Aksi Solidaritas Untuk Tuntut Penuntasan Kasus Pelecehan Seksual FIB



Puluhan massa yang terhimpun
dalam Aliansi Barisan Kesetaraan (ABK) menggelar aksi solidaritas pada Kamis
(4/4/2019), di Bunderan Undip, Tembalang, untuk menuntut penuntasan kasus pelecehan
seksual yang sedang terjadi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip.
    
ABK sendiri terdiri dari beberapa
organisasi seperti: BEM FH Undip, BEM FIB Undip, LRC-KJHAM, LBH Semarang, LBH
Apik, Gender and Human Rights Center (GHRC), Aliansi Mahasiswa Papua, Rumah
Pelangi Indonesia dan Suara Mahasiswa Budaya (SMB).
Tian, perwakilan ABK sekaligus
koordinator aksi mengatakan, tujuan digelarnya aksi ialah untuk merespon Undip
atas tindak lanjut kasus pelecehan seksual yang tengah terjadi di FIB Undip. “Untuk
memperingatkan Undip sebetulnya, yang sebagai kampus, sebagai lembaga
pendidikan yang seharusnya menjadi cawah candradimuka kejujuran, dia mau
mengusut kasus ini dengan tegas tidak perlu ada yang ditutup-tutupi, begitu,”
ujarnya..
Untuk penyintas, Tian mengajak
agar penyintas jangan pernah merasa sendiri dan takut untuk speak up ketika dilecehkan. “Jangan
takut dan kita sama-sama,” tuturnya.
Beberapa hal yang dituntut
Sebagai bentuk solidaritas, dalam
aksi ini pun terdapat enam tuntutan sesuai dengan siaran pers yang dikeluarkan
oleh ABK, yaitu:
1. Pecat dosen pelaku pelecehan seksual.
2. Bangun solidaritas dan aksi massa untuk melawan kekerasan
seksual dan berikan dukungan yang nyata bagi penyintas.
3. Berikan penyelesaian dan solusi yang lebih transparan dan
berpihak kepada penyintas, dengan membentuk tim investigasi yang juga diisi
oleh mahasiswa maupun pihak dari luar kampus.
4. Berikan sanksi yang tegas dan terbuka kepada pelaku, baik
dosen, mahasiswa, maupun siapa saja yang berada di wilayah kampus.
5. Mendesak kampus untuk menyediakan mekanisme pelaporan yang
kredibel dan berperspektif korban.
6. Mendesak kampus untuk menyatakan sikap dukungan untuk
disahkannya RUU PKS sebagai instrumen yang melindungi korban kekerasan seksual.
Saat ditemui Hayamwuruk pasca aksi, Fitriya, mahasiswi Ilmu Perpustakaan FIB
Undip, mengutarakan kekagumannya kepada para laki-laki yang menjadi mayoritas
dalam massa aksi. Walaupun di satu sisi, ia juga merasa kecewa dengan minimnya
partisipasi mahasiswa FIB terhadap kasus pelecehan seksual yang tengah terjadi.
“Seharusnya kan mereka benar-benar merasa terpanggil kan, apalagi ada kasus
yang ini bukan kasus biasa,” katanya.
Reporter : Qanish, Ektha
Penulis : Ektha (Magang)
Editor : Qanish

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top