Childfree: Keganjilan Pilihan Perempuan dan Kita yang Belum Hijrah dari Perdebatan Basi

Ilustrasi: Najwa

Istilah childfree belakangan menjadi bahan perbincangan yang menarik perhatian banyak orang. Sederhananya, childfree adalah sebuah pilihan untuk tidak memiliki anak. Childfree mencuat karena pernyataan Gita Savitri, seorang perempuan yang memilih untuk tidak memiliki anak. Di Indonesia, keputusan tersebut adalah baru dan tabu.

Hal ini terlihat dari respon masyarakat yang menolak keputusan Gita Savitri. Meski demikian, banyak dukungan datang dengan berbagai alasan, sehingga terjadi perdebatan sengit antar keduanya. Kenyataan itu seiring dengan munculnya beberapa pihak yang menuliskan pendapat di media massa maupun sosial terkait childfree. Misalnya, akun Instagram @kalismardiasih yang sempat memposting sebuah foto dengan judul caption “Bagaimana Media Memberitakan Childfree” dan netizen langsung membanjiri kolom komentar tersebut.

Jika dilihat lebih dalam, argumen masing-masing pihak: pro dan kontra mengandung nilai yang tidak kalah menarik untuk diperdebatkan. Barangkali nilai itu luput dari pandangan karena terlalu membabi buta pada kepercayaan yang dianut, sehingga menganggap kepercayaan orang lain adalah sesat. Pada tulisan ini, saya akan mencoba memaparkan bahwa fenomena childfree menunjukkan kita masih gemar memperdebatkan perkara yang sama secara berulang: keganjilan atas pilihan seorang perempuan.

Pilihan Perempuan yang Selalu Diusik

Kita tidak bisa melepaskan diri dari tuduhan, setiap pilihan perempuan selalu dipermasalahkan termasuk pilihan untuk tidak memiliki anak. Masyarakat merespon fenomena ini dengan terbagi menjadi dua kubu: pro dan kontra.

Alasan beberapa pihak menolak childfree karena menganggap kodrat perempuan adalah menjadi seorang ibu, tujuan menikah untuk memperoleh keturunan, masa tua akan kesepian karena tidak memiliki anak, dan tidak sedikit yang melibatkan agama untuk menguatkan argumennya. Alasan itu menunjukkan masyarakat masih menempatkan perempuan hanya sebatas alat reproduksi. Akibatnya, bagi perempuan yang tidak bisa hamil (mandul) atau memilih tidak mempunyai anak akan dianggap sebagai perempuan tidak sempurna.

Perdebatan tentang ini sudah berlangsung lama sebagai dampak budaya patriarki yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan. Akibatnya, dalam sebuah pernikahan suami dianggap berkuasa atas segalanya, termasuk tubuh perempuan. Jika pihak yang kontra terhadap childfree beranggapan tujuan menikah untuk memperoleh keturunan, perempuan lagi-lagi mendapat tempat menyedihkan. Ia hanya dijadikan sebagai alat pemuas seksual saja. Peran ini dijadikan sebagai alat tukar atas kekuasaan laki-laki dalam pernikahan yang menjadikan perempuan wajib untuk melayani suami.

Secara tidak langsung, istri dan anak juga berperan sebagai orang yang mengisi kembali tenaga suami yang bekerja di suatu tempat. Ketika sampai rumah dengan kondisi lelah dan suntuk akibat bekerja, mendapati di dalam rumah ada istri dan anak, seorang suami akan merasa terbayar rasa kelesuannya. Seperti baterai, istri dan anak berperan untuk memperpanjang masa aktifnya. Bila usang, perusahaan tinggal mencari baterai baru.  Sehingga dengan adanya patriarki, narasi agama yang sama akan terus berulang: istri wajib melayani suami.

Sedangkan pihak yang pro terhadap childfree beranggapan keputusan tidak memiliki anak untuk mengurangi populasi di bumi, tidak memiliki biaya untuk membesarkan anak, memiliki penyakit yang parah, atau sekedar ingin hidup berdua dengan suami. Meski demikian, bila dalam praktik hubungan tersebut sedang membutuhkan sebuah hubungan seksual (tentu dengan dialog terbuka diantara keduanya), dengan kesadaran penuh atas childfree, bagaimana caranya mereka mengendalikan kehamilan? Ketika pasutri sepakat untuk childfree, mereka harus mengupayakan berbagai cara untuk mencegah kehamilan.

Dengan demikian, mereka perlu berkonsultasi ke dokter untuk mengatasi masalah tersebut. Jika kesulitan keuangan menjadi alasan untuk seseorang memilih childfree, bagaimana dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mencegah kehamilan? Saya ambil contoh begini, biaya sterilisasi (kontrasepsi permanen perempuan yang bertujuan untuk tidak memiliki anak) kisaran 6 juta-10 juta dan belum termasuk biaya tambahan dan penanganan efek samping. Selain itu, berkaitan dengan peran anak sebagai orang yang mengisi tenaga kembali selepas bekerja, orang yang tidak memiliki anak bisa jadi akan memilih jalan-jalan romantis berdua dengan istri untuk melepas penat yang tentu akan menghabiskan uang juga. Oleh karenanya, keputusan childfree juga memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Begitu pula jika kebetulan pasutri tersebut keduanya merupakan pekerja (berlaku juga untuk pasutri yang memiliki anak). Kemudian mereka menyerahkan urusan rumah tangga kepada ART (asisten rumah tangga) dengan identitas perempuan, artinya patriarki masih berjalan sebab ada perempuan yang keluar rumah untuk melakukan urusan rumah tangga orang lain. Sedangkan jika alasan childfree karena pihak perempuan memiliki suatu  penyakit, apakah suami benar-benar ikhlas untuk childfree?

Hal yang perlu diperjelas juga apakah pilihan untuk tidak memiliki anak permanen atau sementara. Jika bersifat sementara ini artinya bergantung dengan kondisi perempuan. Bila kondisi perempuan membaik, ada kemungkinan untuk memiliki anak, lalu pihak suami menuntut untuk memperbanyak anak. Dengan keadaan seperti itu, perempuan masih ditempatkan sebagai mesin yang memproduksi anak.

Kita yang Bergumul Dengan Perdebatan Basi

Sekali lagi, disadari atau tidak, perempuan masih berada pada posisi nomor dua. Budaya patriarki masih menempel pada celah-celah keegoisan manusia. Seolah perempuan masih hidup dalam kurungan besi. Setiap pilihan yang diambil oleh perempuan (dianggap) berhak diperdebatkan oleh siapapun. Tetapi, bagaimana jika hal-hal yang kita perdebatkan justru membuat kita hanya jalan di tempat?

Dari paparan saya di atas, baik pihak yang pro maupun kontra terhadap childfree, keduanya memperdebatkan pilihan seorang perempuan yang sebenarnya mengarah pada hal yang sama: budaya patriarki. Kita tidak perlu melanjutkan keributan ini hanya untuk menunjukkan pihak yang paling benar dan yang lain sesat. Justru keputusan yang bisa kita ambil sekarang adalah dengan membiarkan perempuan memilih hidupnya sendiri tanpa utang penjelasan kepada siapapun.

Penulis: Farijihan Putri
Editor: Aa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top