Memperingati Hari Perempuan Internasional, Belajar dari Ibu-Ibu Kendeng

Dok. Hayamwuruk
Memperingati
Hari Perempuan
Internasional,
Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Semarang (Unnes)  menggelar sebuah diskusi bertajuk
“Ekofeminisme: Perempuan dalam Jeratan Eksploitasi Ruang Hidup”, bertempat di
pelataran gedung PKMU Unnes,  Gunungpati,
Semarang. Acara yang dilaksanakan pada Kamis (7/3) itu 
berlangsung selama empat jam.

Menurut  Irnawati, salah satu narasumber dari Lembaga
Bantuan Hukum
(LBH)  Semarang, persoalan penindasan ruang hidup
masih banyak sekali kita alami dan perlunya
melibatkan peran perempuan pada saat ini.
Mungkin kita bisa belajar  dari ibu-ibu Kendeng.  “Perjuangan yang dari dulu sampai sekarang,
untuk melindungi tanah air mereka tidak bisa digadaikan oleh apapun yang
dilakukan perempuan Kendeng, sekalipun  oleh
pabrik semen. Mereka percaya, masyarakat adat yang hidup sejahtera sebagai
petani,  mereka merasa berkecukupan tidak
membutuhkan pabrik, yang selama ini masih berjalan. Kekonsistennya kita perlu
tiru,” katanya.

Persoalan
mengenai kerusakan lingkungan hidup, kata Irna, perempuan lah yang pertama
merasakan. Mengapa demikian? Irna beranggapan, perempuan yang selama ini  banyak aktivitas domestik di rumah pasti
akrab dengan lingkungannya, apalagi dari mulai siklus bulanan perempuan yang
sangat perlu membutuhkan air. Dan apabila perempuan  tidak mengetahui persoalan lingkungan hidup,
itu akan berdampak buruk lagi. Misalnya, perempuan Kendeng apabila tidak
mengetahui airnya tercemar dan kemudian dikonsumsi oleh keluarga, maka
dampaknya tidak hanya perempuan tetapi keseluruhan, termasuk mata pencahariannya. 

Irna berharap para perempuan terus berjuang dalam  mencari keadilan di saat budaya patriarki
masih mendarah daging. Perempuan perlu terus bergerak dan belajar serta membuka
ruang-ruang publik,  di mana sebenarnya
pengetahuan  tidak hanya diberikan oleh
laki-laki saja, tetapi mereka juga memiliki peran yang sama dalam
memperjuangkan hak kita  dan lingkungan
kita.

Selaras
dengan Irnawati, Umi Ma’rufah, narasumber dari Wahana Lingkungan Hidup (Walhi)
Jawa Tengah, berpendapat  bahwa  sudah saatnya persoalan lingkungan hidup dan
persoalan ketidakadilan yang dialami, perempuan harus berani menyuarakan.
“Untuk perempuan, sudah saatnya kita tidak hanya melulu mengurusi diri kita
sendiri, saatnya perlu membaca banyak hal dan ikut terlibat dalam isu
perjuangan. Perempuan memang sejatinya berjuang dalam
segala aspek untuk
keadilan lingkungan hidup maupun dalam hak-hak asasi manusia yang lain,”
tuturnya.

Penulis: Habib
Editor: Arifah

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top