Kongres Mahasiswa Istimewa FIB: Desakan dan Harapan yang Semu

Suasana Kongres Mahasiswa Istimewa FIB (dok. Hayamwuruk)

Senat Mahasiswa
(SM) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) menggelar Kongres Mahasiswa Istimewa (KMI) untuk
membahas keberlanjutan atas menangnya kotak kosong pada Pemilihan Umum Raya
(Pemira) 
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan membahas minimnya pendaftar
Senator independen.
KMI diadakan pada
Rabu (05/12/2018) dimulai pukul 16.00 WIB di Gedung Laboratorium Terpadu FIB yang
dihadiri oleh berbagai ketua Ormawa FIB dengan Kuota Forum  yang memenuhi untuk keberlangsungan kongres. KMI
sendiri berbeda dengan Kongres Mahasiswa (KM) yang biasanya dilakukan.
Perbedaan terletak pada isi pembahasan dan alasan mengadakannya. Hal tersebut
diterangkan Fadhel Jauzi Adam Ketua Senat Mahasiswa FIB 2018, mengenai penjabaran
secara garis besar  keduanya “Kongres Mahasiswa
(KM) membahas Pedoman Pokok Organisasi (PPO), Garis Besar Haluan Kerja (GBHK)
dan Peraturan Mahasiswa (Perma) Mahkamah Mahasiswa Fakultas (MMF) sedangkan KMI
sendiri diadakan, karena ada hal-hal yang dianggap penting dan mendesak oleh Ormawa
atas suatu keadaan yang memang harus segera diambil keputusan. Kalau untuk
kongres hari ini kan (red; KMI), diadakan karena hasil pemilihan raya FIB. Di
sana kita tidak menemukan calon ketua BEM yang terpilih karena pasangan
calonnya kalah dengan kotak kosong. Juga senator independennya yang tidak
memenuhi kuota, yaitu empat orang dari pendaftar hanya dua orang Senator
Independen,” ujarnya.


Selain itu, Fadhel
juga menambahkan  tentang alasan
diadakannya KMI yang sesuai dengan amanat dalam Pedoman Pokok Organisasi (PPO),
Peraturan SM FIB nomor 6 tahun 2017. Tepatnya, pada pasal 5 tentang keanggotaan
dan kepengurusan juga pada pasal 61 tentang fungsi KMI FIB.
Helmi Fergian,
Ketua BEM FIB 2018, memiliki pandangan tersendiri mengenai seberapa pentingnya
KMI saat ini demi keberlangsungan BEM FIB kedepannya “Bagi BEM FIB sendiri,
tentunya ini sangat penting. Artinya, KMI ini menentukan bagaimana arah BEM FIB
setahun kedepan. Bagaimanapun perlu ada regenerasi,” ujarnya.


Perhelatan yang
terjadi cukup panjang dan rumit. Pro-kontra dalam perumusan tata tertib dan
pembahasan mengenai persyaratan calon ketua dan wakil BEM FIB mendapatkan atensi
yang begitu pekat. Pembahasan mengenai persyaratan wajib mengikuti Latihan Keterampilan
Manajemen Mahasiswa tingkat Dasar (LKMM-D) untuk calon BEM dengan dibuktikan
adanya sertifikat mendapatkan sorotan tersendiri dari peserta KMI, pasalnya
persyaratan tersebut  merupakan
salah-satu faktor yang menyebabkan terjadinya aklamasi karena keterbatasan
ruang akibat sertifikat.


Helmi,
menyampaikan harapannya pada suasana pro dan kontra tentang persyaratan bagi
calon ketua dan wakil BEM FIB dengan melihat kondisi yang terjadi saat ini. “Dalam
konteks saat ini (red: KMI) teman-teman yang ikut Dasar dan Madya ini ada orangnya atau tidak? Kalau tidak
ada, ya ini kondisi spesial. Ya, mau tidak mau ini spesial. Teman-teman
pra-dasar tetap punya kesempatan untuk menjadi calon ketua dan wakil ketua
FIB,”ujarnya.
Ia juga
mengharapkan KMI ini menghasilkan pemimpin yang benar-benar berniat untuk
mengabdikan dirinya kepada mahasiswa FIB,”ujarnya.


KMI pada hari
pertama meninggalkan jejak pembahasan mengenai persyaratan BEM, yaitu pernah  mengikuti LKMM-D  Atau LKMM-PD dengan dibuktikan sertifikat.  Dikarena keterbatasan jam malam pukul 21.00
WIB  pada kampus dan menyebabkan dilakukannya
pending hingga esok hari.
Kamis
(06/12/2018), KMI dimulai pada pukul 16.00 WIB di tempat dan pembahasan yang
sama seperti KMI sebelumnya, perhelatan mulai berlanjut pada pro dan kontra
mengenai syarat wajib mengikuti LKMM-D untuk menjadi calon ketua dan wakil BEM
FIB.


Perdebatan panjang
hingga larut  malam  akhirnya diperoleh keputusan presidium yaitu
menetapkan persyaratan bagi calon ketua dan wakil ketua BEM 2019 mendatang  menjadi  LKMM-PD dibuktikan dengan adanya sertifikat .



