Peserta LKMM-TM Walk Out, Pemira Undip Nihil Calon

Sumber gambar: Akun Instagram @pemiradiponegoro

Aksi Walk Out (WO) hampir seluruh peserta Latihan Keterampilan dan Manajemen Mahasiswa Tingkat Madya (LKMM-TM) menyebabkan kosongnya bakal calon ketua dan wakil ketua BEM di Pemilihan Umum Raya (Pemira) Undip 2020. Hal ini lantaran persyaratan yang mengharuskan bakal calon Ketua BEM untuk lulus LKMM-TM.

Ketua Senat Mahasiswa (SM) Undip 2020, Edy Hartanto menuturkan, aksi WO tersebut yang menyebabkan peserta tidak lulus. Menurutnya, berdasarkan pedoman buku LKMM-TM dari Kemendikbud, menghadiri rangkaian kegiatan menjadi syarat kelulusan.

“Karena WO, dan hampir semua peserta forum bisa dikatakan WO, otomatis itu nggak bisa dijadikan syarat kelulusan LKMM-TM,” katanya kepada Hayamwuruk pada (6/12/2020) melalui telepon.

Awal mula aksi WO ini terjadi ketika muncul dua versi pengumuman peserta lolos LKMM-TM. Pengumuman pertama adalah versi KPSDM dan kedua adalah versi Rektorat Bidang Kemahasiswaan yang mencabut sebelas peserta dan menggantikannya dengan sepuluh peserta dari Sekolah Vokasi (SV).

Peserta yang mengetahui hal ini pada hari pertama LKMM-TM pun langsung meminta keterangan kepada Person In Charge (PIC) LKMM-TM, Sutopo. Namun, Sutopo mengaku bukan dirinyalah yang menentukan siapa yang masuk dan keluar.

Guna mengonfirmasi, Hayamwuruk telah mencoba menghubungi Sutopo sebanyak tiga kali melalui WhatsApp, tapi tidak ditanggapi.

Imbasnya, peserta pun mencurigai adanya praktik nepotisme dan melayangkan surat pernyataan sikap walk out dari rangkaian LKMM-TM hingga mendapat klarifikasi terkait penambahan dan pencabutan peserta.

“Kita tidak akan tau intervensi birokrat akan sejauh apa ke depan, sebagai mahasiswa yang masih mempunyai idealisme, kita mengutuk tindakan nepotisme tersebut dengan melakukan walkout dari rangkaian Madya,” ungkap Naufal Bahri, Ketua Divisi Advokasi Bidang Kesejahteraan Mahasiswa BEM Undip sekaligus peserta LKMM-TM.

Menanggapi hal ini, Edy Hartanto meminta kejelasan terkait nama-nama yang menggantikan itu kepada Direktur Kemahasiswaan, Handoyo. Namun, ia mengaku tidak mengetahui mengenai mekanisme seleksi.

“Menurut saya (Edy) seperti meranking nama-nama dari atas dan bawah dibuang, kemudian dimasukkan nama-nama baru. Sebagai sampling aja jawaban dari beliau (Handoyo), nama-nama baru yang dicoret itu asal aja, kebetulan nama 11 orang itu yang tereliminasi,” katanya.

“Handoyo sendiri tidak tahu apa-apa dengan mekanisme seleksi dan pemilihan 10 orang itu, karena yang mengurusi itu dari PIC pak topo (Sutopo),” tambahnya.

Reporter : Naufal, Puspa, Nur, Riski, Rilanda

Penulis : Naufal Wibawanto

Editor    : Zanu Triyono

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top