Samsul dan Supeno dalam Jeritan Tambakrejo


Dok. Hayamwuruk


“Saya asli Purwodadi, di Tambakrejo baru
lima tahunan,” ucap Samsul memperkenalkan diri pada Jumat (10/5). Ia bercerita
sambil membenahi sambungan kabel-kabel yang ada di depannya. Terkadang Samsul
harus berhenti bicara untuk mennyusun kembali kata-kata yang akan
disampaikannya. Pada saat itu, lagu-lagu lawas mengisi kekosongan sambungan
ceritanya.

Cerita Samsul dan lagu-lagu lawas silih
berganti menemani Desa Tambakrejo, Semarang Utara, Kota Semarang malam itu yang
tanahnya becek dengan genangan air di beberapa titik dikarenakan sisa-sisa
hujan kemarin malam dilengkapi dengan penerangan seadanya. Sejak terjadi
insiden penggusuran paksa oleh Satpol PP dengan dua traktor pada Kamis (9/5),
Tambakrejo hanya tinggal reruntuhan. Belum lama, hanya terlihat tenda-tenda
darurat yang mulai didirikan.


Samsul adalah seorang buruh bangunan.
Pada saat insiden penggusuran paksa yang terjadi pada Kamis (9/5), Samsul tidak
sedang berada di Tambakrejo. Ia sedang bekerja di sebuah proyek pembangunan di
Demak. “Gak bisa langsung pulang,” keluhnya.

Pada saat
bekerja di Demak, tinggallah istri dan anak Samsul yang baru berusia sembilan
bulan di rumahnya di Tambakrejo. Samsul mengutarakan kesedihannya kala
mengetahui istrinya terlantar karena rumah mereka telah diruntuhkan. “
Istri
saya juga kepikiran terus, akhirnya dia sakit. Jatuhnya anak saya juga ikut
sakit, panas sampai sekarang.” Ungkap Samsul.

Samsul masih dapat benapas
lega ketika para warga dan relawan memberikan bantuan kepada istrinya. Mereka
sempat mengungsikan istri dan anaknya ke rumah apung. Menurut Samsul, sudah semestinya para
perempuan dan anak-anak diberikan tempat yang layak dan dilindungi. “Kalo
laki-laki bebas. Saya malah nggak tidur, jaga diesel. Sudah biasa,” ujar
Samsul.

Samsul mengaku
kecewa dengan perlakukan Satpol PP yang cenderung merusak. Jangankan membantu
mengeluarkan barang-barang, menurut Samsul yang dilakukan Satpol PP justru
membentak-bentak para warga, mahasiswa dan beberapa anggota LSM yang membantu.
Bahkan Samsul mengatakan para aparat tersebut sempat menyeret dan mencekik.

“Masalahnya ada
Lindhu Aji, premannya Satpol PP. Satpol PP kan badannya tinggi-tinggi.
Ibaratnya punya tameng. Warga nggak bawa apa-apa kan ambruk,” tutur Samsul.

Samsul dapat
mengingat dengan jelas perjuangannya bersama warga lain untuk mempertahankan
Tambakrejo. Salah satu hasilnya adalah kesepakatan antara warga, Pemerintah
Kota (Pemkot) Semarang dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pamali Juana yang
disaksikan oleh Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) pada 13
Desember 2018 lalu.

Salah satu kesepakatannya berisi tentang warga
Tambakrejo yang tidak akan dipindahkan sebelum lahan tempat tinggal sementara
mereka di Kali Banger selesai dibangun dan diratakan. Namun, sampai saat
terjadinya penggusuran pada hari Kamis itu, proses pengurugan Kali Banger baru
mencapai angka 40%.


Berbeda dengan Samsul, istri dan anaknya yang
mengungsi di rumah apung, Supeno dan keluarganya memilih bertahan di tempat di
mana rumahnya pernah berdiri. Kasur miliknya dipasangi kain tirai yang terikat
di atas, berjaga-jaga saat panas bahkan mungkin hujan. Di kasur tengah duduk
istri dan dua anaknya yang masih kecil, hendak tidur di antara reruntuhan
rumahnya dan barang-barang seadanya yang sempat mereka selamatkan.

Supeno mulai menceritakan kronologi menjelang
penggusuran paksa yang dilakukan oleh Satpol PP. 6 hari sebelum penggusuran
paksa (3/5), beberapa Satpol PP terlihat mendatangi Tambakrejo. Namun pada saat itu
mereka tidak melakukan penggusuran dan pembongkaran rumah-rumah warga karena berhasil dihadang warga dan relawan setempat. Selang
dua hari, tanda-tanda pembongkaran pun tidak terlihat. Baru pada hari Kamis (9/5),
pembongkaran paksa dilakukan.

“Ada pemberitahuan dari Kapolsek, tapi hanya
sampai RT (Rukun Tetangga), dan tak tahu pemberitahuan apa itu. Cuma diberitahu
nanti ada Satpol PP yang datang,” ujarnya.

Hari itu, barang-barangnya hampir semuanya raib,
yang bisa ia selamatkan segera ia pindahkan ke rumah orangtuanya. Anak-anaknya
sudah dua hari tak bersekolah. Kata Supeno, anak-anaknya bingung karena buku
tak ada, seragam pun tak punya.

Dalam situasi tersebut, Supeno mengatakan
anak-anaknya bersama anak-anak lain justru bersemangat ikut melawan
pembongkaran bersama para mahasiswa dan relawan lainnya. Padahal, menurut
Supeno, sewajarnya bulan puasa menjadi waktu anak-anak untuk mengaji hingga
larut tiba. Namun, baik Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan mushola yang
seharusnya bisa digunakan untuk sholat, mengaji, dan bahkan mengungsi, tak ubah
kondisinya dengan rumah warga yang lainnya. Hancur dan hanya tertinggal puing-puing.

“Saya pasrah. Apabila memang sudah seharusnya
rumah ini dibongkar,” nada suara Supeno melemah, sesekali ia terbatuk saat
bercerita. “Bagaimana pun masyarakat hanya bisa pasrah apabila pemberontakan
dan pemukulan sudah tidak ada gunanya. Kami hanya bisa menunggu keputusan
pemerintah,” tuturnya di akhir percakapan kami malam itu.



Reporter : Istina, Wulan
Penulis : Wulan      
Editor: Dwi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top