Komunitas Batir Gelar Diskusi Anti Kekerasan Seksual

Dok LPM Hayamwuruk

Jumat
(20/02/2020) Komunitas sosial Batir mengadakan diskusi tentang anti kekerasan
seksual
bertakjub
‘Komersialisasi Gelar’
yang diselenggarakan di H2O Space & Coffee
Semarang.

Komunitas
Batir merupakan komunitas yang berfokus kepada bidang psikologi di mana melihat
sekarang banyak kasus pelecehan seksual yang sebagian besar dialami oleh kaum
perempuan. Komunitas Batir ini ikut serta menjadi suatu wadah atau membantu
para korban untuk lebih berani bersuara dan bercerita tentang apa yang pernah
dialami korban pelecehan.
Dari
diskusi tersebut, turut mengundang dua narasumber
. Bianglala
Andriadewi, seorang psikolog
,
dan Yuri Mukti, seorang aktivis

perempuan
. Dalam inti pembicaraannya, Bianglala Andriadewi
yang akrab disapa Lala mengatakan bahwa pentingnya dalam memilih
psikolog/psikiater yang baik dan bagaimana bisa menghindari perilaku kekerasan
seksual itu sendiri.

“Kemarahan
harus segera diketahui dan diselesaikan karena ketika kemarahan itu dipendam
dalam diri kita itu akibatnya bisa fatal. Mengenai layanan psikologi ketika
kita ingin melakukan konseling  atau
hipnoterapi, kita harus tahu siapa psikolog yang akan menangani kita. Jangan
sampai salah dalam memilih psikolog/hipnoterapi/psikiater. Nah, saya juga mengimbau
semua, bahwa setidaknya kita menghindari kekerasan seksaual yang terjadi di
diri kita dan jangan selalu menyalahkan diri kita apa yang terjadi dan jangan
memblaming diri kita sendiri,” ujar Lala.

Fikri
Haryono, selaku ketua panitia acara, menjelaskan pentingnya mengapa acara
diskusi semacam ini penting untuk digelar.

“Kasus
pelecehan seksual itu ada di sekitar kita dan korbannya itu banyak
. Namun mereka tidak berani melapor.
Untungnya ada momen-momen seperti ini, ada beberapa orang yang berani speak up, dan akhirnya mereka berani
cerita. Inilah yang juga menginspirasi Batir, 
jika kita berani timbul, berani speak
up
, berani dalam tanda kutip “promosi” apa yang kita lakukan, mungkin akan
sangat banyak teman-teman untuk bercerita. Dampakya ketika kita minta izin
untuk share cerita teman-teman, mereka (yang lain) yang tidak berani cerita pun
merasa tidak sendirian dan timbul lah rasa syukur, timbul lah penyembuhan diri
sendiri,” ujar Fikri.

Fikri
juga mengatakan bahwa untuk untuk meminimalisir adanya victim blaming, kita harus menyadarkan dari forum kecil dulu,
semisal dari rombongan mahasiwa, nanti ke ibu-ibu PKK, masuk ke
sekolah-sekolah, masuk ke LSM. Hal ini bukan sesuatu hal yang mudah untuk
menyadarkan masyarakat luas.

Jadi seperti menyebar bibit, biarkan bibit itu
meneyebarkan sendiri. Agar teman-teman juga sadar bahwa ini bukan hanya tugas Batir,
tambahnya.

Dari
diskusi  ini, Fikri berharap teman-teman
sadar jika semua orang berpotensi menjadi korban. Mulai dari situ dapat pula mencari
tahu apa saja yang harus dilakukan supaya terhindar dari pelecehan seksual.

 “Dari acara tadi, diharapkan teman-teman bisa harus lebih
menerima bahwa hal itu bukan hal yang perlu diratapi sehingga kebersyukuran dan
pemahaman teman-teman bisa naik. Dampak yang lebih luas lagi, teman-teman yang
hadir bisa memberitahu teman-teman di luar sana,” ujarnya.

Luqyana
Chaerunnisa, salah satu peserta, mengaku diskusi cukup seru untuk dibahas,
apalagi menyangkut tentang pembahasan anti kekerasan seksual.

“Acaranya
seru sih karena banyak peserta yang aktif dan banyak timbal baliknya
antarpeserta dengan pematerinya. Banyak terbuka bagaimana caranya untuk kita
menerima keadaan dan juga  ketika kita
memiliki masalah atau mendapat pelecehan dan kekerasan seksual dari pihak mana
pun itu kita mampu untuk bersuara,”
tutur
Luqy.

Reporter:
Della, Demita
Penulis:
Della
Editor: Airell

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top