Ancaman Kepunahan Bahasa Daerah: Penyebab dan Pencegahannya

Gambar : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

“Ibune sampun linggar?”  (Ibunya Sudah Pergi?)

“Ayun ning pundi, Kang?”  (Mau Kemana, Kang?)

“Permios, geriyane Pak Juned ning pundi?” (Permisi, rumahnya Pak Juned di mana?)

Bahasa yang digunakan di atas adalah bahasa Jawa dialek Banten tingkat Bebasan (krama), yang mungkin tidak akan kita dengar lagi 30-50 tahun ke depan. Karena, menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Bahasa Jawa dialek Banten Bebasan sudah terancam punah dan akan menjadi kritis jika bahasa tersebut tidak lagi dipelihara oleh masyarakatnya. Bahasa daerah dianggap terancam punah apabila semua penuturnya berumur 20 tahun ke atas dan jumlahnya sedikit, sementara generasi tua tidak berbicara menggunakan bahasa tersebut kepada anak-anaknya atau lingkungan mereka sendiri.

Indonesia adalah negara heterogen yang memiliki beragam suku, entik, dan ras, dan karenanya Indonesia menjadi negara yang memiliki bahasa yang beragam. Badan Bahasa, melalui kegiatan Pemetaan Bahasa yang dilakukan sejak 1991, menyatakan Indonesia memiliki 718 bahasa daerah. Dengan rincian sebagai berikut:

Dari 718 bahasa daerah, Badan Bahasa baru melakukan kajian pada 94 bahasa untuk melihat daya hidup bahasa tersebut. Dalam hal ini, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mencatat 8 bahasa daerah yang sudah punah, yaitu: Bahasa Tandia (Papua Barat), Bahasa Mawes (Papua), Bahasa Kajeli (Maluku), Bahasa Piru (Maluku), Bahasa Moksela (Maluku), Bahasa Palumata (Maluku), Bahasa Hukumina (Maluku), Bahasa Hoti (Maluku). Bahasa Serua dan Nila belum punah, namun penuturnya berpindah.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengelompokan status bahasa daerah di Indonesia menjadi beberapa kategori berdasarkan penuturnya, yaitu:

  • Bahasa aman, jika bahasa tersebut masih digunakan oleh semua kalangan dalam entik tersebut.
  • Bahasa rentan, jika penutur bahasa tersebut, baik anak maupun orang dewasa, jumlahnya sedikit.
  • Bahasa mengalami kemunduran, apabila bahasa tersebut dituturkan oleh sebagian anak dan orang dewasa, sedangkan sebagiannya tidak
  • Bahasa terancam punah, jika semua penuturnya berumur 20 tahun ke atas dan jumlahnya sedikit, sementara generasi tua tidak menuturkan bahasa tersebut kepada anaknya atau kalangan mereka sendiri.
  • Bahasa disebut kritis apabila penutur bahasanya berumur 40 tahun ke atas dan jumlahnya hanya sedikit.
  • Bahasa dapat disebut punah, apabila sudah tidak ada lagi yang menggunakannya.

Pengelompokan bahasa sesuai dengan kategori di atas, bisa diakses di sini 

“Bahasa-bahasa (daerah) tersebut mulai menurun statusnya dari aman menjadi rentan, rentan menjadi mengalami kemunduran, dan seterusnya, ketika bahasa-bahasa tersebut tidak lagi dipakai, atau berkurang fungsinya sebagai alat komunikasi dalam berbagai ranah,” ujar Koordinator Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional Pelindungan Bahasa dan Sastra, Anita Astriawati Ningrum.

Fanny Henry Tondo dalam Kepunahan Bahasa-Bahasa Daerah: Faktor penyebab dan Implikasi Etnologis dalam Jurnal Masyarakat & Budaya (284-290: 2009), menyebutkan ada 10 faktor penyebab punahnya bahasa daerah. Faktor-faktor tersebut adalah:

  • Pengaruh bahasa mayoritas di lingkungan yang menggunakan bahasa daerah.
  • Kondisi masyarakat penuturnya yang bilingual atau bahkan multilingual. Penutur yang bilingual atau multilingual dapat menyebabkan tercampurnya bahasa daerah dengan beberapa bahasa yang penutur kuasai.
  • Faktor globalisasi mendorong penutur bahasa untuk dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan penutur bahasa lain yang berasal dari daerah lain atau bahkan negara lain.
  • Migrasi penduduk keluar daerah, karena alasan apapaun, dapat menyebabkan punahnya bahasa tersebut jika dia tidak menuturkannya pada keluarga atau anaknya nanti.
  • Perkawianan antar etnik juga mendorong kepunahan bahasa daerah. Karena, perkawinan antar etnik akan sulit berkomunikasi jika menggunakan daerah masing-masing, akhirnya mereka menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi.
  • Bencana alam dan musibah yang meleyapkan seluruh penutur bahasa daerah di suatu tempat.
  • Kurangnya penghargaan dan kebanggan atas bahasa daerah oleh penuturnya.
  • Kurangnya intensitas komunikasi menggunakan bahasa daerah.
  • Faktor ekonomi secara tidak langsung dapat mendorong bahasa menuju kepunahan. Banyak penutur bahasa daerah yang lebih sering menggunakan bahasa lain, misalnya bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, dalam motif tertentu, seperti pekerjaan.
  • Keberadaan bahasa Indonesia juga mendorong kepunahan bahasa daerah. Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi banyak digunakan di berbagai ranah, pendidikan, pekerjaan, acara kenegaraan, dan lain-lain.

