[OPINI] Mengatasi Haus bersama Pak Rektor dan Martinus

Ilustrasi: LPM Hayamwuruk

Oleh: Pridde*

Saya
tidak akan memulai tulisan ini dengan jargon “Hidup Mahasiswa” ataupun “Hidup
Rakyat Indonesia”. Alasannya sangat sederhana. Karena tulisan ini bukan caption pada Official Account (OA) BEM.

Siang
hari adalah waktu yang tepat bagi seorang seperti saya mulai merasa haus karena
berpuasa. Biasanya, ketika memasuki kondisi semacam ini, saya akan berubah
tiba-tiba menjadi seorang ahli psikoanalisis. Memang sebuah sesat pikir. Tanpa premis
dan kesimpulan yang jelas dalam menyusun argumen, saya berpikir, rasa haus yang
berjibaku di liang tenggorokan ini akan mampu teratasi ketika mengalihkannya
dengan mengerjakan sesuatu yang lain. Bagaimana caranya, saya harus mengukuhkan
psikologis saya dengan kegiatan lain.

Muara rasa haus yang
mengawali tulisan ini. Dari sana, saya haturkan beribu kasih kepada Tuhan
dengan keniscayaan rasa haus ciptaannya yang sangat bermanfaat bagi saya di era
– yang apa-apa – world class-world
classan
ini.



***
Dalam
sebuah jurnal, paragraf kedua saya layaknya interpretasi dari sebuah kata kunci
(keyword). Kata kuncinya seperti ini:
sesat pikir, pak rektor, dan mas wakasenat.
Saya memilih Pak Rektor dan Mas Martinus karena cinta.  Mereka benar-benar ihwal ”pandangan pertama”
di tengah pandemi “SK Rektor Nomor 149/UN7.P/HK/2020” tentang kenaikkan Uang
Kuliah Tunggal (UKT). Katanya sih
pandemi ini muncul gara-gara adanya inflasi, kenaikan harga, defisit anggaran
dan sebab untuk meningkatkan mutu.

Karena
itu, beberapa hari terakhir, tagar #UndipKokJahatSih viral. Tagar ini
diprakarsai oleh sebagian mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) atas
gugatannya terhadap kenaikkan UKT. Mau gimana lagi ya kan, kondisi kaya gini bikin ruang-ruang yang semula fisik, menjadi
ke dalam dunia maya yang bukan Ahmad Dhani. Walaupun jadi nggak seru, mau tidak mau, aksi tuntutan lewat sosial media, juga
patut diperhitungkan.

Tapi
yah…..bisa ditebak respon kampus dan para jelmaan supporternya. Ujung-ujungnya, mirip respon terkait kasus pelecehan
seksual di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip tahun lalu, yang juga sempat viral
karena pemberitaan dari tirto.id. “Jangan sekali-sekali yach, merusak #NamaBaikKampus,” terang pihak kampus waktu itu, saya
inget banget pokoknya. Nggak peduli
itu kasus pelecehan seksual yang harus diungkap dan dikabarkan, yang penting,
#NamaBaikKampus kudu dijaga. Itu adalah norma absolut yang siapapun nggak boleh ganggu gugat, huft.

Jujur
deh, kalau melihat Undip secara empirisme indrawi John Locke, saya seakan
nonton tanding calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres)
tahun lalu. Masing-masing kubu ya gitu – sama-sama mengatakan mana yang orang
baik dan mana yang orang jahat. Alhasil, diskursus warga di sosial media pun
dikerucutkan jadi perdebatan “Orang Baik vs Orang Jahat”.

Sama
persis dengan apa yang dimuat Mas Martinus di story akun Instagram-nya
pada Minggu (3/5/2020) kemarin. Isinya tentang
sebuah percakapan seseorang (nga tau mas Martinus atau bukan orangnya,
semoga bukan ya, Mas, Ameen
)
dengan Pak Rektor.
Kurang lebih,
orang ini senada dengan Pak Rektor. Katanya, persoalan kenaikan UKT itu sudah kelar
dari jauh hari dan sudah disepakati oleh tiap BEM Fakultas dengan Dekannya.
Terlebih, kata Pak Rektor, sudah 5 tahun Undip tidak menaikkan UKTnya dan sudah
ribuan pula ia menandatangani permintaan Banding UKT mahasiswa.
Tapi
t
unggu dulu, percakapan mereka nggak sampai disitu saja. Yang paling mencengangkanhinggabikin terkewer-kewer
bagi saya ada di kalimat terakhir. Pak Rektor kebingungan, katanya “Saya rasa
ada tujuan lain dari hal ini.” Pernyataan Pak Rektor pun di-iyakan sama
orang yang
semoga bukan bukan Mas Martinus
, hihi.

