[ULASAN BUKU] Vegetarian: 3 Babak Paling Mengesalkan tentang Kepolosan dan Mimpi Buruk

sumber gambar: mizanstore.com

Sebenarnya ini adalah pengalaman membaca berbulan-bulan lalu. Bulan April, sebelum bulan puasa, awal pandemi paling sialan. Insomnia menyerang dan saya harus terjebak di kos dengan berbagai perasaan was-was yang berlebih. Takut tidak bisa pulang ke kampung, setiap hari menelpon rumah menanyakan keadaan, hingga kekurangan nutrisi menerpa (baca: saya tidak mahir memasak, jadi masak seadanya). Semua itu menyebabkan gelombang stress yang memuakkan. Saya memutuskan untuk menghibur diri dengan membeli buku baru di online shop. Satu judul di antara 3 buku yang saya beli adalah Vegetarian, novel karya penulis perempuan Korea Selatan, Han Kang. Sampul berwarna ungu pekat dengan bunga—saya tahunya itu bunga mawar—merekah besar-besar di belakang judul berhuruf kapital berwarna putih.

Saya tidak ingin memberikan bocoran terlalu banyak untuk novel ini. Saya hanya ingin berbagi pengalaman membaca. Membaca bagaimana vegetarian yang dimaksud oleh Han Kang itu sendiri. Berbagi eksplorasi singkat yang akan saya sampaikan dengan berbagai cicitan, yang sayangnya harus Anda baca jika penasaran. Baiklah, mulai saja. 

Vegetarian mempunyai 3 bab dengan subjudul berbeda. Bab tersebut memiliki penutur atau orang yang diambil kesadarannya untuk menceritakan tokoh yang disorot di sini, Kim Yeong Hye. Bab Pertama bersubjudul “Vegetarian” diambil dari sudut pandang orang pertama, suami Yeong Hye. Bab kedua “Tanda Lahir Kebiruan” yang diceritakakan dengan sudut pandang orang ketiga serba tahu, namun dalam jalinan kisah dan berbagai kesadaran milik kakak ipar Yeong Hye. Bab terakhir, “Pohon Kembang Api”—yang bagi saya paling depresif—mengambil kesadaran dan berbagai pengalaman In Hye, kakak perempuan Yeong Hye. Bab terakhir menggunakan sudut pandang orang ketiga.

Bab pertama mengantarkan saya akan “sifat manusia biasa” milik suami Yeong Hye yang harus berhadapan dengan istrinya yang mendadak jadi vegetarian. Sangat kesal dengan kedua orang ini (Yeong Hye dan suaminya). Sudut pandang brengsek milik suami Yeong Hye membuat saya super duper membencinya. Namun, akhirnya saya mengerti, seseorang memiliki batas. Apalagi suami Yeong Hye mengklaim dirinya sebagai orang biasa dari awal. Narasi Yeong Hye muncul beberapa kali, membicarakan mimpi buruknya. Dan saya tidak kuat untuk membayangkan hal mengerikan yang membuat Yeong Hye memutuskan untuk jadi vegetarian tersebut. Menjadi asing dan menyimpang. Hal itulah yang membuat suaminya hingga keluarganya yang lain kewalahan. Lalu, saya semakin kesal. 

Bab kedua adalah bab paling indah. Berbicara tentang tanda lahir kebiruan yang merekah di pantat Yeong Hye. Lalu, gairah seksual, erotisme, juga keindahan seni. Semuanya itu adalah pelukisan yang indah untuk jalinan kisah yang ada. Bunga-bungaan, dan saya sempat melukis ilustrasi untuk bab dua ini dengan cat gouache dan akrilik. Kakak ipar Young Hye adalah seorang seniman yang hebat dan entahlah kata apa yang patut menggambarkan gairahnya akan seni—bejat. Lagi-lagi saya dibuat kesal.

Bab ketiga. Bab paling depresif, dan sialnya indah. Young Hye ingin menjadi pohon. Kenangan masa kecil In Hye dan Yeong Hye sebagai saudara, juga berbagai kepolosan. Saya menangis deras di sini. Bagaimana In Hye yang begitu depresi mengurusi adiknya, Young Hye yang terobsesi untuk menjadi pohon. Apakah ini yang dimaksud vegetarian oleh Han Kang? Makhluk hidup yang bisa melakukan fotosintesis? Kembali ke awal, menyatu dengannya, dan hilang akal? Dikuasi kepolosan? Aahhhhh, sial. Saya kesal, semakin kesal, dan berakhir kesal di alam semesta yang diciptakan Han Kang ini.

Baiklah, kekesalan itu memang nyata. Sebuah serangan psikologis benar-benar saya rasakan. Sebut saya orang gila, karena saya membaca novel ini ketika keadaan stress dan butuh hiburan. Seharusnya saya membaca komik di internet saja. Mencari tagar komedi atau membaca hal-hal ringan lain. Novel setebal 200-an halaman ini tidak saya rampungkan dalam waktu singkat. Saya butuh waktu seminggu untuk menyelesaikannya. Jeda saya ambil karena sangat terganggu dengan keindahan yang mencengkam yang ditawarkan Han Kang dalam setiap narasinya. Jeda yang cukup berkala. Setiap mimpi buruk yang dinarasikan Han Kang terasa dekat dan nyata, hal itu membuat saya tidak bisa tenang. Saya menutup ini sambil memaki, tidak ada lega.

 

Penulis: Kiki

Editor: Restutama

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back To Top