Kepunahan bahasa daerah akan memengaruhi identitas kelompok penutur bahasa tersebut. jika bahasa daerah tersebut punah, maka jati diri dan kebudayaan kelompok penutur juga hilang. Masyarakat akan kehilangan kemampuan untuk memahami kearifan lokal dan pengetahuan tradisonal yang memiliki nilai dan manfaat tinggi untuk masa sekarang.

“Manifestasi atau bentuk kebudayaan yang paling mudah kita lihat adalah bahasanya, jika kita kehilangan suatu bahasa daerah, maka kita akan kehilangan kebudayaan tersebut,” tutur Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Sukarjo Waluyo.

Dia juga menyayangkan jika anak muda tidak tahu produk kebudayaan tradisionalnya. “Ada istilah ‘Ngunduh wohing pakarti’ dalam kebudayaan Jawa, artinya ‘memetik buah dari perbuatannya sendiri’. Kalau kita maknai, istilah ini tidak sekadar bahasa, tapi juga bentuk kekayaan budaya. Kosa kata tersebut atau ungkapan tersebut memiliki makna moral yang tinggi. Kalau orang Jawa atau anak-anak remaja tidak tahu ungkapan itu, sangat disayangkan juga.”

Anita mengatakan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menekankan penilaian daya hidup bahasa daerah pada 10 indikator:

  • Jumlah penuturnya. Jika penuturnya di atas 80%, maka itu masih aman, jika 61-80 berarti sudah rentan, dan seterusnya.
  • Kontak bahasa. Semakin banyak kontak bahasa—semakin banyak penutur tersebut bermobilisasi, baik ke luar kota atau orang kota datang ke daerah tersebut, dapat memengaruhi daya hidup bahasa tersebut.
  • Banyaknya bahasa yang dikuasai oleh seseorang, akan memengaruhi daya hidup bahasanya.
  • Dominasi masyarakat penutur. Peran penutur dalam masyarakat, apakah dia seorang pemuka agama, pejabat negara, atau pelaku ekonomi.
  • Ranah pengunaan. Merujuk pada di mana saja bahasa ini digunakan, apakah dalam pendidikan, perdagangan atau sebagai ekspresi bedaya saja.
  • Sikap penutur. Apakah penutur tersebut mau menggunakannya di semua ranah, sebagian ranah, atau hanya ranah terntentu saja.
  • Regulasi pemerintah juga memengaruhi daya hidup bahasa tersebut, ada atau tidaknya regulasi yang mendukung atau malah membatasi perkembangan bahasa daerah.
  • Pembelajaran dan pewarisan bahasa pada generasi selanjutnya. Penutur bahasa daerah menurunkan bahasa daerah baik orang tua kepada anaknya, maupun guru terhadap muridnya.
  • Ada tidaknya dokumentasi berupa teks, baik buku pelajaran, buku cerita, atau kamus dapat memengaruhi daya hidup bahasa tersebut.
  • Tantangan baru. Seberapa adaptifnya bahasa daerah tersebut terhadap tantangan baru. Seberapa jauh bahasa tersebut dapat menjawab keberadaan teknologi baru, juga media sosial.

Banyaknya keberadaan bahasa daerah di Indonesia bisa menjadi pedang bermata dua. Dengan banyaknya bahasa daerah, Indonesia menjadi kaya akan keberagaman. Namun, dengan banyaknya bahasa, di dunia yang sudah terglobalisasi, maka bahasa yang secara intens digunakan sebagai bahasa penghubung akan secara lambat laun melenyapkan bahasa yang penuturnya sedikit.

“Globalisasi ini, kan, seperti kata ilmuwan budaya barat, Juggernaut. Seperti tank raksasa yang menindas apapun. Yang kecil akan semakin kecil, yang semakin kecil akan hilang, digantikan oleh sesuatu yang mainstream, termasuk dalam konteks bahasa,” ujar dosen yang akrab dipanggil ‘Pak Karjo’ oleh mahasiswanya.

Untuk melestarikan bahasa daerah, harus ada sinergitas peran, baik dari pemerintah, masyarakat, juga akademisi kebudayaan. Pemerintah harusnya mengeluarkan regulasi untuk mendukung pelestarian bahasa daerah. Masyarkat penutur bahasa harus mencitai bahasanya sendiri—mencintai budayanya. Sedangkan akademisi kebudayaan, bisa melakukan dokumentasi dan penelitian pada bahasa-bahasa daerah yang tersebar di Indonesia.

“Dari pihak pemerintah, baik pusat dan daerah, tentu upaya-upaya pelindungan harus dilakukan. Dari membuat regulasi atau kebijakan yang mendukung pelestarian bahasa daerah sampai dengan fasilitasi. Kemudian akademisi dan peneliti juga harus sebanyak mungkin membuat kajian, penelitian, dan dokumentasi bahasa daerah yang bisa digunakan sebagai bahan untuk melakukan tindakan lanjutan terhadap bahasa daerah tersebut. Penutur ini memiliki peran yang sangat penting dalam upaya pelestarian bahasa daerah dan ujung tombak untuk mencegah penurunan status bahasa daerah sebab bahasa daerah akan tetap lestari jika masih digunakan. Jadi para penutur harus tetap memfungsikan bahasa daerah sebagaimana mestinya, baik sebagai alat komunikasi dalam ranah keluarga, sebagai ekspresi budaya, bahkan dalam ranah lain,” jelas Anita.

Reporter: Teguh, Lina

Penulis: Muhsin Sabilillah

Editor: Ban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top