Laeli Chumaeroh, Mahasiswa Antropologi Sosial
mengutarakan bahwa, “Meskipun ada pertentangan antara minimal LKMM-D maupun
LKMM-PD, saya rasa seluruh pihak sudah mengusahakan yang terbaik dari
menanyakan pertanggungjawaban mahasiswa FIB yang mengikuti LKMM-TM serta
LKMM-D, dan keputusan terakhir menurunkan persyaratan menjadi LKMM-PD. Siapapun
nantinya yang terpilih menjadi Ketua BEM FIB UNDIP, semoga bisa merangkul
seluruh kalangan, serta mahasiswa FIB UNDIP bisa mendukung penuh dalam
menjalankan amanahnya,” ujarnya.
Keputusan mengubah
syarat LKMM-D menjadi LKMM-PD membuat forum menyepakati untuk diadakan kembali
KMI pada hari Minggu (09/12/2018). Dengan harapan, rentang waktu dan publikasi
mengenai syarat penurunan ini dapat menjadi pertimbangan bagi mahasiswa yang
hanya mengikuti LKMM-PD, dapat mendaftarkan dirinya di KMI berikutnya. Malam
itu, KMI kembali diakhiri dengan bunyi dua kali ketukan palu oleh presidium
satu, sebagai penanda ditundanya pembahasan.


Minggu
(09/12/2018), KMI ketiga dimulai pada pukul 16.00 WIB di Kedai Agan, Jalan
Banjarsari guna melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai ketua dan wakil ketua
BEM FIB periode 2019/2020.


Niat awalnya,  jangka waktu pending  akan dipergunakan untuk publikasi perubahan syarat
wajib BEM yang mulanya LKMM-D menjadi LKMM-PD tidak cukup mengambil atensi
mahasiswa FIB untuk mendaftarkan diri sebagai calon ketua dan wakil  ketua BEM FIB 2019. Pasalnya SM FIB yang tidak
mempublikasikan apa yang disepakati pada KMI sebelumnya mendapat perhatian pada
forum.
Hingga pada waktu
yang ditentukan KMI hari ketiga, hanya ada satu calon ketua saja yang
mencalonkan diri pada berlangsungnya forum. Ilham Amrullah, Sastra Indonesia 2016
yang mempunyai niat untuk mencalonkan diri sebagai ketua BEM periode
selanjutnya. Walaupun, kebanyakan peserta forum mempermasalahkan keadaan Ilham
yang tidak memiliki wakil dan  memutar
kembali permasalahan saat ini begitu kompleks. Hal ini ditekankan oleh Raka
ketua Teater Emper Kampus (Emka) 2018, untuk tidak terburu-buru mengambil
keputusan, karena melihat kesalahan teknis yang terjadi pada ranah publikasi
dan tidak adanya wakil.


Tidak hanya Raka,
Mahesa Althof, sebagai anggota MMF, juga berpendapat demikian. Untuk tidak
terburu-buru karena permasalahan ini bukan sekedar melunturkan kewajiban pada
salah-satu orang.
Diskusi tersebut
menghasilkan kesepakatan untuk menunda kembali pemilihan ketua dan wakil BEM
FIB 2019, pada semester depan. Dengan menitikberatkan untuk diadakannya forum
seluruh Ormawa yang membahas keberlanjutan BEM FIB selanjutnya. Hal tersebut
dilakukan atas pertimbangan yang matang dalam perdebatan, hingga mencapai
sebuah kesepakatan untuk menunda kembali.
Kehadiran
perwakilan Ormawa saat KMI hari ketiga terlihat berkurang, tidak seperti hari-hari
sebelumnya. Dari 19 Ormawa, yang datang hanya 11 Ormawa.


Raka, ketua Teater Emka 2018, menyayangkan
ketidak hadiran perwakilan Ormawa. “Saya mengkritisi masalah Ormawa dan
mahasiswa lainya. Dimana ketika sudah disepakati adanya agenda KMI ini, tetapi
untuk antusiasmenya sendiri kurang. Sebenarnya, sebarapa pentingnya KMI ini
dilaksanakan? Kalau maksudnya Istimewa, berarti sangat penting untuk
keberlangsungan FIB, yang saya lihat di sini, masih kurangnya antusias Ormawa
dan mahasiswa umum FIB,” ujarnya.


Helmi, berpendapat
bahwasanya pembahasan ketua dan wakil BEM FIB 2019 harus ditunda. Melihat keadaan
mengenai sedikitnya kehadiran tiap Ormawa, dan minimnya calon yang mendaftarkan
diri dan etika kesepakatan dalam forum
menjadi alasan kenapa penundaan harus dilakukan.
“Karena kita
berlandaskan apa yang ada di dalam forum yang dihadiri perwakilan Ormawa yang
ada di FIB.  Kemudian menjadi
representasi dari konstituennya maupun anggotanya. Karena memang tadi, sosok
yang kemudian muncul cuma satu. Dan kemudian dianggap, terlalu terburu-buru lah
kalau menjatuhkan kepada si satu orang ini. Ormawa yang datang juga tidak
lengkap,”ujarnya.


Berbeda dengan
Helmi. Fadhel ketua Senat FIB 2018  tidak
berharap hasil KMI berujung penundaan. Alasan mengenai koordinasi dengan
birokrasi menjadi hal pokok untuk tidak menunda proses pemilihan tanpa
menafikkan kesepakatan dalam forum.
“Saya lebih
menghendaki agar kita bisa menentukan ketua BEM pada kongres mahasiswa ini.
Jadi tidak perlu sampai semester depan. Pertimbangan saya bagaimana nanti BEM
FIB berkoordinasi dengan birokrasi, keungan, karena terkait dengan anggran dana
dari fakultas juga. Sehingga, ditakutkan, ketika memang BEM ini belum
terbentuk, artinya dananya masih belum bisa diambil. Cuma, saya menghargai apa
yang dihasilkan disini. Yaitu, kita harus membentuk forum kembali di tahun
depan untuk membahas ketua BEM 2019,”ujarnya.


Di akhir, Raka
mengharapkan “Siapapun yang terpilih nantinya semoga mendapat ketua BEM yang
benar-benar mengerti permasalahan FIB yang sebenarnya,” ujarnya.
(Qanis, Wulan, Habib)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top