Angin Berembus dari Selatan

(Cerpen oleh Resza Mustafa)

Masa jelang panen tiba. Angin sepoi berembus terbangkan butiran debu sisa tambang yang dibawa dari atas gunung. Setelah mengembara jauh bermil-mil, selepas menerpa segala apa yang menghadang, menerbangkan semua yang bisa diterbangkan. Telah sampai, kini; embusan mesra angin dari selatan menerpa hamparan padi di sawah. Ya, hamparan padi menguning yang ujungnya telah melengkung ke bawah, rendah. Padi-padi berbuai, bergoyang tampak elok.
Siang hari begitu panas. Sinar terik matahari, menyengat kulit legam Mulat yang tengah duduk di pinggir sawah. Letih benar, terlihat tetes keringat tak habis-habis di kening, sekujur badan berbasah peluh, dan kedua tangan serta kaki kotor berlumpur. Dia bertelanjang dada dengan kaus diselempangkan ke bahu, cangkul diletakkan di samping. Mengatur napas sekaligus nikmati suasana syahdu. Sekian waktu berselang, Mulat berdiri, lantas berjalan menyusuri jalan setapak, garis batas antara sawah yang dia miliki dengan sawah tetangga menuju ke gubuk peristirahatan. Sampai di gubuk, Mulat kembali duduk sambil memainkan tali temali yang digantungi kaleng-kaleng dan sidi bekas sebagai pengusir burung pipit, gelatik, emprit, gereja, atau manyar sering datang tanpa diundang. Tali temali itu terikat pula ke orang-orangan sawah yang menghasilkan suara gaduh, juga dapat menggerakkan orang-orangan sawah. Mulat melamun, mendongakkan pandangan ke atas. Melihat bukit karst terbentang panjang di seberang persawahan. Sedetikpun, mata Mulat tak berkedip. Seolah memandang sesuatu yang benar-benar mengalihkan dari dunia sekitar. Tatapan itu, semakin tajam terfokus pada satu titik. Ternyata satu titik itu adalah sebuah gua. Gua berharga telah lenyap, tertutup reruntuhan batu kapur bekas aktivitas tambang.
Bibit unggul, akan menghasilkan panenan gabah yang baik. Rumus itu berlaku di dunia pertanian. Kualitas hasil panen, sekalipun jumlah pemupukan dan cara mengolah lahan sama persis, akan beda hasil bila kualitas bibit berbeda. Sebuah rumus yang sekian lama telah menghantui pikiran Mulat. Beberapa musim terakhir, hasil panen tidak sebaik saat bapaknya masih sehat. Ditambah kualitas pengairan kurang laik guna akibat terganggu aktivitas pertambangan batu kapur, jelas situasi tersebut semakin membuat posisi Mulat tersudut. Gua-gua karst, yang dahulu dialiri lorong sungai bawah tanah sebagai alat penampung air, sumber air dan alternatif irigrasi ketika musim kemarau tiba, perlahan-lahan mulai rusak satu per satu. Hilang, runtuh tiada sisa digerus ganasnya aktivitas pertambangan. Baik pertambangan dari pihak industri, maupun pertambangan liar warga sekitar.
Mulat menanggapi serius pesan bapaknya untuk sesegera mungkin bergegas. Pergi berkeliling ke sawah-sawah sekitar desa, ke sawah-sawah di luar desa, ke luar kecamatan, atau bahkan ke luar kabupaten untuk mencari informasi dan andaikata nasib lebih mujur, berhasil menemukan bibit padi unggul yang baru.
Di tengah lamunan, Mulat tiba-tiba saja mengingat masa kecil. Masa di mana burung merak dan trenggiling menjadi sahabat sepermainan dan binatang peliharaan menggemaskan. Dimiliki, dirawat, disayang-sayang, dan mudah ditemukan di hutan bukit karst. Sekarang, jangankan menemukan seekor, untuk melihat bayangan dari kedua jenis hewan endemik desa tercinta itu saja nihil. Capung ikut-ikutan jarang kelihatan alias nyaris punah. Miris memang! Ngeri benar!
