menurut Hana, isu yang ditampilkan kurang kuat. Namun, tetap saja pentas ini bisa dikatakan berhasil menghibur penonton yang hadir.
Reporter : Marvi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top