[OPINI] Hingar Bingar Kata ‘Anjay’ Mulai Pudar, Tapi Luka Di Hati Tak Akan Memudar

Ilustrasi: Azril

Oleh: Zanu Triyono

Cerita ini datang dari sebuah desa terpencil di sebelah Selatan Pulau Jawa. Entah siapa yang menulis itu, seketika saja terlintas di sebuah surat kabar digital, tepatnya di beranda Twitter milik saya. Judul tulisan tersebut adalah “Seorang Ibu Marah Kepada KPAI karena Pelarangan Anjay,”

Untuk yang mengikuti perkembangan ‘anjay’, judul berita itu tentu banyak tidak nyambungnya. Namun nyatanya, kalimat tersebut berhasil berbuah di pikiran saya, “Si ibu kenapa marah sama KPAI? yang melarang ‘anjay’ kan Komnas PA?

Tenang sejenak. Saya pun tetap berpikir positif dan memakluminya karena banyak juga yang menyamakan keduanya. Setelah mengganti KPAI dengan Komnas PA dan membaca ulang, ternyata hasilnya tetap aneh. Penyebab si Ibu marah tetap tidak tergambar.

Buntunya ide dalam pemecahan judul pun membawa saya ke halaman berita. Saya baca dengan seksama dari teras berita, turun hingga ke dasar. Oh, jadi gitu ceritanya.

Ada seorang anak bernama Muhammad Aanjay Dananjaya. Sapaan akrabnya adalah Danan, tapi karena pelarangan kata ‘anjay’ menyebar sangat cepat, temannya pun menjadikannya panggilan baru untuk Danan. Celaan atau bercandaan seperti ini bagi sebagian orang mungkin hal biasa, namun tidak bagi sebagian orang yang lain.

Danan tidak pernah suka dipanggil ‘anjay’ dan ia menganggapnya sebagai suatu ejekan yang melukai hati, meski itu nama tengahnya sendiri. Disebutkan juga kalau di sekolah ia sering menjadi bulan-bulanan temannya. Akibatnya, Danan sempat mogok sekolah karena perlakuan tersebut.

Ibu Danan yang mengetahui hal itu langsung berkomentar dan menyalahkan KPAI (baca: Komnas PA). Mereka seharusnya mengurusi hal-hal yang lebih penting, bukan urusan tata bahasa yang secuil itu. Ia berpendapat bahwa pelarangan kata tersebut justru seperti menabur gula disarang semut, bukannya dihindari, tapi malah didekati.

Kalau dipikir-pikir, perkataan Ibu Danan ada benarnya juga. Kata hinaan itu banyak yang lebih kasar, tapi yang dipilih hanya kata ‘anjay’ saja. Padahal kalau dalam penggunaan bahasa sehari-hari, kata ‘anjay’ lebih sering digunakan sebagai ungkapan kagum, pengganti kata luar biasa, keren, dan lain sebagainya. Mana ada orang yang ngatain, ‘dasar anjay lu’. Tentu saja pamor kata yang lain seperti, anj*ing, b*abi, g*oblok, t*ai, bgst, lebih enak dijadikan untuk menghina.

Berdasarkan kesoktahuan saya yang berbekal baca-baca Twitter, ‘anjay’ adalah pengganti kata ‘anjing’ yang diperhalus. Kata ‘anjing’ dimaknai kasar oleh sosial, dipelesetkan atau diperhalus menjadi berbagai macam kata baru. Hal ini mungkin terjadi karena kata ‘anjing’ dalam bahasa sehari-hari sudah sering digunakan untuk mengungkapkan ekspresi seperti kekaguman, kaget, marah, senang, keakraban, sedih dan lain sebagainnya.

Ibarat kita terjebak lampu merah di perempatan, untuk menghindarinya kita bisa belok ke kiri dulu, lalu putar balik, dan bablas ke kiri lagi.

Lagi pula, setelah surat pelarangan itu tersebar, alih-alih berhenti terucap, justru kata ‘anjay’ semakin sering dipakai. Artinya, pelarangannya gagal total hancur lebur jadi bubur. Tapi itu kalau benar maksudnya untuk melarang. Kalau tujuannya yang lain, seperti untuk mengalihkan isu atau mencari panggung? Ya tentu saja berhasil. Berdasarkan sependek penelusuran saya, meski sang pelapor jadi bahan ejekan, tapi dirinya justru diundang ke berbagai tempat dan dikenal luas.

Ibu Danan juga bilang kalau arti nama anaknya itu bagus, Muhammad Aanjay Dananjaya. ‘Muhammad’ adalah nama nabi, ‘Aanjay’ diambil dari Bahasa Sansekerta, tak terkalahkan, dan ‘Dananjaya’ yang berarti satria baik hati. Satria baik yang tak terkalahkan, itulah arti namanya.

Akhir kata, semoga karakter Danan ini tidak benar-benar ada. Kalaupun ada, semoga ia mampu mengikuti alur ketika dijadikan celaan dari yang sudah-sudah. Semakin marah yang dicela, semakin semangat pula yang akan mencela. Tapi kalau bisa melawan, tentu saja beda cerita.

Editor : Della Cintya Raisma

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top