Dulu sekali, seusia kelas tiga sekolah dasar, Mulat pernah punya sepasang burung merak, dinamai Karno dan Sarinah. Sepasang burung merak dengan ekor yang kalau-kalau disibakkan, bakal membuat mata siapapun terbelalak kagum. Perpaduan rona warna bulu-bulu begitu cantik ideal, demikian silau saat bias sinar matahari mengenai bagian warna keperak-perakan. Entah itu warna ungu, merah, kuning, hijau, biru, apapun; seluruh warna bulu dari kedua burung merak itu sedap dilihat. Karno dan Sarinah ditemukan Mulat bersama bapaknya di sekitaran Gua Gini. Gua karst yang secara geografis masih terletak di desa Mlawat. Konon, Gua Gini adalah gua purba yang dihuni dan dijaga oleh seekor naga betina raksasa peliharaan Prabu Angling Dharma bernama Naga Gini. Banyak kepercayaan meyakini Naga Gini hidup abadi. Banyak kisah pula, bila ada orang melewati gua tersebut tanpa permisi, bersikap tidak sopan, sepulangnya ke rumah bakal jadi manusia berkepribadian hewan. Tidak lagi doyan makan nasi, malah lahap ngganyam dedaunan.
Karno dan Sarinah disayangi betul oleh Mulat. Ikatan kasih sayang itu terjalin dengan sangat kuat. Ke manapun dan di manapun Mulat pergi bermain, selalu diikuti dan ditemani sepasang merak yang jinak. Sampai pada suatu ketika Mulat harus menerima kenyataan pahit. Kejadian nahas itu terjadi setelah bapak dari Mulat tahu butiran padi bibit unggul yang begitu dihormati, dipilih, dikumpulkan, serta dijaganya secara susah payah, dipatuk sepasang merak tersebut hingga tandas. Tentu saja ini membuat bapaknya geram, emosi kelewat batas.
Butir-butir padi pilihan yang didapat dari empat untai batang terbaik, disimpan dalam selonjor bambu kecil. Selonjor bambu kecil tersebut jatuh dari tempat gantungan yang terletak di pojok usuk atap teras rumah akibat dihempas angin lewat. Membuat butiran padi berhamburan ke tanah karena kain penyumpal lubang bambu copot. Karno dan Sarinah yang lapar, kebetulan keluar dari kadang dan sedang berada di dekat tempat butir-butir padi tercecer. Melihat ada sesuatu yang bisa dimakan, segera, sepasang merak kesayangan Mulat mendekat dan dengan beberapa patukan, habislah butiran padi berharga.
Merasa silap, sepulang dari sawah saat tahu kejadian itu belum berlangsung lama, tanpa memperdulikan lagi perasaan Mulat bapaknya langsung mengambil sebilah pisau tajam dan membuka pintu kadang merak. Menangkap sepasang merak itu dan berniat menggoroknya dengan muka memerah api, mata melotot. “Jangan bunuh, Pak! Jangan bunuh mereka!” teriak Mulat histeris, sadar soal apa yang akan dilakukan bapaknya. Sia-sia teriakan Mulat, dianggap angin lalu. Tiada ampun bapaknya sebat menggorok tembolok Sarinah terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan tembolok Karno. Dua-duanya, sepasang merak cantik itu, tuntas disembelih. Berparas menawan memang tak selamanya bisa menjamin hidup nyaman. Mulat dirundung pilu, bersedih disertai raungan keras, tangis pecah tak tertahan, dia berguling-guling di tanah.
