Pembangunan Tol Tanggul Laut Semarang-Demak Berpotensi Menimbulkan Masalah

Dok. Hayamwuruk

Koalisi Pesisir Kendal-Semarang-Demak (KPKSD) berpendapat Tol Tanggul Laut Semarang Demak (TTLSD) tidak akan menyelesaikan masalah banjir di Kota Semarang dan sekitarnya, justru sebaliknya malah berpotensi untuk menambah masalah.

Pada 2019, KPKSD melakukan penelitian mengenai krisis sosial-ekologis di Kawasan Pesisir Semarang-Demak yang telah dibukukan dengan judul Maleh dadi Segoro. Dalam buku tersebut, KPKSD mempelajari krisis sosial ekologis amblesan tanah di Semarang, proyek TTLSD, dan hubungan keduanya dengan banjir.

“Amblesan tanah menjadi isu yang sangat penting karena turut meningkatkan resiko Kota Semarang mengalami banjir. Kawasan yang kerap dilanda banjir seperti Kaligawe setiap tahunnya mengalami amblesan tanah sekitar 10 cm,” kata Masnuah, perwakilan dari KPKSD dalam konferensi pers secara daring pada Rabu (10/2/2021).

Masnuah mengatakan, KPKSD melihat amblesan tanah sebagai krisis ekologis yang berakar pada kondisi sosial. Ada 5 faktor yang diidentifikasi oleh KPKSD sebagai penyebab amblesan tanah di Semarang, antara lain: ekstraksi air tanah; pembebanan bangunan atau struktur; aktivitas tektonik; kompaksi sedimen aluvial di bawah Kota Semarang; dan pengerukan secara reguler di Pelabuhan Tanjung Mas yang menyebabkan bergeraknya sedimen di bawah Kota Semarang ke arah laut.

“Penyebab-penyebab seperti ekstraksi air tanah dan pembebanan adalah kondisi sosial yang kami maksud, sehingga menimbulkan krisis ekologis berupa amblesan tanah,” kata Masnuah.

Kondisi sosial, lanjut Masnuah, itu tercipta melalui hukum dan kebijakan, seperti aturan Proyek Strategis Nasional (PSN), aturan tata ruang, aturan zonasi wilayah pesisir, dan Undang-Undang Omnibus Law, yang dijalankan oleh pemerintah dari pusat hingga daerah.

“Catatan kami dalam Maleh dadi Segoro, juga telah menunjukkan, bahwa terdapat perbuatan aktor negara yang merintangi atau membangkangi hukum, di mana perbuatan terstruktur dan tersistematis itu nyata merintangi akses terhadap keadilan sosial-ekologis bagi masyarakat dan lingkungan di pesisir Kendal-Semarang-Demak,” kata Masnuah.

Sementara, Henny Warsilah, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menjelaskan bahwa daerah semarang adalah daerah pesisir. “Daerah pesisir adalah pertemuan antara ruang darat dan laut yang memiliki ekosistem yang sangat eksotis, adalah bakau. Nah ketika terjadi pembangunan di TTLSD tadi tentu akan menghabiskan pohon bakau. Tentu akan menjadikan daerah pesisir Semarang menjadi semakin rawan,” kata Henny.

Secara geografis juga, selain ruang pesisir, lanjut Henny, posisi Semarang berada di bawah laut. “Sehingga jika tidak dilakukan edukasi dari sekarang, beberapa tahun kemudian, (Semarang) mungkin bisa tenggelam. Karena rawa yang juga seharusnya menjadi barrier (pelindung) antara bakau dan daratan juga sudah habis dijadikan bangunan, terutama kota (Semarang) atas, seharusnya bukan daerah terbangun,” katanya.

Menurut Masnuah, infrastruktur TTLSD adalah satu penambahan beban yang sangat banyak terhadap kawasan utara Kota Semarang.

“Dia (TTLSD) akan menyebabkan amblesan semakin parah, dan pada ujungnya membuat Kota Semarang bagian utara semakin rentan dihantam banjir. Dengan demikian, kalau cara berpikir ini diikuti, infrastruktur raksasa seperti TTLSD bukannya akan menyelesaikan masalah, tapi justru berpotensi menambah masalah/krisis,”tuturnya.

Kemudian, Masnuah meminta kepada pemerintah untuk meninjau ulang proyek TTLSD. “Dengan jalan mengurai permasalahan amblesan tanah dalam konteks berbagai jenis penyebabnya, relasi amblesan tanah dengan banjir,  dan dampak pembebanan proyek TTLSD terhadap kemungkinan menimbulkan amblesan tanah yang makin parah, dan dengan demikian risiko kebanjiran yang lebih tinggi,” katanya.

Perlu diketahui, melansir dari Mongabay, TTLSD adalah jalan tol Semarang-Demak, Jawa Tengah, dari panjang sekitar 27 km, sebagian bakal terbangun di atas laut. PSN ini menelan investasi sampai lebih Rp15 triliun. Sejak awal Februari tahun lalu proyek yang mengintegrasikan jalan tol dan tanggul laut itu sudah mulai jalan.

 

Reporter: Airell, Raihan

Penulis: Airell

Editor: Ban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top