Selempar Kisah dari Pos Jaga FIB

Dok.Hayamwuruk

Terik matahari tengah siang itu rasanya benar-benar menusuk ke tulang. Kesalahan saya hari ini: datang ke kampus dan mencari orang saat jam makan siang. Ketika akhirnya saya memarkirkan motor di FIB setelah sekian lama, saya menyadari bahwa FIB tak lagi sama.

Cukup lama sampai saya menyadari apa yang berbeda: bahwa Parjok (Parkiran Pojok), tempat biasa saya nongkrong sebelum dan setelah perkuliahan, kini tak lagi teduh. Pohon yang selalu berhasil menaungi panas yang menyerang mahasiswa di bawahnya, kini sudah tiada. Juga riuh yang biasanya selalu hadir, parkiran yang biasanya berantakan, atau bahkan kunci motor yang lupa dicabut, kini juga sudah sirna. FIB sudah setahun ini seperti kehilangan nyawanya. Hanya gemeresik daun dan nyanyian burung yang tersisa di pelataran FIB, atau bahkan percakapan kecil-kecilan manusia yang masih harus datang ke sana.

Saya tidak menemukan yang saya cari. Pintu lobi lantai satu ditutup, tidak ada yang boleh lewat situ. Saya mencoba lewat lobi lantai dua ketika itu, dan hanya menemukan Pak Ary yang nampaknya sedang membimbing mahasiswanya, juga beberapa mahasiswa yang sedang duduk, mungkin menunggu jam temu dengan dosen pembimbingnya.

Saya memutuskan untuk merokok dan berkeliling kampus sambil menunggu jam makan siang selesai. Daun kering terlihat terbang terbawa angin ketika saya menuruni tangga dekat kantin. Di sepanjang saluran air, tanahnya kini sudah ditanami pohon-pohon tinggi, berjajar satu sama lain. Saya tak tahu apa namanya itu, jika boleh saya tebak, itu Pohon Jati.

Di lantai bawah GSG, kini sudah dibuat jalur untuk penyandang disabilitas, pun sama dengan lantai duanya. Di gerbang depan, gapura yang mulanya nampak layu dan lesu seperti sedang sekarat, kini sudah disegarkan—seperti ruhnya ditiupkan kembali. Kantin yang sebelumnya selalu nampak ramai, kini menunjukan penampakan lain: meja dan kursi sudah tak karuan bentuknya, debu-debu di sana juga sudah berkembang biak melahap seluruh permukaan lantai.

Agenda berkeliling seketika terhenti ketika yang saya cari terlihat: satpam FIB. Pos jaga yang semula kosong kini sudah kembali dijaga. Dari kejauahan saya bisa melihat seseorang duduk di sana, sambil menonton TV. Ketika saya datangi, beliau seketika mengenakan masker yang semula tergantung di lehernya.

Setelah dipersilakan, saya duduk di kursi panjang yang terbuat dari anyaman rotan. Saya duduk tepat di belakang satpam itu, yang membuatnya harus memutar badan untuk berbicara dengan saya. Kipas angin yang menyala di sana nampaknya cukup berhasil mengusir panas dari ruangan 5 x 5 itu.

 “Lagi pandemi gini, kan, di kampus gaada mahasiswa. Bapak ngapain?” tanya saya.

“Ya, tetap kerja, kayak biasanya aja,” jawabnya.

“Gak ada kebijakan apa-apa dari kampus?”

“Enggak ada. Sama aja,” jawabnya dengan raut wajah yang datar.

“Bedanya kerja sebelum dan setelah pandemi apa?”

“Sama aja, Mas, datang jam 7, pulang jam 7 lagi.”

“Reaksi Bapak ketika diumumin kuliah online gimana?”

“Ya, biasa aja, lah, sama aja,” jawabnya sedikit mengangkat bahunya.

Zulkarnain namanya, dia bekerja di FIB Undip sejak tahun 2009. Di sela-sela obrolan kami, datang salah seorang satpam lagi, Abas namanya. Dia, yang mungkin sedikit mendengar obrolan kami, kemudian menyahut, “Di sini gak ada yang dirumahkan. Malah, yang belum PNS dikasih tunjangan dari Undip langsung, PT. UNDIP MAJU”, katanya. Setelah itu Abas permisi sebentar ke kamar mandi, yang ada tepat di belakang saya untuk wudhu dan solat. Saya dan Zulkarnain terdiam sebentar dan menatap TV yang sedang menayangkan sinetron siang itu.

Zulkarnain nampak mengetuk-ngetukan jari telunjuknya ke paha. Ketukannya sesekali mengikuti irama kipas angin yang menderit ketika menengok ke kiri dan kanan. Keheningan itu juga diwarnai oleh suara gerinda besi yang entah dari mana asalnya.

“Pandemi gini, kerja kita lebih santai, Mas. Gak perlu terlalu banyak yang dijagain, kalau dari sisi keamanan. Tapi risiko penyakit jadi lebih tinggi karena kita yang paling depan. Kita cek suhu, nanya keperluan orang yang datang, kita juga kasih hand sanitizer. Kita pas pulang juga jadi lebih was-was, langsung cuci tangan,” Zulkarnain berkata pelan, mungkin karena Abas sedang solat. Raut mukanya tak lagi datar seperti semula.