Akibat tangisan Mulat, ibunya keluar dari dapur. Sesaat Ibunya datang. Segera mendekati Mulat karena tahu kelakuan suaminya menggorok sepasang merak kesayangan Mulat, putra semata wayang mereka berdua. “Gila kamu! Tidakkah kamu berpikir waras saja barang sedikit. Lihat sepasang merak itu. Itu sumber kebahagiaan bagi anakmu, dan kau tega menyembelihnya. Apa maksudmu?” Sang Ibu merasa sedih namun bapaknya justru gembira bukan kepalang. Senyum mengembang lebar karena menemukan kembali butir-butir bibit padi unggulnya. Sesaat setelah tahu bapaknya melakukan hal gila disebabkan butiran padi yang dianggap berharga, ibunya terdiam. Paham dengan situasi dan kondisi yang terjadi, tapi itu tidak berlaku bagi Mulat. Sambil tersedu-sedu di tengah isak tangis, dia mencoba bertanya sekaligus menuntut kepada bapaknya, “Buat apa butiran padi itu, Pak? Kembalikan mereka! Hidupkan lagi! Kumohon.”
Melihat kondisi sedih Mulat, bapaknya tersadar, lantas mendekati dan memberikan seutas senyum. “Nak, tunggu sebentar, ya. Biar kucuci dulu butiran ini sampai bersih, nanti Bapak ceritakan padamu. Ayo! Anak lelaki tidak boleh cengeng.”
Mulat hanya terduduk dan terus menangis, meratapi sepasang merak kesayangan yang tergeletak di tanah tanpa nyawa. Tak lama berselang, bapaknya pun kembali. Duduk menyebelahi dan merangkul pundak Mulat. “Jangan menangis, Mulat. Anak jagoku.” Bapaknya memulai cerita sambil menengok muka Mulat yang tertunduk, bersembunyi; bapaknya memastikan apakah tangis Mulat sudah terhenti.  “Le. Sungguh, tidak sedikitpun Bapak berniat membuatmu sedih. Bertahun-tahun pada setiap waktu luang, Bapak selalu korbankan untuk berjalan menyusuri persawahan hingga ke pelosok kabupaten. Bapak menekan rasa lelah dan keluar dari batas kemampuan. Mencari butiran-butiran ini. Butiran terbaik, bibit unggul yang pernah ada demi memperbaiki kualitas beras hasil panenan sawah kita. Bisa memperbaiki pula harga diri kita di antara petani lain, kita bakal lebih dipandang dengan apa yang telah kita perbuat dan hasilkan. Ketahuliah, ya, Bapak melewatkan waktu berharga bersamamu selama satu setengah tahun terakhir, Bapak jarang terlihat di rumah, semua untuk hal ini. Demi keluarga kecil kita.”
Sesaat Mulat menghentikan tangis. Mendongak, lalu memancangkan mata pada bapaknya. Tatapan polos Mulat, dengan pupil mata yang melebar membuat bapaknya semakin bersemangat meneruskan cerita. “Bapak ini sejak kecil tidak punya apa-apa, tidak berpunya, Le. Kakekmu petani miskin. Kebahagiaan hanya bisa Bapak rasakan, kalau Bapak bisa membantu orang lain tanpa harus memberi materi harta benda. Bapak selalu berusaha sekuat tenaga. Setelah sekian lama, akhirnya usaha Bapak menghasilkan jalan. Bapak menemukan butiran-butiran berharga ini dari seorang kawan jauh yang tinggal di kabupaten sebelah. Dan dengan butiran yang Bapak namakan Padi Kuning inilah, Bapak gantungkan harapan. Kau mau lihat? Lihatlah, dan coba kau sentuh, Le. Ini masa depan kita.” Pipi mulat dipegang lembut oleh bapaknya. Dengan sapuan jempol, bapaknya mengusap linangan air mata. Pada titik ini, butiran-butiran bening mengalir dari mata bapaknya dan hati Mulat kecil mengembang penuh simpati. Mulat pun tidak lagi menginginkan bapaknya mengganti sepasang merak kesayangan.
