Aktivis dan Akademisi Menjamin Penangguhan Penahanan Tiga Aktivis Kamisan

Jumat
(01/05) Lembaga Bantuan Hukum Pos Malang mengajukan permohonan penangguhan bagi
tiga aktivis yang aktif dalam Aksi Kamisan Malang. M. Alfian
Aris Subakti, Achmad Fitron
, dan Saka Ridho April yang ditangkap dan ditahan kepolisian Malang dengan dugaan vandalisme.
Namun Kepala Satuan Resesre dan Kriminal (Kasat Reskrim)
Polres Kota Malang mengata
kan
tida
k memiliki kewenangan untuk hal itu kecuali wewenang dari penyidik.

Hingga
akhirnya tim advokasi Yayasan Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) melakukan siaran
pers pada Selasa (5/5) tentang pemberian jaminan penangguhan penahanan kepada
tiga aktivis Kamisan Malang. Diantaranya ada Sri Lestari Wahyuningroem sebagai
dosen FISIP UPN Jakarta, Haris Azhar direktur Lokataru, Roy Murtadho
koordinator Front Nahdliyyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA), dan
Usmad Hamid direktur selaku Amnesty Internasional Indonesia.

Wachid Habibullah, Direktur LBH Surabaya saat siaran
pers secara daring mengatakan bahwa ada banyak hal yang janggal dalam proses
penangkapan ketiga aktivis tersebut. Mulai dari prosedur penangkapan hingga
kesulitan dalam mendapatkan Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Hinga terkuak bahwa
ketiga aktivis dikenai pasal 14-15 
UU
No. 1 tahun 1946 tentang peraturan pidana dan pasal 160 KHUP tentang
penghasutan.

“Banyak penggelapan hukum acara maupun
penggunaaan pasal materilnya yang tidak tepat. Ini adalah modus yang umum dalam
banyak kriminalisasi dan pemidanaan yang dipaksakan. Pasti ada motif atau sebab
yang tidak diperbolehkan kenapa seseorang dipidanakan. Penggunaan  alat bukti dan hukum acaranya masih
berantakan,”. Ujar Haris Azhar, Direktur Lokataru tentang alasannya  ikut menjamin ketiga aktivis tersebut.


Sebagai akademisi, Sri Lestari Wahyuningroem, Dosen
UPN Jakarta yang juga menjadi penjamin tiga aktivis Kamisan,
  mejelaskan bahwa kecenderungan untuk represif
itu semakin menguat.

“Di
situ ada pelanggaran yang kuat yang dialami teman-teman aktivis Kamisan Malang
yang ditangkap, staf pengajar di sisi lain, menurut saya keprihatinannya tetap
ada namun mungkin kita banyak terpengaruh dampak pembelahan kubu yang terjadi
di pemilu yang terakhir. Hari ini tidak ditampikan pembelahan begitu kuat
terjadi di akademisi kampus,” tambahnya.

Dalam
perbincangan secara virtual, Roy Murtadho, koordinator FNKSDA Nasional mengatakan
bahwa ia juga ikut menjamin ketiga aktivis Kamisan Malang tersebut. Bahwa
tindakan anarkisme bukan untuk mencari kambing hitam saja, akan tetapi sedang
mencari musuh.

“Saya
baca dari media ada pihak polisi dari Malang mengatakan, bahwa anak-anak
mahasiswa teman-teman kita yang ditangkap dianggap anti kapitalismelah kalau
anti kapitalisme itu islami sekali itu cita-cita bangsa semua anti kapitalis
anti interalis anti kolonialisme dan fasisme ini islami tidak ada lebih islami
dari itu jadi terminologi hasutan itu mesti dicek kembali terus apakah benar
anarkisme sejahat itu jangan-jangan ini cuma premium saja ini bukan mencari
kambing hitam tapi sedang mencari musuh” ujarnya.

Usman
Hamid dalam perbincangan juga menambahkan bahwa jika penangkapan terus
dilanjutkan, maka itu akan menurunkan kredibilitas pemerintah dan kepolisian.
Di mana hal tersebut justru dapat menciderai pihak kepolisian untuk  membangun kepercayaan dan kemitraan kepada
masyarakat.

Saya kira kalau penangkapan seperti ini terus
dilanjuntukan maka kredibilitas pemerintah dan juga kredibilitas kepolisian
akan terus mengalami kemerosotan, apa yang direncakan secara strategis dalam grand
strategy
kepolisian untuk membangun kepercayaan dan membangun kemitraaan
dengan masyarakat sebenarnya justru terciderai dengan penangkapan
-penangkapan aktivis atau penangkapan-penangkapan warga masyarakat yang dianggap kritis,” ungkap
Usman.

“Kalau
saja kriminal maling- maling itu maling-maling ayam aja dikeluarkan, kenapa
kemudian aktivis yang kritis kemudian dipidanakan atau dipenjarakan,” tambah Roy
Murtadho disela perbincangan.

Ia juga
menyampaikan bahwa perlu adanya peningkatan early
warning system
dalam menghadapi pemerintahan yang lagi-lagi mencari-cari apa
itu musuh baru, ia juga menambahkan harapannya agar pemerintah lebih
memperhatikan aspirasi beserta kegelisahan masyarakat, termasuk dalam
memperhatikan aksi Kamisan.

“Aksi
Kamisan memang aksi yang digalang secara swadaya oleh banyak aktivis juga ada
korban, buruh, dan banyak komunitas. Ya, jadi memang ini sebuah gerakan yang
terbuka, isunya juga beragam mulai dari isu HAM atas masa lalu, perburuhan,
sumber daya alam, lingkungan dan macam- macam. Jadi, memang tempat  berkumpulnya aktivis, aktivismelah begitu,
dan sekaligus tempat untuk mengupayakan, 
mendorong penyelesaian persoalan yang muncul dimasyarakat,” ujar Ali Nur
Sahid, Pegiat Kamisan.


Reporter: Lala, Zama
Penulis: Lala
Editor: Della

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top