“Mahasiswa masih suka ada yang datang, keperluannya macam-macam. Ada yang admisintrasi, misalnya mau legalisir, atau juga bimbingan. Tapi kita juga harus tetap ngingetin, sekarang semuanya lewat lobby lantai 2, satu arah dari situ. Setelah urusan selesai, gak boleh ada nongkrong-nongkrong di kampus, langsung pulang,” lanjutnya.

Obrolan kami sesekali terpotong oleh orang yang datang ke pos jaga untuk menanyakan perihal apapun atau juga oleh orang lewat yang menyapa. Saya dipertontonkan bagaimana kepiawaian dan ketegasan dia ketika bekerja untuk melayani setiap orang yang datang.

Tugas jaga malamnya juga sama, dia nampak tidak kehilangan apapun. Meski sedikit merasa ada yang hilang, dia malah merasa senang dan nyaman kalau sepi. Pekerjaanya tidak banyak berubah, dia tetap duduk di pos yang dijaganya, namun tetap sesekali patroli.

Mengenai kehidupan dan suasana malam, saya membayangkan cerita-cerita horor di kampus yang beredar di internet, baik di Undip, maupun di luar Undip. Zulkarnain tetap berpegang teguh pada kedatarannya merespons:

“Saya, sih, biasa aja, gak takut, gak pernah liat langsung juga. Teman saya ada yang pernah (lihat hantu), sebagian, biasanya yang takut-takut. Biasaya mereka lihat di GSG bawah.”

Sepertinya pandemi tidak cukup mampu mengubah kehidupan satpam yang satu ini. Semuanya nampak berjalan “biasa saja” menurutnya. Namun, pengalamannya sekian tahun bersentuhan dengan mahasiswa membawa obrolan saya dengannya bergeser menjadi cerita, yang mungkin unik, tentang mahasiswa dan kehidupan di kampus.

Abas yang sudah selesai solat, beberapa kali menyimak obrolan kami, kemudian ikut menyahut, “Mahasiswa tuh, aneh, Mas. Mereka ngasih surat izin penggunaan gedung, tapi hari-h. Kita, sih, gak masalah. Yang jadi masalah kalo ruangannya itu udah ada yang mau make sebelumnya, yang udah ngasih dari jauh-jauh hari, kan kasian nanti kalo ada tamu atau pembicara yang udah dateng.”

Abas kemudian duduk di kursi panjang yang bersebrangan dengan saya, sambil mencoba mengenakan kaus kaki dan sepatunya yang tadi dilepas ketika akan solat.

“Kita pernah, Mas,” lanjut Abas yang kemudian sejenak berhenti untuk menyalakan rokoknya, “dikomplain sama Senat pas Sarasehan. Kita dikira mintain uang rokok ke mahasiswa, rokok yang mahal. Diancam gak akan naik pangkat selama 2 periode, 8 tahun,” keluhnya sembari menghembuskan asap rokok dengan sembarang. Kedua tangannya mencengkeram kedua lututnya sehingga tampak dia bersandar padanya, sambil sesekali menghisap rokoknya.

“Kita mah gak pernah minta biaya atau rokok, Mas. Jadi jangan seolah-olah kita tuh mintain rokok ke mahasiswa yang ada kegiatan, kita mah enggak! Kalo itu, sepatutnya aja, mahasiswa punya kegiatan, mikirin yang jaga, akhirnya ngasih rokok ke kita, ya kita tentu terima aja. Ibaratnya, itu tanda terima kasih dari mereka buat kita. Tapi kalau uang, kami gak nerima,” ujarnya lagi.

“Kalo ada oknum yang seperti itu, harusnya dicatat namanya, lapor ke kasubag. Jangan semua yang jaga dianggap sama,” tegasnya.

Angin panas yang berembus siang itu membawa Abas menceritakan hal yang dia sayangkan—atau sebalkan—mengenai penggunaan gedung. Dia cukup menyayangkan jika, setelah selesai mengunakan gedung langsung nyelonong pulang, tanpa permisi.

“Kalau izin (menggunakan gedung untuk) kegiatan, maksimal sampai jam 12. Tapi setelah itu harusnya lapor, jangan tiba-tiba ilang. Izin sampai jam 10, saya kontrol kesana jam 9.30 udah kosong, gak bilang apa-apa. Harusnya kan bilang, ‘Pak, sudah selesai, sudah bersih’. Kalau belum bersih, kan, kasian yang bersihin nantinya,” katanya, sambil sesekali mengangkat tangannya menunjuk-nunjuk sembarang.

Ketika saya menanyakan harapan mereka kedepannya, Zulkarnain terdiam sejenak, nampak berpikir. “Ya, biasa aja, sih, Mas. Tapi yang pasti maulah semuanya sehat, semua kayak seperti dulu lagi”.

Di tengah gempuran pandemi ini, Zulkarnain selayaknya Si Buta dari Gua Hantu yang tetap berdiri tegak diribut angin. Namun Zulkarnain tetaplah manusia, seperti saya dan Anda. Dia cukup merasakan kerinduannya pada kondisi di saat semuanya baik-baik saja, “Cukup kangen juga kuliah offline. Banyak teman, banyak kenalan. Dapet dulur baru,” kenangnya menyudahi pembicaraan kami.

Pembicaraan saya berakhir, saya pamit padanya, dengan menyisakan kenangan dan ingatan manis dan hangat FIB, soal segala sudutnya, soal segala hiruk-pikuknya.

Reporter : Muhsin Sabilillah

Penulis : Muhsin Sabilillah

Editor : Restutama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top