Josee the Tiger and the Fish: Melihat Sesuatu Melalui Sudut Pandang Seorang “Josee”

Sumber gambar: cdn.idntimes.com

Informasi Film:

Judul Film                           : Josee the Tiger and the Fish (Josee to Tora to Sakana-tachi)

Sutradara                             : Kotaro Tamura

Bahasa                                   : Bahasa Jepang

Perusahaan Produksi         : Bones

“Kau memiliki sayap yang lebih besar di dalam hatimu, dan dengan sayap itu, kau melindungiku.”

Sebuah film yang diadaptasi dari light novel dengan judul yang sama ini menceritakan mengenai dua remaja yang secara “kebetulan” bertemu. Tsuneo adalah seorang pemuda pekerja keras dan pegiat selam. Kumiko atau yang kerap disapa “Josee” adalah seorang remaja difabel semenjak lahir, dimana ia tidak dapat berjalan dan harus dibantu dengan sebuah kursi roda, yang biasanya didorong oleh neneknya. Film ini menarik karena mengangkat sudut pandang dari seorang difabel yang berjuang demi meraih impiannya dan secara tidak sengaja bertemu dengan seorang pemuda yang menjadi “pelengkapnya”. Film ini juga menyajikan grafis yang memanjakan mata, karena kebanyakan adegan yang ada di film ini menunjukkan suasana bawah laut beserta kumpulan ikan yang sangat indah. Cocok bagi kalian, penikmat pemandangan bawah laut dan melihat berbagai macam ikan.

Melihat Sesuatu dengan Sudut Pandang Seorang Josee

Seperti yang sudah disebutkan tadi, Josee atau yang bernama asli Kumiko, adalah seorang difabel yang divonis tidak dapat berjalan semenjak ia dilahirkan. Kedua orangtuanya telah meninggal dunia, sehingga kini ia dirawat oleh neneknya, Chizu Yamamura. Karena kekurangannya itu, Chizu sangat berhati-hati dan benar-benar protektif terhadap Josee. Bahkan Josee pun tidak diperbolehkan untuk keluar rumah sendiri dan ia pun jarang membawa Josee keluar rumah. Hal tersebut berimbas kepada Josee yang tumbuh tanpa tahu banyak mengenai “dunia luar”. Chizu pun beranggapan bahwa ada banyak “harimau” di dunia luar. Namun, ketika Tsuneo hadir di tengah-tengah mereka, Chizu akhirnya tersadar, bahwa mengurung Josee di dalam rumah bukanlah hal yang baik. Josee pun menyadari itu, dan akhirnya ia dan Tsuneo selalu menyelinap keluar rumah saat neneknya sedang tertidur di siang hari.

Dalam film ini juga ditunjukan bagaimana perlakuan masyarakat terhadap orang-orang penyandang disabilitas. Mereka cenderung memberikan perlakuan negatif terhadap mereka yang memiliki kekurangan. Hal ini ditunjukkan ketika awal mula film ini dimulai. Chizu mengatakan bahwa sesaat sebelum Josee melaju tak terkendali menuruni tanjakan dan akhirnya menabrak Tsuneo, ada seseorang yang mendorongnya. Selain itu, saat Josee mengunjungi stasiun untuk pertama kalinya, orang-orang menghindarinya ketika mereka melihat Josee. Tak hanya itu, bahkan ada seseorang yang dengan sengaja menabrak Josee dan malah menyalahkannya.

Hal-hal tersebut memberikan kita pandangan, betapa buruknya perlakuan dunia ini terhadap para penyandang disabilitas, bahkan tanpa kita sadari, terkadang kita tak mengacuhkan mereka dan cenderung menganggap mereka tidak ada, bukan?

Gengsi dari Sebuah Pekerjaan

Hal menarik lainnya adalah saat nenek dari Josee meninggal dunia, kerabat dari neneknya memaksa Josee untuk mencari pekerjaan yang benar-benar pekerjaan. Josee sendiri sebenarnya memiliki impian untuk menjadi seorang ilustrator, namun saat ia mengatakan hal tersebut, ia justru diremehkan dan dianggap bahwa impiannya itu konyol dan cenderung kekanak-kanakan.

Hal ini menjadi penunjuk bagi kita mengenai cerminan tuntutan hidup serta bagaimana masyarakat saat ini memandang sebuah pekerjaan. Seseorang akan dipandang berdasar pekerjaannya. Gengsi dari sebuah pekerjaanlah yang mengangkat derajat seseorang. Ya, seperti itulah tatanan yang ada dalam masyarakat kita saat ini. Pelukis, ilustrator, penulis, pengrajin, dan lain sebagainya justru dianggap remeh dan dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang. Sehingga banyak dari mereka yang menekuni bidang tersebut, membuang ambisinya dan menjadi “normal” layaknya orang-orang pada umumnya. Sama seperti yang dialami oleh Josee, dimana setelah dianggap remeh, ia akhirnya membuang impiannya sebagai seorang ilustrator.

Sayap yang Melindungi

Kehadiran sosok Tsuneo menjadi titik balik dalam kehidupan Josee dimana sebelumnya ia yang jarang keluar rumah, akhirnya bisa melihat dunia luar dengan bebasnya. Tak hanya itu, Josee yang awalnya tidak percaya diri ketika melihat orang-orang yang “berbeda” darinya, kini menjadi sosok pemberani dan pada akhirnya dia berhasil menaklukan “harimau”nya.

Selain itu, Tsuneo juga lah yang menyelamatkan Josee saat dirinya putus asa dan menyerah pada impiannya. Sosok Tsuneo yang pekerja keras, ambisius, serta pantang menyerah menyadarkan Josee untuk tidak menyerah pada impiannya dan terus berjuang hingga akhir.

Dari Jepang Untuk Meksiko

Dalam film ini diceritakan bahwa Tsuneo memiliki cita-cita untuk melanjutkan kuliahnya di Meksiko. Oleh karena itu, mau tidak mau, Tsuneo dan juga Josee harus menjalani LDR (Long Distance Relationship). Namun bedanya, kisahnya Tsuneo dan Josee bertahan, gak kaya kisahmu, ups. Anyway, meski pada awalnya Josee belum bisa menerima bahwa suatu saat nanti Tsuneo harus meninggalkannya untuk melanjutkan studi di Meksiko, namun pada akhirnya Josee berkeyakinan teguh bahwa ia tidak boleh terlalu manja dan harus bisa mandiri tanpa bantuan dari Tsuneo maupun neneknya yang sudah meninggal.

Penulis: Yuan

Editor: Restutama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top