Dari Walk Out hingga Dugaan Radikalisme Peserta LKMM-TM 2020

Ilustrasi: Gita

Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Madya (LKMM-TM) sebagai salah satu syarat calon ketua dan wakil Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Diponegoro (Undip) dibatalkan akibat aksi walk out (WO) oleh seluruh peserta pada Sabtu, (28/11/20). Hal ini terjadi akibat terbitnya dua versi berbeda terkait pengumuman peserta lolos LKMM-TM yang diumumkan panitia dengan tim selektor dari rektorat Undip.

Hal ini bermula ketika hasil seleksi tim rektorat Undip yang ditandatangani direktur kemahasiswaan Undip, Handojo Djoko Waloejo dan penanggung jawab LKMM-TM, Sutopo, telah mengeliminasi 11 peserta tanpa keterangan yang jelas dan menggantinya dengan 10 peserta baru asal Sekolah Vokasi (SV).

Padahal, untuk menjadi peserta LKMM-TM harus melalui proses wawancara, pembuatan grand design, dan tes uji kepantasan dan kelayakan (fit and proper test) yang digelar panitia yang berasal dari bidang Keorganisasian dan Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (K-PSDM) BEM Undip.

Kronologi

Akun resmi LKMM-TM yang dikelola K-PSDM menerbitkan pengumuman peserta lolos pada Rabu, (25/11/20). Sebelum diterbitkan, nama-nama tersebut telah diserahkan kepada rektorat. Total ada 51 peserta dari berbagai delegasi lembaga dan fakultas.

Namun, pada Kamis, (26/11/20) terdapat versi pengumuman baru. Total peserta menjadi 50 dengan tereliminasinya 11 peserta dari berbagai delegasi dan diganti dengan 10 peserta yang seluruhnya delegasi SV.

Saat hari pertama rangkaian LKMM-TM hari Jumat, (27/11/20), salah satu peserta delegasi SV, Muhammad Khadafi Rhamdani menanyakan perihal 11 orang yang tereliminasi. Pertanyaan tersebut juga diarahkan pada Sutopo selaku penanggung jawab LKMM-TM 2020. Namun, menurut keterangan salah satu peserta yang tak ingin disebutkan namanya, Sutopo berdalih bahwa bukan hak penanggung jawab LKMM-TM yang menentukan masuk atau keluarnya peserta.

Malam setelah LKMM-TM hari pertama selesai, peserta mengadakan rapat untuk merumuskan langkah yang akan diambil. Hasilnya, seluruh peserta memutuskan WO dengan membuat surat terbuka yang ditujukan kepada Wakil Rektor 1.

“Kita memutuskan untuk WO karena merasa sudah tidak sehat dalam rangkaian Madya (LKMM-TM) ini dengan adanya intervensi birokrat yang tahun sebelumnya tidak ada,” ungkap Naufal Bahri, peserta delegasi BEM Undip.

Pada hari keduanya, Sabtu, (28/11/20), rangkaian LKMM-TM saat sesi materi Rencana Pengembangan Organisasi (RPO) pukul 13:00 WIB, perwakilan peserta menyatakan WO dengan membacakan surat terbuka yang diarahkan kepada penanggung jawab LKMM-TM.

Akibat aksi tersebut, LKMM-TM sempat dihentikan sampai waktu yang tidak ditentukan. Namun karena adanya WO, LKMM-TM 2020 dinyatakan batal oleh Handojo.

Pengeliminasian dan Penambahan Peserta

Adanya pengeliminasian dan penambahan peserta tanpa alasan yang jelas menimbulkan pertanyaan, khususnya bagi ketua Senat Mahasiswa (SM) Undip, Edy Hartanto. Edy menanyakan kepada Handojo perihal mekanisme pengeliminasian peserta.

“Adanya versi direktur kemahasiswaan (Handojo) yang menimbulkan pertanyaan; kenapa nama-nama yang sudah terseleksi dihapus. Di sana direktur kemahasiswaan tidak bisa memberikan keterangan karena itu rapat terbatas,” jelas Edy.

Menurut Edy, tereliminasinya 11 peserta tidak melewati mekanisme yang sesuai. “Berkenaan dengan nama-nama baru yang dicoret, ya, itu asal aja. Kebetulan nama 11 orang itu yang tereliminasi,” lanjut Edy.

Kepada Hayamwuruk, Edy juga menjelaskan hasil rapat K-PSDM BEM Undip bersama penanggung jawab LKMM-TM dengan direktur serta wakil direktur kemahasiswaan terkait penambahan 10 peserta. Pihak K-PSDM mempertanyakan perihal mekanisme seleksi 10 nama baru. Menurut Edy, mekanisme yang dilakukan seperti meranking, lalu nama-nama yang berada di urutan bawah dieliminasi dan diganti nama-nama baru.

Nah, itu mungkin beberapa mahasiswa yang curiga berkenaan dengan, kok, menyasar ke nama-nama tertentu. Nah, itu sebagai sampling aja,” jelas Edy.

Dugaan Radikalisme

Tim selektor dari rektorat Undip mengabarkan bahwa terdapat 11 nama yang dicoret atau tidak dapat mengikuti acara LKMM-TM pada hari Jumat karena adanya permasalahan yang tidak dapat dijelaskan. Hingga kini, kabarnya pun tak kunjung menemui titik terang.

Isu yang beredar terkait 11 peserta yang dieliminasi adalah adanya dugaan radikalisme. Hal ini disampaikan oleh Reyva Alviona, delegasi SM Undip sekaligus bagian dari 11 peserta tereliminasi. Ia menerangkan bahwa keganjilan dalam pencoretan ini kemungkinan adanya indikasi radikalisme.

Bersamaan dengan hal tersebut, dari 11 nama itu, menurut Reyva memang ada 6/7 orang di antaranya tergabung dengan salah satu organisasi ekstra kampus.

“Dan berita yang beredar, saya terafiliasi dengan salah satu (organisasi) ekstra (kampus) tersebut. Padahal, saya tidak ikut dan tidak pernah nongkrong, bahkan tidak memiliki teman dekat yang tergabung dalam ekstra tersebut,” tambah Reyva.

Hayamwuruk berusaha mengonfirmasi kabar tersebut pada Muhammad Adnan, ketua Tim Anti Radikalisme (Timaru) Undip. Menurutnya, ia tidak mengetahui perihal mekanisme LKMM-TM.Namun, saat Hayamwuruk mencoba mengonfirmasi perihal keterlibatan Timaru dalam proses seleksi peserta, ia mengaku tidak mengetahui hal tersebut.

“Mohon maaf, saya tidak mengetahui LKMM-TM, lebih baik wawancara dengan yang tahu saja,” ujarnya.

“Timaru bukan selektor,” tambahnya.

*Hayamwuruk telah berusaha menghubungi Direktur Kemahasiswaan Undip, penanggung jawab LKMM-TM Undip, Ketua dan Wakil K-PSDM BEM Undip, serta 10 peserta yang didaftarkan rektorat sepihak, namun hingga berita ini rilis, semua narasumber tidak merespons.

Reporter: Rilanda, Puspa, Riski, Naufal, Lala

Penulis: Rilanda

Editor: Qanish

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top