Berolahraga ketika Pandemi

Sumber Gambar : Instagram ukmfolahragafib_undip

Mengusung tema “Integration Sport in The New Normal”, Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Olahraga Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (UKMF Olahraga FIB Undip) mengadakan webinar keolahragaan pada Sabtu (06/11/2021). Acara yang berlangsung secara virtual ini membahas bagaimana berolahraga selama pandemi.

Adinda Karina, mahasiswi Teknik Geodesi angkatan 2019 ini mengingatkan pentingnya tetap produktif dan berolahraga selama pandemi. Olahraga dapat menurunkan risiko kesehatan akibat perilaku tidak aktif (sendetary), seperti duduk di depan komputer atau merebahkan diri di kasur dengan durasi yang sangat lama.

“Karena otot besar seperti otot punggung dan paha tidak digunakan yang menyebabkan penurunan absorpsi lemak di sel tubuh. Lalu kadar darah dan kolesterol jadi tinggi. Sehingga meningkatkan risiko kesehatan kita,” kata Adinda.

Guna mencegah hal tersebut, berolahraga atau sekedar beraktivitas fisik seperti menyapu, menyuci, dan berjalan perlu dilakukan paling tidak satu jam per hari. Aktivitas itu bisa dilakukan di sela-sela kesibukan kita.

Ia juga menjelaskan bahwa aktifitas fisik yang dilakukan harus sesuai dengan kapasitas diri masing-masing. Misalnya, seseorang dengan penyakit jantung tidak dianjurkan melakukan aktivitas fisik yang berat seperti olahraga dengan durasi berjam-jam.

“Bukan tentang tidak boleh olahraga, tapi olahraga apa yang direkomendasikan kepada teman-teman,” lanjut Adinda, yang juga meraih medali perunggu PON XX Papua 2021.

Selain olahraga konvensional seperti di atas, ragam olahraga lain yang bisa kita lakukan ketika pandemi adalah olahraga elektronik atau lazim dikenal sebagai electronic sport (esport). Jenis olahraga ini membutuhkan perangkat speerti konsol, handphone, komputer, ataupun laptop  untuk melakukannya.

“Nah yang termasuk esport itu adalah gim multiplayer online kompetitif berbasis tim atau individu,” ujar Toga Parulian, mahasiswa Ilmu Kelautan angkatan 2018.

Atlet Valorant Diponegoro Esport Community ini menjelaskan disamping gim seperti Mobile Legend, PUBG, dan Valorant, variasi lain dari esport berupa virtual reality. Dalam virtual reality, gerakan fisik tubuh dimasukkan ke dalam karakter gim tersebut dan banyak menggunakan kinerja otak dibanding otot.

Esport sendiri mempunyai tingkat sosial yang tinggi karena bertemu dari jarak jauh dan orang yang tidak dikenal sebelumnya. Namun radiasi mata dan rasa kecanduan menjadi hal yang perlu diperhatikan.

“Bisa mengganggu pola hidup di masa sekarang apalagi pandemi,” pungkasnya

 

Reporter: Aan

Penulis: Aan

Editor: Aa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top