***

Mulat kemudian tersadar dari lamunan sepanjang siang. Hari akan segera sore, sinar matahari tak lagi panas menyengat dan seterik sebelumnya. Mulat beranjak dari tempat duduk. Dia teringat belum melaksanakan kewajiban salat zuhur, padahal waktu menjelang asar. Mulat pergi meninggalkan sawah menuju ke sebuah surau tua di pinggir sungai kecil, dekat sawah. Tidak ada yang mengikutinya selain embusan angin dari selatan. Semilir menerpa punggung pemuda desa bertubuh kekar tersebut, mengeringkan peluh keringat pada tiap-tiap jengkal langkah gontai.
Sampai di surau, terlihat di halaman depan berserakan sobekan kertas-kertas bekas kantong semen dan spanduk penuh oret-oretan kalimat provokatif, dan alat-alat demonstrasi yang sering dipakai JMPGD ketika beraksi demo menolak pendirian pabrik semen. JMPGD, Jaringan Masyarakat Peduli Gunung Desa menjadi wadah yang memfasilitasi gerakan demo. Sudah dua tahun lebih, sebagian warga di desa Mulat yang tergabung dalam JMPGD, getol sekali melakukan aksi demonstrasi tanpa terkecuali, bapaknya.
Bapak Mulat, sakit akibat diabetes militus kambuh; kaki kanannya tanpa sengaja menginjak paku di jalan ketika melakukan aksi long march. Injakan tersebut, memunculkan borok yang besar di kaki hingga membuat bapaknya susah berjalan. Niat baik memang belum tentu berakhir bagus. Rasa-rasanya itu yang dialami keluarga Mulat. Cobaan hidup silih berganti terus berdatangan.
Beberapa kali Mulat berpikir ingin bergabung dan belajar di JMPGD seperti kawan-kawan dan tetangga-tetangga, terlihat sangar karena dengan lantang menyerukan suara di jalan-jalan seperti aktivis dan cerdik cendekia. Tapi apa daya, bagi Mulat, pengalaman dari melihat kondisi bapaknya dan selama dua tahun aksi tidak membuahkan hasil, sudahlah menjadi waktu yang cukup menyindir. Burtiran Padi Kuning yang tidak sehebat dulu, membuat mulut terbungkam.
Mulat mengusap basah wajah sehabis wudu, air terciprat dan menetes dari kedua telapak tangan. Sambil menunduk mulutnya ndremimil melafal doa lantas berjalan masuk ke surau, salat. Embus angin dari selatan masih menyertai, semilir menerbangkan sobekan kertas-kertas bekas kantong semen di teras halaman depan surau, tidak terlalu tinggi. Embus angin dari selatan seperti akan terus bersetia menemani Mulat, menemani segala mimpi dan cita-cita mulia untuk suatu ketika ikut rombongan JMPGD memasung kaki di halaman depan Istana negara. Namun, jangankan sampai ke Istana negara, di surau tua itu saja kedua kaki sudah terpasung oleh hidup yang selalu dipenuhi dengan nasib buruk dan pesimisme. Mulat sadar betul, memandang hidup di dunia haruslah selalu sisnis, dan hidup haruslah disertai prinsip realistis karena sampai kapanpun; di negara ini, menjadi petani miskin adalah suatu keniscayaan.
*Untuk Yu Patmi. Terinspirasi oleh cerita pendek, “Dua Untai Padi” karya Hsu Tao-seng dan Chen Wen-tsai.
*Ucapan terimakasih; kepada kawanku Nugroho Mulat Jati yang telah bersedia menyumbangkan nama tengah dan berkisah soal Kendeng, dan kawan-kawan di kelas menulis cerpen Kedai Kang Putu atas semua masukan dan komentarnya. Aku belajar, berhutang banyak dari kalian.
Lereng Muria, 28 Oktober 2018 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top