Sudah
khalayak dibuat gaduh dengan tindakan irrasional ahli konspirasi yang berikrar
COVID-19 itu bohongan, eh di Undip
kita pun juga sama. Isu dan kritik soal kenaikan UKT ditanggapi dengan argumentum ad suudzon wa konspiratif.
Makanya saya bilang kalau kondisi di Undip saat ini dengan Pilpres 2019 nggak ada bedanya. Ujung-ujungnya,
kampus selalu berusaha menjadi “Orang Baik” yang menganggap kritik sebagai
sesuatu yang jahat, huft.

Bagi
saya, kecenderungan itu masuk ke dalam bentuk sesat pikir. Di tengah lingkungan
pendidikan yang katanya memiliki ruang demokrasi seluas-luasnya dan tempat
pertukaran pikiran yang berlangsung secara ilmiah, yang terjadi di Undip malah
berbeda. Tingkat kecurigaan itu malah membuat kita terhindar dari nalar-nalar
akademis di wilayah pendidikan. Sungguh ironis. Perdebatan yang seharusnya
berlangsung secara substansial, malahan bergulir dengan lempar sana-lempar
sini.
Sampai
kapanpun, alasan dan pembuktian mengapa UKT harus naik tidak akan pernah
menjadi kebenaran bagi saya. Undip ini layaknya perusahaan yang meniadakan jasa
pendidikan. Ia bukan lagi institusi seperti Taman Siswa yang didirikan Ki
Hadjar atau Sekolah Rakyatnya Tan Malaka. Hal ini terlihat dari wataknya yang
amat private. Tidak ada pertukaran
dialogis yang berlangsung disini.

Kalau
Taman Siswa itu didirikan untuk menentang kolonial, kapitalisme dan segala
bentuk imperialisme masa penjajahan, lewat Undip sebagai kacamatanya, kayaknya nggak deh. Kita semua dididik untuk
menjadi sekrup-sekrup mesin pabrik yang tersebar di seluruh dunia kok. Wajar
saja kan seorang buruh tidak mengetahui hal-hal detail perusahaan yang hanya
diketahui petingginya? Dan wajar pula kan untuk mengurangi upah buruh ketika kebutuhan
pokok perusahaan naik di tengah permintaan pasar yang juga naik?

Menurut
saya, permasalahannya bukan
 di transparansi berupa pemberitahuan yang kesannya
tuh
nanggung, ahelah. Fakta dan permasalahan yang nyata, buruh dan kita nggak akan pernah tahu kenapa nominal
penurunan gaji itu bisa sebesar satu juta dan kenaikan UKT itu bisa sebesar
itu. Kita cuma tahu permukaan, tapi kita sama sekali tidak tahu akarnya karena
tidak diberikan alasan logis berupa analisis keuangan beserta proses hilir-hulu
uangnya.

Jadi
Pak Rektor, kita ngerti kok ada inflasi, oke.
Kita juga paham kalau barang-barang pada naik, ngerti. Tapi, selama kita sama-sekali nggak tau proses aliran uang, pemasukan, pengeluaran dan segala hal
yang berbau detil-detil sebab UKT dinaikkan, ya semua alasan itu cuma lagu lama banget, serius deh.Gimana kita
mau percaya kalau transparansi nggak dilakukan.
Coba saja dilakukan, semuanya pasti akan menjadi logis, percaya deh.

Tapi
bukan berarti saya mendukung “gapapa UKT mahal asal transparansinya jelas lho
ya”. Enggak. Soal itu kita bisa bicara lain waktu lah. Yang jelas Undip, punten banget, tolong ya kamu berubah
lebih baik. Coba tampilkan watak akademis dan ilmiah yang katanya verified itu.

Editor: Zanu


*Nama ini adalah nama pena penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top