Media dan Bahasa dalam Seminar Kebahasaan KMSI 2019

Dok. Hayamwuruk
Salah satu rangkaian kegiatan parade bulan bahasa (Parlansa) yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia (KMSI) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip) yakni Seminar Kebahasaan yang dilaksanakan pada Sabtu, (19/10/19). Seminar bertajuk “Peran Bahasa dalam Media” ini diselenggarakan di BP2KLK Semarang. Sehubungan dengan tema yang diangkat, pembicara yang dihadirkan
mencakup berbagai ahli dalam ranahnya masing-masing. Perwakilan dari Balai Bahasa adalah Ema Maemunah sebagai peneliti di Balai Bahasa Jawa Tengah, ada pula konten kreator media daring, Iqbal Aji Daryono, serta Sabda Armandio selaku manajer multimedia tirto.id.
 
Seminar ini merupakan acara kedua usai dilakukan Lomba Menulis Puisi, sebagai acara pertama dalam rangkaian acara Parlansa. Suryani Safitri, sebagai ketua pelaksana menyebutkan bahwa selain tema utama, seminar tersebut juga memiliki sub tema yakni: Sensor Bahasa.
 
Sehubungan dengan tema utama, Iqbal Aji Daryono mengungkapkan bahwa seharusnya yang menjadi fokus tema adalah “Peran Media dalam Bahasa”. Hal ini ia jelaskan dengan mengatakan bahwa media lah yang akhirnya membentuk etika berbahasa kita, bukan sebaliknya. Salah satu alasannya adalah media merupakan suatu agen terkuat dalam mengontrol bahasa. “Media itu, (media pers) ya, mereka itu bukan cuma pengguna bahasa. Jelas, mereka menggunakan bahasa ya, mereka menggunakan Bahasa Indonesia untuk menyebarkan info,” ujar Iqbal.
 
Peneliti dari Balai Bahasa, Ema Maemunah, menyebutkan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang  produktif dan dinamis. Bahasa Indonesia terus berkembang serta dinikmati warga dunia melalui progam Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing (BIPA). Di lain sisi kesadaran penggunaan Bahasa Indonesia dalam masyarakat masih tergolong rendah, terlebih dalam ranah media sosial. “Jadi kami ada pekerjaan mengenai pemantauan. Kami melakukan pemantauan pemakaian bahasa, di ruang publik, di media massa dan di badan publik (tata naskah),” ujar Ema.
 
Ia mengatakan bahwa Badan Bahasa pun juga memantau, mengumpulkan data, dan membuat kajian. Sehingga sampai pada kesimpulan bahwa pemakaian Bahasa Indonesia dalam ruang publik, media massa, dan badan publik memang berada di tingkat yang rendah. “Kemudian kami mengadakan sosialisasi di lembaga-lembaga sekolah setelah itu ada aksi penertiban, pemakaian bahasa yang salah (pada ranah publik) kita turunkan kita perbaiki,” lanjutnya.
 
Iqbal mengatakan bahwa kekuatan berbahasa yang ada di dalam media resmi seperti media pers atau media lain kalah oleh penutur yang menggunakan media sosial atau sejenisnya. Hal ini tidak dapat dicegah karena kebutuhan manusia akan kecepatan informasi lah yang diutamakan, maka media pers daring pun mengalah. “Sekarang sebuah media itu akan dihargai bukan karna akurasinya tapi karna kecepatannya. Siapa yang lebih cepat memberitakan satu peristiwa maka dia dianggap media yang sukses,” ujar Iqbal.
 
Sabda Armandio menambahkan sedikit tips untuk menulis di  media massa, “Latihan menulis jadi penting untuk mengasah kemampuan kita berpikir secara jernih dan memiliki logika pikiran yang kokoh. (Di media tirto.id), mereka tidak menganggap menulis adalah bentuk keterampilan,” ujarnya.
 
Salah satu peserta seminar, Refitasari, mahasiswi Sastra Indonesia memberikan tanggapannya, “Kesanku seminar kebahasaan ini menarik dan sangat memberikan wawasan dengan pembicara yang ahli di bidangnya sehingga dari aku mawas diri (soal) kebahasaanku. Ganbatte bisa menghadirkan kembali acara seperti ini dengan pembicara yang berkompeten.” Refita melanjutkan, “Sarannya mengenai tempat yang pengap dan keadaan AC yang mati gapapa, semua terbayar dengan hadirnya pembicara yang hebat.”
 
Reporter: Nida, Qanish
Penulis: Nida
Editor: Qanish

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top